Jakarta, Armadaberita.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional mendorong percepatan hilirisasi teknologi flare untuk modifikasi cuaca melalui penguatan regulasi dan sinergi lintas lembaga. Langkah ini dinilai penting agar pemanfaatan teknologi tersebut tidak lagi terhambat di level kebijakan dan infrastruktur.
Dalam pembahasan terbaru, berbagai kendala diungkap, mulai dari regulasi yang kompleks hingga sistem penyimpanan material yang terlalu ketat. Hal ini membuat ratusan flare jenis CoSAT dan ribuan tipe lainnya belum dapat dimanfaatkan secara optimal, meskipun stok tersedia cukup besar.
Perwakilan Deputi Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Ade Purwanto, menyebutkan bahwa hambatan utama terletak pada akses penyimpanan yang terbatas, sehingga menghambat kegiatan riset dan implementasi di lapangan.
“Sampai sekarang ratusan flare CoSAT dan ribuan tipe lainnya mangkrak, tidak bisa digunakan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Kebijakan Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan BRIN, Dudi Hidayat, menekankan pentingnya penyelarasan regulasi antarinstansi sebagai solusi strategis. Menurutnya, koordinasi yang lebih terstruktur diperlukan untuk mengatasi kendala perizinan dan pengawasan yang selama ini menjadi hambatan utama.
Ia menegaskan bahwa sinergi lintas kementerian dan lembaga menjadi kunci dalam mempercepat implementasi teknologi di lapangan, khususnya dalam mendukung kegiatan modifikasi cuaca.
Dalam pembahasan tersebut, turut hadir tim dari PT Pindad (Persero) sebagai mitra industri. Kolaborasi antara riset, industri, dan pemerintah diharapkan mampu mempercepat pemanfaatan teknologi flare secara optimal.
Melalui langkah ini, BRIN berharap teknologi modifikasi cuaca dapat segera dimanfaatkan secara luas untuk mendukung mitigasi bencana, seperti pengendalian curah hujan, serta memperkuat ketahanan lingkungan nasional.











