Jakarta, Armadaberita.com – Komoditas yang selama ini kerap dipandang sebelah mata ternyata menyimpan potensi besar bagi masa depan pangan Indonesia. Badan Riset dan Inovasi Nasional menilai ubi kayu bisa menjadi solusi strategis untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dalam orasi ilmiahnya, Robert Asnawi mengungkapkan bahwa pemanfaatan ubi kayu di Indonesia masih jauh dari optimal. Lebih dari 80 persen hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah, sehingga nilai tambah yang diterima petani sangat terbatas.
Padahal, potensi produktivitas tanaman ini cukup tinggi. Saat ini, rata-rata produksi hanya sekitar 26 ton per hektare, sementara potensi maksimalnya bisa mencapai 50 hingga 60 ton per hektare. Kondisi ini menunjukkan masih besarnya ruang peningkatan melalui inovasi dan teknologi.
Selain itu, lemahnya posisi tawar petani dan belum kuatnya kemitraan dengan industri pengolahan menjadi tantangan utama. Harga ubi kayu di tingkat petani cenderung rendah dan fluktuatif, sehingga berdampak langsung pada kesejahteraan mereka.
Di sisi lain, tren konsumsi masyarakat mulai bergeser. Kebutuhan terhadap pangan alternatif meningkat seiring menurunnya ketergantungan pada beras. Dalam konteks ini, ubi kayu dinilai memiliki peluang besar sebagai substitusi pangan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan transformasi menyeluruh, mulai dari peningkatan produktivitas melalui teknologi budidaya, penerapan sistem tanam yang lebih efisien, hingga penguatan kemitraan antara petani dan industri.
Model kemitraan inklusif menjadi kunci. Industri diharapkan tidak hanya berperan sebagai pembeli, tetapi juga terlibat dalam penyediaan bibit, pendampingan teknis, hingga akses pasar. Dukungan pemerintah daerah, lembaga riset, dan perguruan tinggi juga menjadi faktor penting dalam mendorong perubahan ini.
Ke depan, pengembangan ubi kayu diarahkan pada hilirisasi produk agar memiliki nilai tambah lebih tinggi, sekaligus memperkuat sistem distribusi dan kelembagaan petani. Dengan langkah tersebut, ubi kayu berpotensi menjadi komoditas strategis yang tidak hanya menopang kebutuhan pangan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.











