BelawanArmadaBerita.com – Arus peti kemas yang ditangani PT Prima Multi Terminal (PMT) di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mencapai 535.494 twenty-foot equivalent units (TEUs) hingga September 2026.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang aktivitas distribusi domestik serta peningkatan ekspor komoditas dan produk hasil hilirisasi dari sejumlah kawasan industri di Sumatera. Di tengah tantangan ekonomi global dan perlambatan perdagangan internasional, kinerja ini menunjukkan masih berlangsungnya aktivitas
logistik di wilayah tersebut. Kenaikan paling tinggi tercatat pada layanan peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung. Hingga September 2026, volumenya mencapai 32.785 TEUs atau meningkat 255 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara keseluruhan, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal tersebut mencapai 57.455 TEUs, tumbuh 12 persen secara tahunan. Selain peti kemas, layanan barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga mengalami peningkatan.
Volume barang yang ditangani hingga September 2026 mencapai 867.821 ton, naik 122
persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut mencerminkan bertambahnya distribusi komoditas curah dan kebutuhan industri dari kawasan hinterland Sumatera melalui pelabuhan. Direktur Utama PT Prima Multi Terminal, Rudi Susanto, mengatakan bahwa kinerja arus barang hingga
September 2026 menjadi salah satu indikator aktivitas distribusi dan kebutuhan logistik di Sumatera.
“Pertumbuhan arus barang ini menunjukkan bahwa kebutuhan distribusi masih menjadi penopang penting bagi kegiatan kepelabuhanan. Kami melihat peluang untuk terus meningkatkan kualitas layanan, sejalan dengan perkembangan aktivitas industri dan perdagangan di Sumatera,” ujar Rudi.
Meski demikian, industri kepelabuhanan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan
jaringan pelayaran internasional, pergeseran rantai pasok global, hingga dinamika geopolitik. Kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya logistik dan waktu pengiriman barang. Karena itu, efisiensi operasional menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya saing pelabuhan sekaligus
memastikan kelancaran arus barang. PMT mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) diterminal Belawan mencapai 85,18 persen.
Sementara itu, rasio ET/BT di Terminal Kuala Tanjung tercatat 71,47 persen untuk layanan internasional dan 66,88 persen untuk layanan domestik. Untuk menjaga kinerja operasional, perusahaan melakukan optimalisasi melalui peningkatan utilisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, serta penguatan koordinasi dengan
pengguna jasa dan antar terminal.
Di sisi lain, aspek keselamatan kerja juga menjadi perhatian perusahaan. PMT terus memperkuat penerapan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) melalui inspeksi berkala, standardisasi
peralatan operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja. Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan target nihil kecelakaan kerja.
Kamal mengatakan, keandalan layanan pelabuhan perlu berjalan seiring dengan efisiensi operasional agar dapat mendukung kebutuhan pelaku usaha dalam mendistribusikan barang. “Pelabuhan merupakan bagian penting dari rantai pasok yang memengaruhi efisiensi industri.
Karena itu, keandalan dan efisiensi layanan perlu terus ditingkatkan agar distribusi barang berjalan lancar dan
pelaku usaha dapat memperkuat daya saing produknya,” kata Rudi.
Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Posisi geografis tersebut menjadikan keduanya memiliki peran strategis sebagai simpul logistik di wilayah
barat Indonesia.
Kedepan, pengembangan layanan kepelabuhanan juga berkaitan dengan pertumbuhan kawasan industri dan keberlanjutan program hilirisasi di Sumatera. Perkembangan kedua sektor tersebut diperkirakan turut meningkatkan kebutuhan terhadap layanan logistik dan kepelabuhanan di kawasan
itu. (Ril)











