ArmadaBerita.Com — Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai pasar keuangan global merespons positif potensi de-eskalasi konflik geopolitik setelah muncul sinyal kemungkinan pembicaraan langsung antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut Gunawan, sentimen tersebut mendorong penurunan harga minyak mentah dunia sekaligus memperkuat mata uang di kawasan Asia, termasuk rupiah, serta mengangkat harga emas.
“Pasar melihat adanya peluang meredanya ketegangan geopolitik, sehingga premi risiko pada harga energi mulai berkurang. Dampaknya, harga minyak mentah kembali turun dan aset berisiko di kawasan Asia bergerak menguat,” kata Gunawan kepada wartawan, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, harga minyak mentah jenis WTI diperdagangkan di kisaran 87 dollar AS per barel, sementara Brent berada di sekitar 97 dollar AS per barel. Penurunan harga minyak tersebut, kata Arvin, turut menjadi katalis positif bagi bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini.
Meski demikian, Gunawan mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka melemah di level 7.084 setelah menyesuaikan pergerakan dengan bursa regional usai libur panjang Nyepi dan Idul Fitri. “Namun tekanan itu tidak berlangsung lama. IHSG sempat berbalik ke zona hijau seiring membaiknya sentimen global,” katanya.
Gunawan juga menyoroti penguatan nilai tukar rupiah yang bergerak ke level Rp16.910 per dollar AS. Menurutnya, penguatan tersebut mencerminkan meredanya kekhawatiran pasar terhadap dampak konflik terhadap stabilitas eksternal Indonesia. “Sebelumnya ada kekhawatiran pelemahan rupiah akibat eskalasi konflik selama periode libur panjang. Tapi dengan adanya sinyal de-eskalasi, tekanan itu berkurang,” ujarnya.
Di sisi lain, Gunawan mengatakan harga emas dunia turut menguat ke kisaran 4.590 dollar AS per ons troy atau sekitar Rp2,4 juta per gram. Ia menilai kenaikan harga emas tetap terjadi karena investor masih menjaga posisi lindung nilai di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya hilang.
Lebih lanjut, Gunawan menilai penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat membuka ruang bagi bank sentral untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga pada 2026. “Jika harga energi terus stabil atau menurun, tekanan inflasi akan berkurang dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter bisa kembali menguat,” pungkas Gunawan.











