Daerah  

Mangulame & Marsialapari: Tradisi Lebaran yang Sarat Makna

Share

ARMADABERITA.COM | Tabagsel – Menjelang Lebaran, suasana di wilayah Tabagsel terasa lebih hangat dengan tradisi mangulame atau membuat dodol. Bagi masyarakat setempat, mangulame bukan sekadar memasak, tapi juga simbol kebersamaan dan persaudaraan yang telah diwariskan turun-temurun.

Di berbagai desa, terutama di wilayah pedesaan yang masih menjaga kearifan lokal, warga berkumpul di halaman rumah, bahu-membahu mengaduk adonan dodol dalam kuali raksasa. Para ibu menyiapkan bahan seperti gula merah dan tepung beras, sementara bapak-bapak dan anak muda bertugas menyiapkan tungku, kayu bakar, serta alat memasak lainnya.

Seri Harahap (45), warga Desa Gunungtua, Kecamatan Padang Bolak, mengatakan bahwa tradisi ini lebih dari sekadar membuat dodol, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi dalam filosofi dalihan na tolu (tiga pilar utama dalam adat Batak Angkola-Mandailing).

“Kalau tidak kita, siapa lagi yang melestarikan? Tradisi ini penting untuk dipertahankan, karena selain memperkuat hubungan keluarga, juga bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda,” ujarnya.

Membuat dodol bukan perkara mudah. Prosesnya memakan waktu berjam-jam dengan pengadukan yang harus dilakukan secara terus-menerus agar dodol tidak gosong. Dibutuhkan tenaga, kesabaran, dan tentu saja semangat gotong royong agar semuanya berjalan lancar.

Tak hanya mangulame, tradisi marsialapari—saling membantu tetangga dalam berbagai pekerjaan menjelang Lebaran—juga masih lestari di masyarakat Tabagsel. Warga yang sudah selesai membuat dodol akan membantu keluarga atau tetangga lain yang masih berproses, menunjukkan betapa eratnya persaudaraan di daerah ini.

Tokoh masyarakat Paluta, Tongku Banua Sadesa Harahap, berharap agar tradisi ini bisa terus dilestarikan dan bahkan dikembangkan menjadi bagian dari wisata budaya di Tabagsel.

“Kalau bisa, ini menjadi agenda tahunan yang diperkenalkan ke wisatawan. Selain mempertahankan budaya, juga bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi daerah kita,” katanya.

Di tengah arus modernisasi, mangulame dan marsialapari adalah bukti bahwa kebersamaan tetap menjadi nilai utama dalam kehidupan masyarakat Tabagsel. Tradisi ini tidak hanya menghangatkan suasana Lebaran, tetapi juga menjaga warisan budaya agar tetap hidup untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *