Daerah  

Kawasan Perikanan Sumut Mulai Dipetakan, Pengembangan Didorong dari Hulu hingga Hilir

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) menyampaikan pemaparan pada temu pers yang digelar di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur Sumut, Medan, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Kamis (17/9/2026). Foto: Arvin Nasution
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Pengembangan kawasan unggulan perikanan Sumatera Utara (Sumut) mulai diarahkan lebih terukur dengan pemetaan potensi dan produksi di setiap wilayah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumut bersama Universitas Sumatera Utara (USU) telah menyusun master plan pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap dan budidaya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari pengembangan kawasan perikanan secara terintegrasi, mulai dari penyediaan kebutuhan nelayan hingga hilirisasi dan pengolahan hasil perikanan.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap DKP Sumut Jenny Masniari Sinaga mengatakan, pada 2026 pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap diprioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur Sumut. Sementara Kepulauan Nias direncanakan menjadi sasaran pengembangan pada 2027.

“Tahun 2026 ini untuk pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap kita prioritaskan di wilayah pantai barat dan pantai timur dan tahun 2027 kita kembangkan di kepulauan Nias,” ungkap Jenny dalam konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut di lobi Dekranasda, Kantor Gubernur Sumut, Kamis (17/9/2026).

Pemetaan kawasan tersebut tidak dilakukan tanpa dasar. DKP Sumut menggunakan data potensi dan produksi perikanan masing-masing daerah sebagai salah satu dasar penentuan lokasi.

Data DKP Sumut mencatat total produksi perikanan Sumut pada 2025 mencapai 382.127,77 ton. Sementara target produksi 2026 sebesar 383.036,91 ton, dengan capaian hingga triwulan II 2026 mencapai 200.931,45 ton.

Sejumlah daerah yang mencatat produksi perikanan tinggi pada 2025 di antaranya Tapanuli Tengah (Tapteng), Batubara, Asahan, dan Tanjungbalai.

“Data produksi ikan inilah yang menjadi dasar kami untuk memilih penentuan lokasi sebagai kawasan unggulan yang konsepnya dibangun dari hulu ke hilir, dimana nelayan kita berikan alat tangkap dan bantuan lain yang dibutuhkan dan nanti dibantu hilirisasinya hingga pengolahan,” terang Jenny.

Untuk wilayah pengelolaan perikanan 572, kawasan yang masuk dalam pengembangan meliputi Kepulauan Nias, yakni Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan, dan Kota Gunungsitoli. Sementara wilayah pantai barat meliputi Sibolga, Tapteng, Tapanuli Selatan (Tapsel), dan Mandailing Natal (Madina).

Wilayah tersebut memiliki potensi sejumlah komoditas perikanan, antara lain cakalang, tongkol, tenggiri, tuna sirip kuning, kembung, layang, selar kuning, tembang, kuwe, dan bawal.

Adapun wilayah pengelolaan perikanan 571 mencakup kawasan pantai timur, yakni Langkat, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Tanjungbalai, Asahan, Labuhanbatu, dan Labuhanbatu Utara.

Komoditas yang menjadi potensi utama di wilayah tersebut antara lain kembung, tembang, kerang darah, tetengkek, senangin, cumi-cumi, tenggiri, lencam pasir mata besar, udang jerbung, dan layang benggol.

Pengembangan kawasan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi. Menurut Jenny, program tersebut juga mencakup peningkatan kesejahteraan nelayan, menjaga keberlanjutan ekosistem laut, dan memperkuat rantai usaha perikanan.

Salah satu bentuk penguatan hilirisasi yang masuk dalam master plan adalah pengembangan kawasan unggulan pengolahan ikan asin di Sibolga, Asahan, Batubara, dan Tanjungbalai. “Kita harapkan potensi ikan yang berlebih di daerah ini bisa diolah menjadi ikan asin,” kata Jenny.

Pengembangan kawasan unggulan perikanan tangkap juga terintegrasi dengan program Kampung Nelayan Merah Putih.

Pada 2025, program tersebut telah dibangun di empat wilayah, yakni Langkat, Serdang Bedagai, Asahan, dan Batubara. Sementara pada 2026, pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih di Sumut direncanakan mencakup 11 wilayah di pantai timur dan 18 wilayah di pantai barat.

Pengembangan kawasan unggulan tidak hanya menyasar perikanan tangkap. DKP Sumut juga mendorong pengembangan perikanan budidaya yang dinilai memiliki potensi besar.

Kepala Bidang Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Hasil Perikanan DKP Sumut Muhammad Riza Kurnia Lubis mengatakan salah satu komoditas yang banyak diminati adalah udang vaname yang hingga kini masih menjadi komoditas ekspor.

Selain itu, Pemprov Sumut juga memberikan perhatian terhadap pengembangan rumput laut yang memiliki peluang pasar ekspor. “Ada juga beberapa komoditas lain yang menjadi konsern Sumut seperti tahun ini kita prioritaskan rumput laut juga diminati pasar ekspor,” kata Riza.

Dengan demikian, pengembangan kawasan perikanan Sumut dalam master plan tersebut mencakup kawasan tangkap dan budidaya, dengan penguatan mulai dari hulu hingga hilir sesuai potensi masing-masing wilayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *