Covid-19 telah menjadi monster kita bersama. Ancaman bahayanya benar-benar dirasakan tak hanya tua muda, kaya miskin, rakyat ataupun pemerintah. Indonesia pun terkena imbasnya. Wabah yang menjadi pandemi global tersebut nampaknya bukan hanya menjadikan setiap negara yang ditimbulkan dari dampaknya akan krisis kesehatan namun juga krisis ekonomi.
Indonesia misalnya, seluruh aktivitas manusia mengalami ganguan dan harus terima pada keadaan, kegiatan keagamaan terhenti, sosial terhenti, budaya terhenti, dan tentu saja kegiatan perekonomian pun ikut terhenti. Semua berubah menjadi sistem daring, belajar dari rumah, bekerja dari rumah hingga beribadah dari rumah.
Terlalu banyak kemelut yang terjadi lantaran kehadiran Covid-19 ini, seperti peningkatan jumlah penduduk miskin akibat pandemi Covid-19 sudah bisa diprediksi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) ketika mengumumkan angka penduduk miskin di Indonesia per Maret 2020, jumlahnya sudah mencapai 26,42 juta jiwa, naik 1,63 juta jiwa dari kondisi pada September 2019.
Meskipun masih dalam hitungan kurang dari dua digit, melansir dari tempo.co tingkat kemiskinan sebesar 9,78 persen dari total populasi ini tentu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Bukan tidak mungkin jika pendataan BPS dilakukan hingga Agustus, maka jumlah penduduk miskin akan jauh lebih membludak. Jika tidak ada upaya yang benar-benar efektif dan signifikan. Pada September 2020, BPS niscaya akan mengumumkan angka kemiskinan yang melonjak drastis.
Menurut prediksi bank dunia, data penduduk miskin di negeri ini tidak ada jaminan tidak akan menyentuh angka 34 juta jiwa karena peluang untuk keluar dari pandemi Covid-19 seolah-olah menemui jalan buntu. Upaya menurunkan angka kemiskinan seolah-olah sia-sia ketika imbas Covid-19 tak kunjung usai.
Belum lagi menurut catatan Kepala BPS, komponen ekspor dan impor mengalami penurunan yang cukup tajam pada kuartal kedua tahun 2020. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini pun telah memasuki zona negatif pada triwulan kedua sebesar 5,32 persen. Hal itu bisa saja penyumbang terjadinya resesi ekonomi yang menjadi perbincangan hangat seantero publik.
Indonesia benar-benar merasakan kemelut ekonomi akibat Covid-19, pemerintah tengah kocar-kacir menyelamatkan bumi ibu pertiwi belum lagi tuntutan rakyat, begitu pun rakyat merasakan kegetiran hidup karena pandemi ini sebab perekonomian serba susah.
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah masih terus berupaya semaksimalnya agar perekonomian pada kuartal ketiga tumbuh 0 persen atau positif sehingga Indonesia terhindar dari resesi teknis. Walaupun banyak tudingan mengancam yang Indonesia diambang batas resesi, tokoh yang mengakomodir ekonomi Indonesia tersebut masih optimis dengan mengatakan Indonesia belum terkena resesi ekonomi meski pada kuartal kedua negatif secara tahunan.
Tentunya pemerintah Jokowi-Maruf menyadari betul perlu penanganan serius untuk mengatasi krisis kesehatan dan ekonomi yang disebabkan pandemi Covid-19. Oleh karenanya prioritas Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2020 digelontorkan untuk mendukung penangangan pandmei global ini.
Semua tak ada yang menginginkan Covid-19 ada bahkan berlama-lama menghantam segala aspek kehidupan, mari bersama kita doakan semoga dunia dan seisinya bisa pulih dari ancaman wabah ini, agar semuanya bisa kembali sesuai kendali awal. Kita mesti tanamkan rasa optimise baik rakyat maupun pemerintah bahwa Indonesia bisa melewati krisis atau kemelut ekonomi di tengah pandemi Covid-19.
Penulis adalah Mahasiswa jurusan Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sumatera Utara stambuk 2017 yang kini tengah menjalani masa pengabdian masyarakat dalam kelompok KKN 168.











