Rico Waas: Jangan Wariskan Cerita Sedih tentang Lingkungan untuk Anak Cucu

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, saat memberikan sambutan pada Forum Lingkungan Hidup dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI 2026 di Hotel Grand Lotus Aryaduta, Medan, Selasa (30/6). Ist
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Pembangunan kota tidak boleh hanya diukur dari menjulangnya gedung, bertumbuhnya investasi, atau meningkatnya aktivitas ekonomi. Di balik ambisi itu, pemerintah daerah dituntut memastikan lingkungan hidup tetap terjaga agar menjadi warisan yang layak bagi generasi berikutnya.

Pesan tersebut menjadi benang merah yang disampaikan Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, saat membuka Forum Lingkungan Hidup dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026 di Hotel Grand Lotus Aryaduta, Medan, Selasa (30/6).

Di hadapan para wali kota, kepala dinas lingkungan hidup, hingga pegiat lingkungan dari berbagai daerah, Rico menegaskan bahwa menjaga kelestarian lingkungan bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat utama agar pembangunan kota dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Jangan wariskan cerita sedih untuk anak cucu kita,” ujar Rico.

Kalimat tersebut bukan lahir dari pidatonya sendiri. Rico secara terbuka mengutip pesan yang disampaikan pegiat lingkungan sekaligus penerima Kalpataru Nasional, Wibi Nugroho, yang videonya ditayangkan pada layar utama forum sebelum acara dimulai.

Usai mengutip kalimat itu, Rico bahkan meminta Wibi yang berada di antara tamu undangan untuk berdiri.

“Mana Bang Wibi? Apakah hadir? Mohon berdiri,” kata Rico, sebelum memberikan penghormatan kepada Wibi yang kemudian disambut tepuk tangan seluruh peserta forum.

Bagi Wibi, momen itu menjadi pengalaman yang tidak disangka.

Ia mengaku datang tanpa mengenakan atribut sebagai pegiat lingkungan maupun rompi Kalpataru yang biasa melekat pada dirinya. Wibi memilih hadir sederhana, mengenakan kemeja bermotif dedaunan, celana jins hitam, dan sepatu biasa.

“Saya jujur malu karena akhirnya banyak orang tahu diri saya. Saya datang tidak memakai baju identitas pegiat lingkungan atau rompi Kalpataru,” ujarnya usai acara.

Dokumentasi, Wibi Nugroho saat berada di lokasi budidaya Mangrove. (Ist)Menurut Rico, pesan sederhana yang disampaikan Wibi seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh kepala daerah dalam merumuskan arah pembangunan.

Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi, hingga promosi daerah memang penting. Namun seluruh capaian tersebut akan kehilangan makna apabila lingkungan hidup justru mengalami kerusakan.

“Tidak akan ada kota yang bisa sustainable apabila lingkungan hidupnya tidak terjaga,” tegasnya.

Karena itu, setiap kepala daerah dituntut meninggalkan legacy yang tidak hanya terlihat pada masa kepemimpinannya, tetapi juga dapat dinikmati oleh generasi mendatang melalui kota yang lebih sehat dan layak huni.

Rico berharap Forum Lingkungan Hidup menjadi ruang berbagi pengalaman antarkota mengenai berbagai inovasi dan praktik terbaik dalam menjaga lingkungan.

“Medan butuh belajar dengan kota lain, kota lain mungkin perlu belajar dengan Kota Medan. Kita sama-sama berbagi success story agar kota-kota kita semakin hijau dan berkelanjutan,” katanya.

Dalam kesempatan itu Rico juga memaparkan tantangan yang dihadapi Kota Medan dalam mengelola sampah. Setiap hari kota ini menghasilkan sekitar 1.500 hingga 1.700 ton sampah. Angka tersebut dipengaruhi jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa yang pada siang hari meningkat menjadi sekitar 4 juta orang karena Medan menjadi pusat aktivitas ekonomi kawasan.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kota Medan tengah menyiapkan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Medan menjadi salah satu daerah yang ditunjuk sebagai pionir proyek tersebut dan pembangunannya ditargetkan mulai berjalan pada akhir tahun ini.

Meski demikian, Rico menilai solusi persoalan sampah tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Pengurangan volume sampah sejak dari sumbernya tetap menjadi langkah paling penting agar kualitas lingkungan dapat terus terjaga.

Mengusung tema “Dari Komitmen ke Aksi: Tangguh untuk Mempercepat Penurunan Emisi di Indonesia”, Rico mengingatkan agar forum tersebut tidak berhenti sebagai ruang diskusi.

“Kita pulang ke kota masing-masing harus membawa aksi nyata. Jangan hanya berbicara di ruang ini, tetapi wujudkan komitmen itu menjadi program yang benar-benar dirasakan masyarakat,” pesannya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim APEKSI, Illiza Sa’aduddin Djamal, menilai tema forum sangat relevan dengan kondisi saat ini ketika dampak perubahan iklim semakin nyata dirasakan di berbagai daerah, mulai dari banjir, kekeringan, cuaca ekstrem, gelombang panas, hingga abrasi pantai.

Ia menegaskan kota-kota di Indonesia harus menjadi pelaku utama dalam menghadapi krisis iklim melalui kebijakan yang konkret. Menurutnya, persoalan sampah juga menjadi tantangan besar yang harus segera diselesaikan.

“Kota yang bersih bukanlah kota yang rajin dibersihkan, melainkan kota yang mampu mengendalikan sumber sampahnya melalui perubahan perilaku masyarakat, pemilahan sampah, serta optimalisasi bank sampah,” ungkapnya.

Di sela kegiatan, Wibi juga berbagi pengalaman mengenai pendekatan yang selama ini digunakannya dalam menggerakkan masyarakat menjaga lingkungan.

Saat berbincang dengan salah seorang staf dinas lingkungan hidup dari Padangsidimpuan, Wibi ditanya bagaimana cara mengajak masyarakat peduli terhadap lingkungan.

Jawabannya sederhana.

“Pertama, jujur pada diri sendiri dan jangan merasa lebih hebat atau lebih pintar dari orang lain. Yang paling penting, berbicaralah kepada masyarakat dengan bahasa yang sederhana agar mereka cepat paham.”

Menurutnya, komunikasi menjadi kunci perubahan perilaku.

“Kalau bicara sampah, ya katakan sampah, jangan pakai istilah waste. Kalau berkelanjutan, ya bilang berkelanjutan, jangan memakai istilah sustainable. Sesederhana itu,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *