AI Ancam Geser Pekerjaan, Indonesia Dorong Aliansi Asia Pasifik Siapkan SDM Masa Depan

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli dalam Asia Pacific Group Ministerial Meeting.
Share

Jenewa, ArmadaBerita.Com –  Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan disrupsi teknologi kian mengubah lanskap pasar kerja global. Menghadapi ancaman pergeseran jutaan pekerjaan, Indonesia mengajak negara-negara Asia Pasifik memperkuat kerja sama pengembangan keterampilan tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri masa depan.

Ajakan tersebut disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli dalam Asia Pacific Group Ministerial Meeting yang menjadi bagian dari Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss.

Menurut Yassierli, tantangan ketenagakerjaan di kawasan Asia Pasifik tidak lagi sebatas persoalan pengangguran. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat, meningkatnya pekerjaan informal, hingga penetrasi AI yang berpotensi menggantikan sejumlah jenis pekerjaan menuntut respons kebijakan yang lebih terintegrasi.

“Indonesia percaya kerja sama antarnegara semakin penting. Tantangan ketenagakerjaan tidak bisa dihadapi sendiri. Kekuatan kita ada pada kemauan untuk saling berbagi praktik baik dan saling belajar,” ujar Yassierli, Selasa (9/6).

Ia menilai setiap negara perlu mempercepat transformasi sistem pengembangan sumber daya manusia agar tenaga kerja memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri yang terus berubah. Pada saat yang sama, perlindungan terhadap pekerja harus tetap menjadi prioritas agar tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses transformasi tersebut.

Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pengembangan keterampilan menjadi salah satu strategi utama untuk menjembatani kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan dunia usaha.

Salah satu program yang diandalkan pemerintah adalah Program Pemagangan Nasional bagi lulusan perguruan tinggi. Program ini memberikan pengalaman kerja terstruktur selama enam bulan di berbagai sektor industri dengan dukungan uang saku yang nilainya setara upah minimum. Pada 2026, pemerintah menargetkan program tersebut menjangkau 150.000 peserta.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan Program Pelatihan Vokasi Nasional yang menyasar lulusan SMA dan sederajat. Program tersebut ditargetkan melibatkan 300.000 peserta guna memperkuat kesiapan tenaga kerja memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif.

Yassierli menegaskan, kedua program tersebut dirancang dengan prinsip inklusivitas. Akses peningkatan keterampilan dibuka bagi perempuan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan perbatasan.

Dalam forum ASPAG, Indonesia juga menawarkan sejumlah agenda kerja sama strategis, mulai dari pengembangan kurikulum vokasi berbasis keterampilan masa depan, pembangunan pusat pelatihan bagi penyandang disabilitas, penguatan komunitas pertanian produktif, hingga pembentukan klinik produktivitas dan pusat teknologi tepat guna.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan transformasi digital dan perkembangan AI tidak hanya menghadirkan risiko hilangnya pekerjaan, tetapi juga membuka peluang lahirnya kompetensi baru, peningkatan produktivitas, dan akses kerja yang lebih luas.

“Indonesia siap berbagi dan belajar. Kita memiliki banyak hal yang dapat saling ditawarkan untuk membangun kawasan yang lebih kuat dan tangguh bagi para pekerja,” kata Yassierli.

Melalui penguatan kerja sama Asia Pasifik, Indonesia berharap perubahan teknologi yang tak terelakkan dapat diubah menjadi peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia, bukan menjadi ancaman yang memperlebar kesenjangan di pasar kerja.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *