Stabilitas Sektor Keuangan RI Masih Terjaga, OJK Waspadai Gejolak Global dan Lonjakan Harga Energi

Share

Jakarta,ArmadaBerita.Com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga meski ketidakpastian global meningkat akibat konflik geopolitik dan tekanan harga energi. Pernyataan tersebut disampaikan pada konferensi pers yang dilakukan para Dewan Komisioner OJK dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Diungkapkan bahwa, ketidakpastian global meningkat seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mengganggu distribusi energi dan memicu lonjakan harga. Kondisi ini turut meningkatkan volatilitas pasar keuangan global serta mempersempit ruang kebijakan moneter bank sentral dunia. OECD bahkan merevisi prospek ekonomi global dalam Interim Economic Outlook Maret 2026 akibat meningkatnya tensi geopolitik tersebut.

Di Amerika Serikat, tekanan inflasi yang masih tinggi membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga dan membuka peluang tidak adanya pemangkasan sepanjang 2026. Sementara ekonomi Tiongkok masih tumbuh di atas ekspektasi, meskipun menurunkan target pertumbuhan karena tantangan eksternal.

Ekonomi Domestik Tetap Solid

Di tengah tekanan global, ekonomi domestik menunjukkan ketahanan. Inflasi inti menurun, konsumsi rumah tangga tetap kuat, dan penjualan ritel diperkirakan tumbuh 6,89 persen secara tahunan. Aktivitas manufaktur juga masih ekspansif, sementara neraca perdagangan mencatat surplus dan cadangan devisa berada pada level memadai.

Pasar Modal Berfluktuasi, Investor Asing Net Sell

OJK mencatat pasar saham domestik mengalami volatilitas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026 atau turun 14,42 persen secara bulanan. Investor asing tercatat melakukan net sell Rp23,34 triliun, sejalan dengan sikap wait-and-see pelaku pasar.

Meski demikian, jumlah investor pasar modal terus meningkat dengan tambahan 1,78 juta investor baru selama Maret 2026. Total investor kini mencapai 24,74 juta atau tumbuh 21,51 persen sejak awal tahun.

Perbankan Tumbuh, Risiko Tetap Terkendali

Kinerja intermediasi perbankan masih positif dengan kredit tumbuh 9,37 persen secara tahunan menjadi Rp8.559 triliun. Dana pihak ketiga juga meningkat 13,18 persen yoy.

Likuiditas bank dinilai memadai, sementara rasio kredit bermasalah (NPL) tetap rendah di level 2,17 persen. Permodalan perbankan juga kuat dengan CAR sebesar 25,83 persen, menjadi bantalan menghadapi ketidakpastian global.

Asuransi, Dana Pensiun, dan Pembiayaan Stabil

Aset industri asuransi mencapai Rp1.219,35 triliun atau naik 6,8 persen yoy. Sementara total aset dana pensiun tumbuh 12,52 persen menjadi Rp1.700,93 triliun.

Di sektor pembiayaan, outstanding pinjaman daring tumbuh 25,75 persen yoy menjadi Rp100,69 triliun dengan risiko kredit tetap terjaga. Pembiayaan pergadaian juga melonjak 61,78 persen yoy.

Kripto dan Fintech Terus Berkembang

Jumlah konsumen aset kripto meningkat menjadi 21,07 juta pengguna. Meski nilai transaksi menurun seiring volatilitas harga global, OJK menilai kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem keuangan digital tetap kuat.

OJK juga melanjutkan penguatan pengawasan dan penegakan ketentuan di seluruh sektor jasa keuangan guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

Secara keseluruhan, OJK menilai sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil dengan kinerja intermediasi positif, risiko terkendali, dan permodalan kuat. Namun demikian, OJK tetap mewaspadai dampak ketidakpastian global, terutama dari konflik geopolitik dan tekanan harga energi, terhadap pasar keuangan domestik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *