Deli Serdang, ArmadaBerita.Com – Kasus pencurian sepeda motor dilaporkan semakin marak menjelang Idul Fitri 1447 H di wilayah Sumatera Utara. Tidak hanya menimpa masyarakat umum, seorang wartawati di Kabupaten Deli Serdang juga menjadi korban pembobolan rumah oleh pelaku yang diduga komplotan spesialis pencurian kendaraan bermotor.
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 02.00 WIB di kawasan Pasar I Tambak Rejo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan. Rumah wartawati yang akrab disapa Siti dibobol maling saat ia dan suaminya sedang tertidur lelap menjelang sahur.
Dalam kejadian itu, pelaku berhasil membawa kabur sepeda motor Yamaha All New Vixion 150 cc bernomor polisi BK 3504 AJD. Selain itu, ponsel Vivo Y100 5G milik korban juga raib. Di dalam casing ponsel tersebut terdapat kartu ATM Bank Sumut, uang tunai Rp200.000, serta sejumlah dokumen pembayaran listrik.
Korban mengaku baru menyadari kejadian tersebut saat mendapati pintu rumah dalam keadaan terbuka dan sepeda motor sudah tidak berada di tempatnya. Pintu dapur bagian belakang juga ditemukan rusak akibat dijebol pelaku.
Siti mengatakan, pelaku diduga sempat masuk ke dalam kamar dan hanya mengambil ponsel miliknya, sementara laptop dan printer tidak dibawa karena tertutup kain sehingga diduga tidak terlihat oleh pelaku.
Wartawati Dipingpong Polisi
Usai mengetahui rumahnya dibobol maling, Siti bersama suaminya langsung mendatangi Polsek Medan Tembung pada Kamis (12/3/2026) sekitar pukul 07.00 WIB untuk membuat laporan polisi terkait pencurian sepeda motor dan ponselnya. Namun, alih-alih mendapatkan penanganan cepat, wartawati tersebut mengaku justru dipingpong oleh petugas SPKT dan Poli tugas luar (TL) yang akan melakukan cek TKP.
“Saya datang pagi sekitar pukul 07.00 WIB ke Polsek Medan Tembung, dipinjamkan motor sama adik sepupu. Saat bertemu petugas SPKT, saya bilang mau buat laporan karena rumah saya dibobol maling, motor dan HP saya hilang,” ujar Siti.
Menurut dia, petugas saat itu tidak langsung memproses laporan, melainkan meminta dirinya terlebih dahulu memfotokopi dokumen kendaraan berupa BPKB dan STNK. Siti pun kembali keluar dari kantor polisi untuk mencari tempat fotokopi di kawasan Mandala.
Setelah melengkapi berkas dan kembali ke Polsek Medan Tembung, Siti kembali berharap laporannya segera ditangani. Namun, petugas hanya memintanya menuliskan identitas, alamat kejadian, serta nomor telepon yang bisa dihubungi di selembar kertas.
“Saya pikir setelah itu laporan langsung diproses. Tapi saya malah disuruh pulang dan menunggu di rumah. Katanya nanti sekitar pukul 09.00 WIB petugas yang di lapangan akan datang ke lokasi, karena mereka menunggu pergantian piket,” jelasnya.
Namun hingga sore hari, tidak ada satu pun petugas yang datang ataupun menghubungi dirinya melalui telepon maupun WhatsApp.
“Petugas nggak datang-datang. HP ibu saya dan suami saya juga nggak ada dihubungi. Karena sudah ada jadwal liputan yang memang sudah dijadwalkan beberapa hari sebelumnya, akhirnya saya tetap berangkat liputan,” katanya.
Merasa tidak mendapat kepastian, Siti kembali mendatangi Polsek Medan Tembung pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB usai berbuka puasa untuk mempertanyakan tindak lanjut laporan tersebut. Namun jawaban yang ia terima justru membuatnya semakin kecewa.
“Saya tanya kenapa petugas yang katanya mau datang ke lokasi belum juga datang. Jawaban dari petugas SPKT waktu itu bilang ‘lupa’. Saya juga menduga tidak ada koordinasi antara petugas piket malam dengan piket pagi,” ujarnya.
Petugas kemudian memberikan nomor telepon salah satu anggota di lapangan dan meminta Siti sendiri yang menghubungi agar petugas datang mengecek lokasi kejadian.
“Saya telepon, saya kirim lokasi rumah saya. Petugas membalas ‘Ok Otw’. Tapi tidak lama kemudian dia kirim pesan lagi meminta saya sabar karena sedang menangani kasus lain. Jadi sampai kapan saya harus menunggu? Saya merasa seperti dipermainkan,” kata Siti dengan nada kesal.
Kekecewaan juga disampaikan oleh Rukiyah, orang tua Siti, yang mempertanyakan lambannya respons aparat kepolisian terhadap laporan korban pencurian tersebut.
“Di mana mereka? Kenapa belum datang? Sampai kapan kami harus menunggu? Apa harus dimaling lagi atau ada korban jiwa baru mereka datang?” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan pada Jumat (13/3/2026), belum ada petugas dari Polsek Medan Tembung yang datang ke lokasi kejadian untuk melakukan pengecekan. Siti, wartawati yang dikenal berpenampilan tomboy itu, mengaku masih menunggu kepastian penanganan dari pihak kepolisian.











