Kabur Aja Dulu”: Ketika Bertahan di Negeri Sendiri Terasa Semakin Sulit

Share

Oleh: Bryan Lucas

Belakangan ini, frasa “kabur aja dulu” ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi ungkapan kolektif generasi muda Indonesia. Ungkapan ini kerap muncul dalam konteks keinginan untuk bekerja, belajar, atau menetap sementara di luar negeri.

Fenomena tersebut bukan sekadar lelucon digital, melainkan refleksi kegelisahan sosial yang nyata. Banyak anak muda merasa masa depan di dalam negeri semakin sempit, sementara peluang di luar negeri terlihat lebih menjanjikan.

Isu ini muncul di tengah tingginya angka pengangguran terdidik, upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup, serta persaingan kerja yang ketat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka di kalangan lulusan perguruan tinggi masih menjadi persoalan serius.

Di sisi lain, laporan Bank Dunia dan Organisasi Perburuhan Internasional juga menyoroti tantangan kualitas pekerjaan di negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, “kabur aja dulu” menjadi simbol kelelahan struktural, bukan sekadar keinginan individual.

Fenomena ini menunjukkan adanya krisis kepercayaan generasi muda terhadap sistem yang ada. Banyak anak muda merasa bahwa kerja keras dan pendidikan tinggi tidak lagi menjamin kehidupan yang layak.

Ketika koneksi, privilese, dan faktor non-merit lebih menentukan akses kerja, maka pilihan untuk mencari kesempatan di luar negeri terasa lebih rasional. Ungkapan “kabur aja dulu” lahir dari perasaan tidak dilihat dan tidak dilindungi oleh sistem ekonomi dan ketenagakerjaan nasional.

Di sisi lain, wacana ini sering disalahpahami sebagai sikap tidak nasionalis. Padahal, keinginan untuk pergi tidak selalu berarti menolak Indonesia. Justru sebaliknya, banyak anak muda ingin mengembangkan diri, memperoleh pengalaman global, lalu suatu hari kembali dan berkontribusi.

Namun, ketika negara tidak mampu menyediakan ruang aman untuk bertumbuh, maka kepergian menjadi bentuk adaptasi, bukan pengkhianatan. Media nasional pun mencatat bahwa fenomena ini lebih dekat dengan brain circulation daripada sekadar brain drain.

Namun, jika dibiarkan tanpa pembenahan struktural, “kabur aja dulu” bisa berubah menjadi kehilangan sumber daya manusia jangka panjang. Ketika talenta terbaik memilih menetap di luar negeri karena sistem di dalam negeri tidak kompetitif, maka yang dirugikan adalah pembangunan nasional itu sendiri.

Negara-negara maju justru berlomba menciptakan ekosistem kerja yang adil, aman, dan menghargai kompetensi untuk menarik talenta global, termasuk dari Indonesia.

Oleh karena itu, solusi tidak bisa berhenti pada imbauan moral agar anak muda “tetap bertahan”. Pemerintah perlu melakukan reformasi nyata, mulai dari penciptaan lapangan kerja berkualitas, sistem upah yang layak, hingga transparansi rekrutmen berbasis merit.

Dunia pendidikan dan industri juga harus diperkuat agar lulusan tidak hanya siap kerja, tetapi juga dihargai. Masyarakat pun perlu berhenti menormalisasi eksploitasi tenaga kerja muda atas nama “pengalaman”.

Pada akhirnya, “kabur aja dulu” adalah alarm sosial yang tidak boleh diabaikan. Ia bukan sekadar tren, melainkan cermin kegagalan sistem dalam menjamin masa depan warganya.

Jika negara mampu menghadirkan keadilan ekonomi dan rasa aman untuk bertumbuh, maka anak muda tidak perlu “kabur”. Mereka akan memilih tinggal, membangun, dan percaya bahwa masa depan di negeri sendiri layak diperjuangkan.

Penulis adalah Mahasiswa Ukrida Jakarta, Prodi Psikologi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *