Medan, ArmadaBerita.Com
Pemegang saham (kepala daerah) diminta untuk mengevaluasi manajemen Bank Sumut khususnya jajaran direksi. Sebab, Bank Sumut tidak mampu menumbuhkan laba yang baik pada tahun 2024, jauh dari target awal yang direncanakan. Saran itu disampaikan Pengamat Kebijakan Publik, Afrio Landra kepada awak media, Kamis (13/2/2025).
Sebab, kata Afrio Landra, berdasarkan data yang dipublikasi ke Media, laba Bank Sumut Rp 740,72 miliar pada tahun 2024. Artinya hanya tumbuh 0.09% secara tahunan (yoy) dari 740,08 miliar tahun 2023 (tumbuh hanya ratusan juta). Padahal tahun 2023 lalu Bank Sumut mampu menumbuhkan laba sebesar 5,56 persen atau tumbuh sebesar 40 miliar.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat memperihatinkan apalagi jika dibandingkan dengan BPD tetangga seperti BPD Riau, ataupun Kepri Syariah yang mampu menumbuhkan Laba naik hingga 15,77%. Lalu laba bersih Bank Nagari (Sumbar) tumbuh 3,19% dibandingkan tahun 2023. Begitupun Bank Aceh juga tumbuh memuaskan. Bahkan ada BPD yang labanya tumbuh di atas 50%.
Belum diketahui secara pasti apa penyebab Bank Sumut tidak maksimal dalam mendapatkan Laba pada tahun 2024. Namun ia menduga ada beberapa kebijakan dari top manajemen yang mempengaruhi kinerja para pegawainya. Seperti kebijakan yang mewajibkan pegawai Bank Sumut untuk rapat online setiap hari pada pagi dan sore yang diduga bisa berdampak tidak baik terhadap kinerja meningkatkan laba Bank Sumut.
“Pegawai Bank kan selazimnya kalau pagi itu mencari nasabah, menawarkan kredit dan mencari dana pihak ketiga. Nah kalau setiap pagi mengikuti rapat, lalu jadi singkat waktu untuk kerja, karena dekat dengan waktu istirahat siang. Dan sore rapat lagi, sangat singkat waktu untuk pegawai bekerja secara maksimal,” ujar Afrio Landra.
Tak dipungkiri bahwa rapat memang penting untuk dilakukan. Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan SDM dan juga membuat strategi agar Bank Sumut bisa meningkatkan laba secara maksimal.
“Rapat itu penting, di setiap perusahaan juga pasti ada rapat. Tapi Kalau setiap hari, dan kadang bisa dua kali rapat. Apa itu lazim ?, ini lah kita lihat hasilnya, Laba Bank Sumut tumbuh sangat kecil. Jadi kebijakan itu harusnya dievaluasi, kalau tidak berdampak baik, ya dihentikan, bukan malah dilanjutkan,” ucapnya.
Dia menerangkan bahwa Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Utara (Sumut) pada Triwulan III Tahun 2024 membaik secara signifikan berada pada angka 5,20% (y-o-y). Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Pulau Sumatera bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada 4,95%.
Lalu, Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Utara, penyaluran kredit perbankan untuk UMKM di wilayahnya mencapai Rp79,72 triliun sampai Mei 2024 atau tumbuh 9,06 persen dibandingkan Mei 2023.
“Pertumbuhan ekenomi di Sumut sangat baik, dan tertinggi di pulau Sumatera. Tapi kenapa laba Bank Sumut tidak tumbuh dengan maksimal bahkan kalah dengan pertumbuhan BPD lain di Sumatera. Data dari OJK juga menyatakan bahwa ada pertumbuhan kredit UMKM yang cukup besar di sektor UMKM, kinerja Bank Sumut ini jadi pertanyaan besar bagi masyarkat Sumut,” jelasnya.
Dia menerangkan, kecilnya pertumbuhan laba Bank Sumut pastinya akan mempengaruhi pembagian deviden kepada pemegang saham yang merupakan kepala daerah.
“Deviden yang dibagikan juga mungkin tidak akan meningkat. Deviden ini penting bagi pemegang saham karena uang deviden itu untuk pembagunan di daerah-daerah di Sumatera Utara,” jelas Afrio.
Maka dari itu, Afrio berharap kepada para pemegang saham yang baru nantinya untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap Bank Sumut.
“Terkait laba yang tumbuh sangat kecil itu, pemegang saham harus melakukan evaluasi khususnya kepada jajaran direksi yang merupakan top manajemen dan pembuat kebijakan,” pungkas Afrio.
Menanggapi hal tersebut, Humas Bank Sumut, Andi Kurnia menyampaikan bahwa jika berbicara pertumbuhan, Laba Bank Sumut Tahun 2023 Rp. 740.08 dan di Tahun 2024 menjadi Rp. 740.72, yang mengartikan bahwa laba Bank Sumut tetap tumbuh, bukan menurun.
“Secara persentase, memang masih kecil pertumbuhannya, namun dibanding pairing group BPD, pertumbuhan Bank Sumut masih mampu membukukan kinerja yg positif. Perlu kita lihat juga, tahun 2024 merupakan tahun dengan ketidakpastian ekonomi, untuk itu, kami sangat menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) khususnya dalam penyaluran kredit,” terang Andi Kurnia.
Apalagi tahun 2024, tambah Andi, terdapat gerusan daya beli masyarakat, penghematan dan efisiensi belanja pemerintah serta perlambatan ekonomi. Laba rata-rata bank pembangunan daerah (BPD) pada 2024 terkoreksi 6,81 persen. Di tengah penurunan itu, Bank Sumut mampu mempertahankan laba, terutama ditopang oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 9,00 persen secara tahunan dari Rp 29,4 triliun menjadi Rp 31,9 triliun.
Masih diungkapakan Andi Kurnia, berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan pertumbuhan laba demikian, Bank Sumut berhasil bertahan pada peringkat lima besar _peer group_ (sesama bank pembangunan daerah) di Indonesia.
“Pertumbuhan positif tersebut menjadi wujud kemampuan dan keberhasilan untuk terus bertumbuh di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi yang masih tinggi,” jelasnya. (Asn)











