Untuk menemui Breyman, Dian dan ibunya harus bersaing. Pertemuan yang sudah lama dinantikan semenjak kedatangan mereka di kota Soreang, Kabupaten Bandung. Bukan untuk berpelesiran ataupun melancong. Bukan juga untuk mengais rezeki.
TERIK MATAHARI TIDAK MENAIKKAN suhu dingin kota Soreang yang menusuk tulang. Di pagi hari pun, kebanyakan orang tidak menggunakan baju hangatnya lagi. Berbeda dengan Dian dan ibunya. Barangkali yang melihat mereka akan mengira orang asing entah dari mana mereka berasal. Sudah pasti mereka berasal dari kota yang bersuhu panas. Seharusnya wajar saja pagi-pagi masih mengenakan jaket. Apalagi bagi mereka yang tinggal beberapa jarak kilometer dari pegunungan.
Sudah beberapa hari Dian dan ibunya beradaptasi di kota Soreang. Kemampuan tubuh dalam menahan dingin telah memasuki babak baru. Banyak kebiasaan yang harus mereka pelajari. Mulai dari rasa khas masakan Sunda, bahasa, hingga lagu-lagu Sunda yang masih asing terdengar.
“Hatur nuhun pisan, Teh. Aa”, kata kami menyapa si penjual nasi kuning.
“Orang Sumatera, Teh?”, tanya si penjual.
“Benar, Aa.”
“Oh. Pantas saja. Jika belum terbiasa, tak jauh dari sini ada Rumah Masakan Padang. Mangga, 200 meter dari sini jumpa simpang tiga belok ke kanan.”
Kami tidak sempat bertanya bahwa entah dari mana mereka bisa tahu asal kami berada. Barangkali dari bentuk dan perawakan wajah kami.
Rasa manis-manis dari kecap wajib dihindari saat memesan makanan khas Sunda. Kadang juga si penjual pura-pura tidak mendengar. Tetap saja dibuatnya kecap satu, dua tetes. Takut, sewaktu-waktu si pembeli tidak lagi datang membeli kepadanya lantaran dalam masakan itu tidak ada rasa manis yang menggugah rasa gurih di lidah. Batagor pakai kecap, kupat tahu pakai kecap, tahu gejrot pakai kecap., baslok pakai kecap. Bubur ayam pun pakai kecap. Rasanya geli-geli di lidah kami untuk para kaum Sumatera. Di saat-saat tertentu karena bosan rasa manis, masakan Padang adalah sang penyelamat.
Soreang yang penuh dengan segala keramah-tamahannya tentu berbeda dengan perilaku orang-orang di Sumatera. Orang Sumatera pantang jika dilihat. “Apa kau, mata kau, Lek? Maen kita?” Beberapa anak muda di sana juga suka “cat calling”. Apalagi zaman sekarang. Orang-orang Medan makin kasar. Angka kriminal membludak. Begal jadi rawan. Orang-orang yang tinggal di sana tidak merasa aman. Para pengendara malam tidak ragu ditebas dengan sajam. Tidak punya hati nurani. Sikap mawas diri dan curiga kepada orang terbawa-bawa sampai ke kota Soreang ini.
***
SAAT DIAN DAN IBUNYA BERJALAN KAKI bersama menyusuri jalanan sekitar Soreang, mereka melihat kuda-kuda dijadikan dokar. Sekelebat banyak pertanyaan terbersit dalam benak Dian.
“Kasihan kuda-kuda itu, Ibu. Apa mereka terlebih dahulu diberi makan sebelum menarik beban? Pernah aku melihat seekor kuda dibiarkan basah-basahan saat hujan deras. Sungguh manusia tidak punya hati!!” celetuk Dian sangat kesal.
Dian menarik kesimpulan terlalu dini. Dia mengira bahwa kuda-kuda itu tidak diberi makan sebelum bekerja. Sisi humanisnya memberontak.
“Aku tidak mau menaiki kuda-kuda itu! Aku gak tega, Bu!”
Mereka berdiri di pinggir jalan utama untuk menunggu transportasi umum. Tiba-tiba, seekor kuda memalingkan wajahnya ke kiri. Kuda itu mengira mereka ingin menaikinya. Kuda itu pun berhenti. Sejurus Dian menolak. Kuda itu tampak menunduk sedih. Sesuatu yang ramah terlalu kasar direspon oleh Dian.
“Mari, Teh?” kata pemuda yang melakoni sebagai pak Kusir.
“Tidak! Kami tidak tega menaiki kuda-kuda itu! Dian pun menarik tangan ibunya pergi.
Sepanjang jalan, ibu mencoba untuk menasehati Dian.
“Nak, jangan seperti itu. Kasihan kuda dan kusirnya. Mereka berusaha bertahan hidup untuk makan. Lagipula itu yang bisa dikerjakan masyarakat disini. Bukan mereka tidak mampu mengerjakan yang lain. Kearifan lokal di daerah sini barangkali menjadikan kuda sebagai transportasi yang ramah. Lagipula kuda memang diikrarkan untuk menarik beban”, jelas ibunya.
Tuk, tik, tak, tik, tuk. Suara sepatu kuda. Seperti itulah lagu dikumandangkan. Suara langkah kaki pacuan kuda yang terdengar imut. Mengapa perjalanan hidup makhluk hidup itu harus menarik beban. Sungguh menderita. Sekelumet pikiran Dian sungguh rumit. Namun dia berusaha untuk berubah.
Sepanjang jalan Dian pun termenung. Ia menyesali sikapnya yang kasar tadi. Sudah tidak seharusnya dia begitu. Baru pertama kali dia berkesempatan mengunjungi kota ini. Keramahtamahan orang-orang disini tidak mungkin memperlakukan hewan dengan kasar.
***
DIAN DAN IBUNYA BERSIAP-SIAP mencari makan siang di luar. Sebelum kepulangannya ke Sumatera Utara, Dian mencoba menaiki dokar di Soreang.
“Siapa nama kudanya, Pak?” tanya Dian.
“Oh, dia Breyman, Teh,” jawab Pak Kusir sambil tersenyum.
“Usianya?”, tanya Dian penasaran.
“Breyman sudah sebelas tahun, Teh.”
“Wah, masih kuat dia ya, Pak”,
“Ini sudah tua, Teh. Sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya masih ingat saat Breyman masih kecil-kecilnya. Kalo sudah tua, jalannya harus dipukul dulu. Tapi saya mukulnya tidak kuat kok, Teh.”
“Jadi makannya gimana, Pak? Tetap dikasih makan kan?”
“Iya sudah pasti la, Teh. Di pagi hari kudanya harus dikasih makan terlebih dahulu sebelum narik. Makannya banyak Teh. Satu karung isinya rumput semua.”
“Tidak pernah sakit kudanya, Pak?” Dian terus menggali informasi.
“Tidak Teh. Dilihat dari warna kulitnya kalau mengkilap tandanya tidak sakit, seperti ini. Saya jaga selalu agar Breyman tidak sakit Teh. Sedih sekali saya jika dia sakit.” Dian terharu.
“Kalau zaman sekarang meskipun udah banyak transportasi umum dan online, peminat naik dokar selalu ada kok Teh. Selain ramah lingkungan, naik dokar juga santai sambil menikmati pemandangan Kota Soreang ini. Rezeki kami selalu ada kok Teh. Kudanya pun bisa makan.”
Dian dan Ibunya tiba di tempat. Tergerak hati Dian untuk memberikan ongkos tambahan. Pak kusir berterimakasih sekali.
“Sehat-sehat ya Breyman. Sampai jumpa lagi ya”, kata Dian sambil mengelus kepalanya. Dari kejauhan Dian terus melihat Breyman pergi hingga hilang dari pandangannya. Matanya berkaca-kaca. Dian tersenyum bahagia. Hari ini ia dapat sebuah pelajaran hidup tentang kesederhanaan, kelemahlembutan, dan kesabaran. Barangkali ia tidak akan temukan kenangan berharga itu di kota manapun. Ia berharap bisa berjumpa Breyman lagi (*)











