Oleh Arvin Syahputra Nasution
Image polisi yang banyak diterpa isu jelek di tengah masyarakat ternyata hanya kepada beberapa oknum tertentu saja. Sebab, masih banyak masyarakat hingga ke tingkat desa yang begitu senang kehadirannya.
Seperti Bripka Muhammad Hendrawan Bakti. Polisi yang bertugas sebagai Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) ini selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Pak Bhabin, begitu warga menyapanya, baru sekitar 1,5 tahun bertugas sebagai Bhabin di Desa Sei Rotan. Akan tetapi, personel Polsek Percut Sei Tuan ini kerap menjadi solusi permasalahan masyarakat di desa itu.
Ia selalu turun ke masyarakat jika terjadi perkara di desa. Permasalahan yang kian terjadi biasanya ada selisih paham, pencemaran nama baik, pencurian, dugaan pencabulan, hingga kasus penjambretan. Sekecil apa pun masalah warga di kampung itu, Bripka Bakti sapaannya akan tau.
“Karena begitu saya jadi Bhabin di Desa itu, saya katakan kepada pak Kadus (Kepala Dusun) agar tetap melaporkan kepada saya jika ada permasalahan. Saya katakan kalau saya siap hadir 24 jam jika diperlukan,” kata Bakti saat diwawancarai wartawan di sela-sela kegiatannya, Sabtu (17/6/2023) sore.
Tak ayal, pria kelahiran 1986 ini cukup dikenal di sana. Sebab sudah banyak masalah yang dapat diselesaikan dengan cara memberikan penyuluhan hukum dan musyawarah.
Selesaikan Masalah Pakai Cara Unik
Setiap kasus yang ditangani dianggapnya adalah pengalaman berharga. Meski terkadang sepele. Semisal soal adanya tuduhan pencurian seorang wanita paruh baya. Sampai-sampai wanita itu dilabrak ke rumahnya dan membuat gempar kampung. Anak-anak dan keluarga wanita tertuduh itu juga tak terima.
Kadus, sempat kewalahan. Sebab, tertuduh berencana akan melaporkan kasus pencemaran nama baik itu ke kantor Polisi. Apalagi, wanita itu merupakan penduduk lama di kampung itu.
Bakti pun turun ke lokasi meski di malam hari. Saat itu dia langsung menengahi dengan mendudukan kedua belah pihak dan mendengarkan cerita keduanya.
Dia memberikan pandangan. Setiap berlanjutnya laporan akan menyita waktu kedua belah pihak. Bahkan bisa memakan biaya besar. “Setelah penyuluhan hukum yang kita berikan mereka terima, mereka sepakat berdamai dan saling bermaafan,” ucap Bakti.
Dalam menerapkan kasus perdamaian itu, Bakti menggunakan Problem Solving yang merupakan program dari Polri. Bakti pun menyiasati perdamaian itu dengan cara unik. Kedua pihak dikumpulkan untuk makan bersama. “Acaranya di rumah yang dituduh itu,” jelas Bakti.

Dalam setiap masalah, Bakti tetap berkoordinasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat sekitar, dan tentunya 3 pilar yakni dari Bhabinsa, dari pihak desa, serta dirinya selaku Bhabinkamtibmas.
Berselisih Jadi Keluarga
Kasus yang lebih alot pun pernah diatasinya dengan jalur perdamaian, meski sudah memasuki ranah hukum (pelaporan kepolisian). Seperti kasus dugaan cabul yang dilakukan seseorang terhadap pacarnya yang masih terbilang anak di bawah umur. Awalnya kasus itu telah di laporkan, dan ayah si korban bahkan sampai rela akan ”membenam” pelakunya di dalam penjara.
Amarah dari orang tua korban yang saat itu membara bisa sirna begitu Bakti turun tangan. Kasus ini ditangani Bakti dengan terlebih dahulu mendengarkan pengakuan si korban lalu pacarnya. Setelah itu tetap memberi pandangan kepada keluarga kedua belah pihak, termasuk dampaknya bagi si anak perempuan yang bakalan jadi trauma jika sang pacar sampai dipenjarakan.
“Akhirnya keduanya sepakat berdamai, karena anaknya memang suka sama suka. Keduanya pun menikahkan anaknya dan sampai sekarang harmonis. Saat ini kalau saya telfon dan panggil ke sini pasti keduanya mau datang,” imbuh Bakti dengan ungkapan senang.
Kasus Viral Selesai dengan Damai
Ada lagi kasus kriminal yang sempat menghebohkan jagad maya. Kasus itu sempat viral dan telah dilaporkan ke Polrestabes Medan. Penganiayaan itu bermula ketika seorang pengendara mobil tak terima merasa digeber dengan suara sepeda motor tetangganya saat keduanya berpapasan.
Sempat terlibat cek-cok hingga berujung pengendara motor menikamkan kunci sepeda motornya ke bagian dagu pengendara mobil sampai terluka. “Saya berikan penyuluhan hukum serta dampaknya bagi mereka, dengan cara kekeluargaan sehingga mau diajak bermediasi ke Polrestabes Medan,” bilang ayah 3 anak ini.
Keduanya diberikan penyuluhan hukum dan akhirnya bisa saling memaafkan. Sistem perdamaian ini dinamai Restorative Justice. “Kita yakin karena kita sudah memahami kedua belah pihak. Sebenarnya antar korban dan pelaku ini dulunya berteman, dari situlah kita berikan bimbingan hingga bisa saling bermaafan. Korban pun akhirnya mencabut laporannya,” terang Bakti yang ikut senang.

Meminimalisir Laporan Polisi
Upaya penanganan kasus yang dilakukan Bhabin ini ternyata bagian dari langkah meminimalisir laporan ke polisi. Artinya, setiap orang tidak ujuk-ujuk melaporkan lawannya ke ranah hukum, padahal perkara diantara kedua belah pihak masih bisa dimusyawarahkan tanpa harus saling lapor.
Diketahui bahwa laporan polisi di Polsek Percut Sei Tuan yang menamungi 18 Desa dan 2 Kelurahan bisa mencatat rekor lebih dari laporan polisi di Polrestabes Medan. Sementara jumlah personel di Polsek Percut sangat minim. Untuk itulah, peran Bhabinkamtibmas seperti Bakti sangat diharapkan.
Pesan Orang Tua
Bakti menilai, seluruh permasalahan yang dihadapinya di tengah masyarakat, bukan hanya sekedar kewajiban tugas. Menurut polisi yang dulunya bercita ingin menjadi dokter ini mengatakan bahwa kehadirannya untuk warga merupakan modal amal dan ibadah. Sebab, naiatnya juga menolong dan membantu orang.
Ia ingat betul pesan orang tuanya untuk terus berbuat baik. Keyakinan dengan berbuat baik akan mendapat pahala dan balasan tak diasangka-sangka dari Allah SWT, terus ditanamkannya.
Pria berdarah melayu-jawa ini pun mengaku senang meski kesibukannya sebagai Bhabinkamtibmas harus siap kapan saja. Ia bersyukur karena warga bisa senang karenanya. Bahkan tak sedikit dari warga yang ditanganinya dengan upaya Problem Solving dan Restorastice Justice selalu menghormatinya. “Saya pas keliling jumpa warga ada yang ngasih bibit cabai dan ada yang ngasih mangga satu pelastik. Rasanya itu senang kali,” ungkapnya.
Bahkan hubungan itu berlanjut. Semisal, di lebaran, bakti tersentuh karena beberapa warga yang pernah bersitegang dan akan saling lapor, telah akrap datang ke rumahnya untuk bersilaturahmi.
“Bhabinkamtimas itu penyeru kebaikan. Seperti kata ustadz, amar makruf dan nahi munkar, kami sejalan tentang itu, ustadz dibagian amar makrufnya, kita dibagian nahi munkarnya yaitu mencegah kejahatan,” kata pria yang menjuarai ajang lomba Da’i di tingkat Polrestabes Medan ini.
Ajak Keluarga Keliling Kampung
Dalam membagi waktu untuk keluarga, Bhabin beristrikan, Dedek Hamdayani ini tak menapik jika awalnya sang istri harus ngomel karena padatnya jadwal. Sang istri menganggapnya kurang peduli. Untuk meyakinkan itu, ia mulai sering mengajak istri dan anaknya jika berkeliling kampung. Terkadang sang anak sempat heran, papanya banyak yang menegur dan menyapa saat mereka berkeliling Desa. Dari situ, istri dan anaknya mulai memahami, meski ia keluar malam memantau Pos Kamling.
“Saya menyontoh dari orang tua yang rajin bersilaturahmi. Saya ajak keluarga untuk memberi kesan mendalam, bahwa nanti setelah pensiun bisa mengenal keturunan saya kalau anak ini dari Hendrawan Bakti,” timpal Bakti dengan antusias.
Saat ini, ia juga didaulat sebagai polisi RW. Dia juga ikut mengajar anak-anak dengan les tambahan setiap Senin sampai Jum’at. Bahkan, di malam hari ia terkadang ikut ronda jaga malam bersama warga. “Karena intinya kita harus ikut gabung ke masyarakat supaya bisa dekat dan memahami mereka,” pesan Bakti mengakhiri. (*)











