“Kami Tak Minta Uang, Hanya Armada”: Suara Pemandu Lokal Samosir yang Ingin Didengar

Share

Armadaberita.com | SAMOSIR – Sore itu, sebelum matahari tenggelam di ufuk Danau Toba, Damayanti Sinaga—seorang pemandu wisata lokal—mengambil langkah berani. Ia menyampaikan langsung suara hatinya kepada Dr. Agustinus Panjaitan, Kepala Dinas Perhubungan Sumatera Utara. Bukan untuk mengeluh, tapi membawa harapan dan permintaan sederhana: bantuan armada transportasi.

“Kami nggak minta uang, Pak. Cuma armada. Karena nyewa bus buat pelatihan itu berat,” ucap Damayanti.

Ia bicara jujur, mewakili keresahan banyak pelaku wisata lokal di Samosir yang ingin berkembang, tapi terhalang akses angkutan.

Damayanti tahu persis potensi daerahnya. Sebagai orang yang tumbuh besar di Tanah Batak dan telah bertahun-tahun mendampingi turis mancanegara, ia paham betul jalur favorit para pelancong: dari Bandara Kualanamu ke Bukit Lawang, lanjut ke Berastagi, dan akhirnya Samosir.

Ironisnya, di kampung halamannya sendiri, justru pemandu lokal sering terpinggirkan.

“Kami punya anak-anak muda yang semangat. Tapi kalau mereka tak tahu sejarah, tak kenal budaya sendiri, bagaimana bisa jadi pemandu yang layak?” katanya.

Karena itu, ia dan komunitasnya ingin mengadakan pelatihan tour leader yang bukan sekadar teori, tapi juga praktik langsung di lapangan. Simulasi perjalanan 6–7 hari, mengikuti rute yang biasa dijual travel agent asing. Tujuannya jelas: mencetak pemandu lokal yang bisa jadi duta budaya, bukan sekadar pengantar jalan.

Agustinus merespons, “Usulan seperti itu bisa ditampung jika inline dengan program.” Bagi Damayanti, itu mungkin belum jawaban pasti, tapi setidaknya sudah ada pintu yang terbuka.

Saat membuka Musyawarah Daerah Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) di Hotel Aryaduta Medan, Rabu (23/4/2025), Agustinus menekankan pentingnya memberdayakan pemandu wisata lokal sebagai bagian dari pengembangan pariwisata di Sumatera Utara.

Menurutnya, pemandu wisata lokal memiliki peran yang sangat krusial dalam memberikan pengalaman yang autentik kepada wisatawan, sekaligus meningkatkan pemahaman tentang budaya dan keunikan daerah tersebut.

“Dengan melibatkan pemandu wisata lokal, masyarakat setempat dapat langsung merasakan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata, seperti pendapatan tambahan dari sektor jasa, serta membuka peluang kerja bagi mereka,” tambahnya.

Selain itu, pemberdayaan pemandu wisata lokal juga dapat memperkuat rasa kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya dan alam yang mereka miliki.

Agustinus berharap, melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi pemandu wisata, kualitas layanan wisata di Sumut akan semakin meningkat, sehingga dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan dan memajukan perekonomian daerah secara berkelanjutan.

Namun, persoalan di Samosir lebih dari sekadar pelatihan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana guide dari luar negeri datang dan mengambil peran—kadang menyampaikan informasi keliru tentang budaya Batak.

Di tempat lain seperti Bukit Lawang, ada aturan jelas bahwa guide local wajib mendampingi turis asing. Tapi di Samosir? Semua serba bebas.

“Ada yang bilang ‘Toba’ artinya kesedihan. Padahal bukan. Tapi siapa yang akan meluruskan kalau kami tak diberi ruang?” keluhnya.

Tanpa regulasi yang melindungi pemandu lokal, banyak pelaku wisata hanya bisa berharap. Tapi bagi Damayanti, harapan bukan ilusi. Ia yakin, jika Samosir punya sistem yang berpihak pada masyarakat lokal, daerah lain di sekitar Danau Toba pun bisa mencontohnya.

Lebih dari itu, ia menyayangkan bagaimana infrastruktur transportasi seperti pelabuhan Simanindo–Silalahi yang megah, justru mati suri karena tidak disertai konsep ekosistem pariwisata yang hidup. “Tanpa keterlibatan masyarakat, semua itu hanya bangunan kosong,” ujarnya.

Damayanti bukan pejabat. Ia hanya pemandu lokal yang mencintai tanah kelahirannya. Tapi selama masih punya suara, ia akan terus menyuarakan ini.

“Pariwisata bukan cuma soal jualan pemandangan. Ini soal martabat. Soal siapa yang punya hak untuk bercerita. Dan saya percaya, itu hak kami—orang lokal.” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *