NEWS  

Sampan Mesin Impian Bu Betty Mengubah Masa Depan Nelayan

Share

Kisah kehidupan sulit nelayan tradisional di Belawan menjadi episentrum perjuangan Saryawijaya Dalimunthe, suami dari Bu Betty. Menghadapi sampan kayu dayung yang lambat, kini jadi kisah lalu.

“Faktor pertama adalah kualitas sampan. Kalau sampan dayung, bisa memakan waktu yang lama untuk mencapai daerah penangkapan ikan di tengah laut. Itu yang membuat saya kalah cepat dengan nelayan lain yang pakai sampan mesin,” ungkap Saryawijaya saat ditemui di rumahnya, di Belawan II, tempo hari.

Bu Betty, melihat perjuangan suaminya yang terus menderita, tak tega hati. Ia meluangkan waktu untuk memijat bahu suaminya tiap pulang melaut. “Suamiku bekerja begitu keras. Demi menafkahi kami, ia rela banting tulang tak kenal waktu. Aku selalu berdoa, kiranya kami dapat rezeki supaya dapat duit untuk memberi mesin sampan,” kata ibu anak satu itu.

Berbulan-bulan Bu Betty berusaha menabung, namun selalu gagal. Penghasilan suaminya tidak cukup untuk disisihkan. Apalagi, keluarga ini harus selalu menyiapkan uang untuk biaya pendidikan anak semata wayang mereka yang kini duduk di bangku kelas 2 SMP Al-washliyah Belawan II, Medan Belawan.

Betty menemani suaminya, Saryawijaya Dalimunthe, bersantap di rumah

“Maklum, penghasilan suamiku tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan sehari-hari. Aku sudah berulang kali mencoba menyisihkannya sedikit, tidak bisa juga. Entah kapan kami bisa mendapatkan rezeki yang lebih baik,” ungkapnya.

Tetapi, keluarga ini tidak putus harapan. Bu Betty terus mendukung suaminya agar tetap semangat bekerja. Bu Betty hanya seorang ibu domestik. Ia tidak memiliki skill lain untuk membantu menambah penghasilan keluarga. Harapan muncul ketika Bu Betty mendapat saran bergabung dengan koperasi B3. “Bergabunglah dengan Koperasi B3,” ajak Bu Elita, tetangga yang memberi saran.

Bergabung dengan koperasi B3 menarik minat Bu Betty. Bergabung di sana memberikan kesempatan untuk mendapatkan pinjaman dengan bunga rendah. Setelah aktif menabung, Bu Betty akhirnya bergabung dengan Koperasi B3.

Dengan dukungan Koperasi B3, Bu Betty mendapatkan pinjaman untuk membeli mesin sampan. Mesin itu dipasang di badan sampan. Dengan mesin baru itu, hasil tangkapannya meningkat 100 persen. “Dengan adanya mesin, sekarang ini saya bisa membawa pulang duit 150 ribu rupiah per hari,” bebernya.

sampan mesin impian bu betty

Uang hasil melaut dipakai Bu Betty secara cermat. Ia membagi uang itu untuk mencukupi nafkah sehari-hari, biaya sekolah anaknya, sebagian lagi ditabung untuk membayar angsuran bulanan di koperasi.

Bu Betty menjadi inspirasi bagi ibu rumah tangga lain, membuktikan bahwa koperasi dapat meningkatkan pendapatan keluarga. Dengan cerita ini, mari bersama-sama mendukung koperasi dalam memperkuat perekonomian dan membantu masyarakat mencapai impian mereka.

Anwar Suhut, Project Manajer GNI Medan-Deli Serdang mengatakan bahwa tekad dan kerja keras memang dua instrumen penting dalam bertahan hidup. Tetapi kalau mau keluar dari jerat kemiskinan, bangkit melawan, akses terhadap modal usaha yang adil amatlah perlu, terkhusus bagi para nelayan miskin di Belawan.

“Laut memang menyediakan hal yang mereka butuhkan. Tetapi tanpa dukungan akses modal yang adil, bagaimana mereka bisa menangkap ikan yang lebih banyak? Mereka pasti kalah dengan yang punya sampan mesin. Itu kenyataannya. Karena itu, mari bersama-sama menciptakan perubahan positif dalam hidup kita dan masyarakat sekitar. Kita bisa bantu masyarakat akar rumput mewujudkan impian mereka melalui koperasi yang dioperasikan dengan benar dan berkelanjutan,” pungkas Anwar. (Dedy Hutajulu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *