Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder)

Share

Oleh: Dedy Hutajulu

Rasa cemas (anxiety) adalah hal yang normal dirasakan seseorang ketika menghadapi situasi genting atau mendengar kabar buruk. Namun, anxiety perlu diwaspadai jika muncul tanpa sebab atau sulit dikendalikan. Bisa jadi hal itu disebabkan oleh gangguan kecemasan (anxiety disorder).

Menurut Psikolog Irna Minauli, gangguan kecemasan dan anxiety tidaklah sama. Pada dasarnya, anxiety adalah hal yang normal. Wajar. Setiap orang memilikinya, dan itu adalah hal yang positif. Biasanya kecemasan seperti alarm dalam tubuh yang mendadak aktif, membuat kita menjadi lebih waspada, lebih siaga untuk melakukan sesuatu.

Misalnya, ketika menghadapi ujian, kita cemas. Kecemasan itu justru berguna karena memacu kita untuk mempersiapkan diri lebih baik. Kita menjadi berusaha lebih gigih dengan membaca banyak jurnal atau meriset lebih banyak buku. Dalam hal ini, kecemasan adalah hal normal dan positif.

Beda Kecemasan dengan Anxiety Disorder

Tetapi, ungkap Irna, kecemasan bisa berubah menjadi gangguan (anxiety disorder) jika ia berlebihan dan tidak terkendali. Disebut berlebihan jika kecemasan itu sampai mengganggu fungsi kehidupan yang lain. Misalnya mengganggu fungsi kognitif, sehingga kemampuan akademiknya terganggu, mengganggu fungsi sosial, sehingga membuat seseorang menjadi sangat sensitif. Bahkan, ia juga memengaruhi hubungan sosial, baik dengan pasangan, kolega maupun tim kerja.

Menurut Irna, orang dengan gangguan kecemasan ini kerap ketakutan dan over thinking. Kalau kecemasan normal, biasanya begitu ujian kelar, orang bisa kembali “berhaha-hihi” alias berceloteh dengan temannya, tanpa ada beban. Yang berarti, kecemasannya di awal atau sebelum memasuki ujian tadi telah sirna.

Sebaliknya, bila seseorang masih saja cemas, meski ujian telah usai, kemungkinan besar ia mengalami anxiety disorder. Menurut Irna, gangguan kecemasan itu ditandai dengan sering overthinking. “Overthinking itu ciri pertamanya. Jadi mereka cenderung memikirkan hal-hal yang tidak perlu dipikirkan,” imbuh Direktur Minauli Consulting itu.

Lebih jauh Irna mencontohkan, ada seorang perempuan yang sudah bersuami, kemudian perempuan itu menonton film yang berjudul “Layangan Putus”. Usai menonton film tersebut, perempuan itu menjadi overthinking. Muncul pikiran-pikiran negatif di benaknya. “Jangan-jangan suamiku berselingkuh. Jangan-jangan ia berselingkuh dengan teman kantornya.” Misalkan seperti itu contoh overthinking yang dialaminya. “Padahal belum tentu apa yang dipikirkannya itu terjadi,” sebut Irna.

Lantaran overthinking, sambung Irna, perempuan itu menjadi cemas, padahal stimulus kecemasannya tidak jelas sama sekali. Dia sudah menerka-nerka kejadian yang sama sekali belum terjadi. Kecuali memang kalau stimulusnya jelas, misalnya ia pernah melihat suaminya jalan bareng dengan perempuan lain atau nonton film berdua di bioskop atau sekamar berdua di hotel. “Itu stimulusnya jelas. Ada kejadiannya. Kalau gangguan cemas itu, stimulusnya enggak jelas. Tetapi dia sudah lebih dulu membayangkan itu akan terjadi,” terang psikolog forensik asal Sumut itu.

Overthinking Gejala Umum Anxiety Disorder

Irna menambahkan, seseorang yang mengalami gangguan kecemasan cenderung memikirkan hal-hal yang ada di luar kendalinya. Ia overthinking. Akibatnya, kepalanya sering mumet. Ia terus terbebani dengan pikiran-pikirannya sendiri. Dan itu membuat overthinking-nya semakin parah. Gangguan kecemasan ini akan membuatnya kesulitan menjalani hari-hari dengan baik.

Ciri-Ciri Anxiety Disorder

Irna menjelaskan, orang yang mengalami gangguan kecemasan biasanya menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

• Gugup, gelisah, dan tegang

• Detak jantung cepat

• Napas cepat

• Gemetaran

• Sulit atau bahkan tidak bisa tidur

• Banyak berkeringat

• Tubuh terasa lemas

• Sulit konsentrasi

• Adanya perasaan seperti akan ditimpa bahaya

Jenis Anxiety Disorder

Irna mengatakan ada enam kelompok besar (jenis) gangguan kecemasan, di antaranya:

1. Gangguan Kecemasan Umum

Orang yang menderita gangguan kecemasan jenis pertama ini bisa merasa cemas atau khawatir secara berlebihan terhadap berbagai hal. Baik itu pekerjaan, kondisi kesehatan tubuh, finansial sampai hal-hal yang sederhana. Ambil misal berinteraksi dengan orang lain.

Gangguan kecemasan umum ini bisa dirasakan setiap hari dan berlangsung lama, misalnya berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Akibatnya, penderita gangguan kecemasan umum ini akan terganggu menjalani aktivitasnya sehari-hari.

2. Fobia

Fobia ditandai dengan ada ketakutan yang irrasional. Dikatakan irrasional, karena ia takut pada sesuatu yang sepatutnya tidak perlu ditakuti. Misalnya takut pada kecoa. Padahal, kecoa itu binatang kecil dan lemah, yang kalau diinjak sekali bisa mati. Tetapi bagi sebagian orang penderita fobia, kecoa itu menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Sehingga dia akan berusaha menghindarinya.

Selain takut pada binatang, ada juga yang fobia terhadap benda-benda yang bagi kebanyakan orang, justru sangat tidak masuk akal. Misalnya, takut pada karet gelang, takut pada kancing baju, atau takut pada bawang merah. Aneh memang, tetapi kenyataannya, ada saja yang fobia.

Fobia ternyata banyak ragamnya. Ada yang fobia ruangan tertutup, ada pula yang fobia ketinggian. Tentu dua jenis fobia yang terakhir disebutkan ini sangat mengganggu bahkan merugikan. Misalnya orang yang takut pada ketinggian, akan kehilangan banyak kesempatan menjelajahi tempat-tempat indah di dunia.

“Ada teman saya seperti itu. Seumur hidup dia enggak pernah naik pesawat. Waktu ada kesempatan ikut pelatihan ke Jakarta atau ke luar negeri dia pilih enggak ikut karena takut naik pesawat. Ini sangat merugikan dia,” kata Irna mencontohkan.

Kalau pelatihan di dekat kantor misalnya, dia bisa memilih berangkat lewat jalur darat. Tetapi kalau tempat pelatihannya jauh, seperti di luar negeri dan mengharuskan naik pesawat, akhirnya ia memilih tidak berangkat hanya karena fobia ketinggian. Ketika disajikan data statistik soal perbandingan tingkat kecelakaan transportasi udara dengan transportasi darat, dan ternyata angka kecelakaan transportasi darat jauh lebih tinggi, tetap saja data statistik itu tidak bisa dijadikan alat untuk mengurangi ketakutannya. Ia tetap takut naik pesawat. Apapun penjelasan yang diberikan kepadanya, meski berbasis data atau sains, tetap saja ia tidak bisa menepis fobianya itu.

Begitu juga dengan orang yang takut pada ruangan tertutup akan banyak merasa rugi. Misalkan ia bekerja di satu kantor yang berada di gedung tinggi. Kantornya di lantai paling atas sehingga mengharuskan ia naik lift, setiap kali harus bekerja masuk kantor. Setiap kali naik lift (ruangan tertutup) dia akan mengalami kecemasan luar biasa. Sehingga untuk menghindari kecemasannya itu, ia memilih naik tangga saja demi menghindari lift. Ia akan sangat banyak merasa rugi.

3. Sosial Anxiety Disorder atau Gangguan Kecemasan Sosial

Dalam istilah lain, gangguan kecemasan sosial ini disebut fobia sosial. Orang yang menderita fobia sosial, biasanya takut kalau ketemu orang dan takut malu. Kalau ketemu orang, dia keringat dingin duluan, cemas, takut ditertawakan, takut diejek, takut dihina. Dia takut kalau orang lain tidak suka sama dirinya. “Padahal semua itu pikiran dia sendiri. Overthinking. Makanya sangat bahaya orang yang overthinking,” tandas Irna.

Selain itu, Irna menyebut, orang yang fobia sosial sangat takut berada di keramaian orang. Misalnya, di kelas baru, di pesta, atau di tempat kerja yang baru. Di toilet umum. Dalam banyak hal, mereka sudah membayangkan hal buruk duluan. Mereka mengira sesuatu yang buruk akan terjadi menimpa mereka. Pikiran negatif selalu mendahului.

Menurut Irna, fobia sosial ini sangat memengaruhi kepercayaan diri. Rata-rata yang menderita fobia sosial ini adalah orang yang tidak punya kepercayaan diri dan mereka yang harga dirinya rendah. Mereka sangat rentan terhadap penilaian orang terhadap diri mereka. Karena itu mereka selalu berusaha menjauhi atau menghindari berada di situasi-situasi sosial.

Gejala Fobia Sosial

Biasanya mereka juga mengalami gejala seperti serangan panik, karena dalam situasi sosial. Misalnya, saat mau presentasi di hadapan orang, belum apa-apa dia sudah gemetaran duluan, jantungnya berdebar, keringatan, otaknya macet. Ketika mau ngomong suaranya mengecil karena kecemasan yang ada di dalam dirinya lebih menguasai. Ia tidak bisa mengendalikan responsnya terhadap situasi yang ia alami.

4. Gangguan Stress Pascatrauma atau Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Menurut Irna, PTSD merupakan gangguan kecemasan yang dirasakan oleh orang-orang-orang yang pernah mengalami trauma. Kemudian traumanya itu kerap terlintas di benak. Korban PTSD biasanya adalah orang yang pernah diperkosa atau korban bencana alam atau tsunami atau mereka yang tinggal di daerah konflik atau daerah perang.

PTSD muncul karena ada orang yang pernah mengalami bencana. Bencana itu merupakan situasi yang terjadi di luar kendali manusia. Kita tidak dapat memperkirakan kapan bencana (tsunami, longsor atau banjir) terjadi. Peristiwa bencana alam, memang benar-benar di luar kendali manusia.

“Jadi orang yang mengalami trauma itu akan mengalami stress pasca kejadian traumatis itu. Ambil contoh kasus bencana alam. Bencana alam bisa menimbulkan ketakutan. Jadi korban bencana alam, dalam kondisi tenang pun, sering muncul kilasan ingatan tentang kejadian yang traumatis itu,” terang Irna.

Irna menuturkan, ada kliennya korban tsunami Aceh yang kemudian mengalami PTSD. Kilasan ingatan soal kejadian yang nyaris merenggut nyawanya itu sering muncul berkelebat di depan matanya. Rasanya seperti baru saja selesai menonton film, adegan-adegan maut itu terlintas di pikirannya. “Sering tiba-tiba muncul kejadian ketika ia tergulung ombak hitam, tiba-tiba ia merasa berada di dalam gelap, lalu tersangkut entah dimana. Ia merasa seakan-akan mulut maut akan menelannya. Kilasan ingatan itu sering sekali ia alami,” terang Irna.

Begitu juga dengan kasus pemerkosaan. Irna menandaskan, korban-korban pemerkosaan berpotensi mengalami PTSD. Ketika traumanya tidak disembuhkan, akan sering muncul bayangan si pemerkosa itu. Setiap kali kilasan ingatan itu muncul, si korban akan menderita, merasa bersalah, merasa tak berharga, merasa terhina. Kilasan ingatan itu akan selalu menyiksanya.

PTSD pada Anak-anak

Menurut Irna PTSD tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada semua umur, termasuk pada anak-anak. Bedanya, alau pada anak-anak, gejala PTSD lebih mudah dikenali. “Ciri-cirinya anak mengalami regresi, berupa terjadi kemunduran pada perilaku pada tahap perkembangan sebelumnya,” jelas Irna.

Misalnya, anak kecil yang tadinya sudah tidak mengompol, tiba-tiba mengompol lagi. Anak yang sebelumnya sudah bisa minum susu pakai gelas, tiba-tiba pakai botol dot lagi. “Selain kemunduran-kemunduran perkembangan perilaku itu, si anak juga kerap akan mengalami mimpi buruk,” imbuhnya.

5. Serangan Panik

Ketika seseorang itu tanpa stimulus yang jelas, tiba-tiba mendapat serangan panik. Serangan panik itu ditandai dengan gejala berupa jantungnya berdebar, nafas tersengal-sengal, keringat dingin. Kemudian dia berpikir dia sudah mau mati. Dia berpikir, ia terkena serangan jantung. Tetapi ketika diperiksa kesehatannya, ternyata jantungnya sehat-sehat saja. Dia tidak punya riwayat penyakit jantung sama sekali. Inilah kemungkinan besar gejala serangan panik akibat gangguan kecemasan.

Serangan panik ini sering muncul dan berulang-ulang. Kemunculannya juga tidak terprediksi. Karena itu, penting sekali bagi siapa saja untuk menjaga kesehatan mental. Selama ini, orang sibuk menjaga kesehatan fisik dengan berolahraga, makan teratur, tidur cukup. Namun mereka sering lupa untuk menjaga kesehatan mentalnya. “Padahal, menjaga kesehatan mental ini sama pentingnya dengan menjaga kesehatan ragawi. Menjaga kesehatan mental pun perlu dimulai sejak kanak-kanak,” pungkas Irna.

6. Gangguan obsesif kompulsif (OCD)

Obsesif artinya pikirannya yang berulang-ulang terpaku pada satu hal. Sedangkan kompulsif artinya tindakannya yang berulang-ulang. Orang yang menderita gangguan OCD memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang untuk meringankan rasa cemas yang berasal dari pikirannya sendiri. Contohnya, mencuci tangan harus sebanyak 10 kali karena ia berpikir tangannya masih kotor. Ia terobsesi dengan angka 10.

Gangguan OCD ini sulit dikendalikan, bersifat menetap, dan dapat kambuh kapan saja sehingga membuat penderitanya terganggu untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Apa yang Harus Dilakukan?

Jika kecemasan tidak hilang-hilang, meski pemicu anxiety telah di atas, apa yang harus dilakukan? Irna menganjurkan agar segera konsultasi ke psikolog atau psikiater. Kalau ke psikolog biasanya akan dilakukan pemeriksaan psikologis yang lebih mendalam untuk melihat akar masalahnya. Supaya bisa diberi tindakan yang tepat. Begitu juga psikiater akan memeriksa secara intensif untuk menemukan penyebab dan jenis gangguan kecemasan yang Anda alami.

Apabila hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa Anda mengalami gangguan kecemasan, psikiater akan mengatasi kecemasan yang Anda rasakan dengan psikoterapi dan konseling, serta memberi obat penenang bila memang dibutuhkan.

Anxiety yang muncul akibat gangguan kecemasan lama-kelamaan berpotensi membuat penderitanya merasa depresi, ingin bunuh diri, hingga menyalahgunakan obat-obatan atau menenggak alkohol. Karena itu, jika Anda mengalaminya gangguan kecemasan, segera konsultasikan kepada ahlinya. (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *