EKBIS  

Surplus vs Defisit: Jurus Antar Daerah Stabilkan Harga Cabai

Pelepasan pengiriman cabai dari Sumut ke Palangkaraya. (Ist)
Share

Medan, ArmadaBerita.Com – Ketika satu daerah kelebihan pasokan sementara daerah lain kekurangan, harga pangan bisa bergerak liar. Namun, pola lama itu mulai diubah. Melalui strategi distribusi lintas wilayah, pemerintah bersama Bank Indonesia menunjukkan bahwa ketimpangan pasokan bisa dijadikan peluang untuk menstabilkan harga.

Langkah konkret terlihat dari pelepasan pengiriman 1,05 ton cabai merah keriting dari Kabupaten Karo menuju Palangka Raya dalam skema Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Pelepasan dilakukan di halaman Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 30 Medan, Rabu (22/4/2026).

Pengiriman dilakukan dalam tiga tahap sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan pasokan dan harga di kedua wilayah.

Di Karo, panen serentak mendorong terjadinya surplus produksi. Akibatnya, harga cabai di tingkat petani sempat tertekan hingga sekitar Rp12.000 per kilogram. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Palangka Raya yang mengalami keterbatasan pasokan sehingga harga cabai relatif tinggi di pasaran.

Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, menilai kolaborasi ini sebagai solusi dua arah. “Kita tidak hanya menjaga harga tetap terjangkau di daerah tujuan, tetapi juga melindungi kesejahteraan petani di daerah asal,” ujarnya.

Senada, Kepala Perwakilan BI Sumut, Rudy Brando Hutabarat, menegaskan bahwa pengendalian inflasi kini menuntut pendekatan yang lebih menyeluruh. Tidak hanya mengandalkan produksi, tetapi juga memperkuat distribusi dari hulu ke hilir.

Cabai merah sendiri merupakan salah satu komoditas utama penyumbang inflasi pangan. Pergerakan harganya sangat sensitif terhadap perubahan pasokan, sehingga ketidakseimbangan antarwilayah kerap memicu lonjakan harga yang signifikan.

Melalui penguatan konektivitas perdagangan antar daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berupaya menciptakan sistem yang lebih adaptif. Ke depan, strategi ini akan diperluas dengan peningkatan produktivitas pertanian, efisiensi rantai pasok, serta pemanfaatan digitalisasi informasi pangan.

Upaya tersebut menandai pergeseran penting dalam pengendalian inflasi: dari sekadar respons jangka pendek menjadi strategi terintegrasi yang memanfaatkan kelebihan dan kekurangan antar daerah. Dalam konteks ini, surplus dan defisit bukan lagi masalah, melainkan bagian dari solusi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *