EKBIS  

OJK Resmikan Galeri Investasi BEI di Unimed

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Kantor OJK Regional 5 Sumatera Bagian Utara meresmikan Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia di Universitas Negeri Medan (Unimed), Selasa (21/10/2020).

Acara tersebut dibuka oleh Rektor Universitas Negeri Medan, Dr. Syamsul Gultom, SKM, M.Kes secara virtual dan diikuti oleh 498 peserta yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa Unimed.

Turut hadir secara virtual Antonius Ginting selaku Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Kantor Regional 5 Sumatera Bagian Utara, Direktur Penilaian Perusahaan PT BEI I Gede Nyoman Yetna serta Perwakilan dari PT Indo Premier Sekuritas, Alex Widi Kristiono.

Antonius Ginting dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejak kampanye Program Yuk Nabung Saham, image Pasar Modal sebagai sesuatu yang eksklusif, mahal atau rumit mulai berkurang.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan tahun 2019, tingkat pemahaman (literasi) masyarakat Indonesia terhadap pasar modal naik dari 4.4% di tahun 2016 menjadi sebesar 4.92% dan tingkat utilitas produk pasar modal naik dari 1,3% menjadi sebesar 1.55%.

“Perkembangan di Sumatera Utara ini mengalami peningkatan jumlah investor khusus pada saham sebesar 40.931 Single Investor Identification (SID) atau 284.6% dari posisi Desember 2016 sejumlah 22.172 menjadi 63.103 SID pada Agustus 2020,” katanya.

Pertumbuhan jumlah investor, sambung Antonius Ginting perlu diimbangi dengan pemahaman investor terhadap produk-produk di Pasar Modal.

Saat ini, di wilayah Propinsi Sumatera Utara sudah terdapat 1 (satu) Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia, 29 (dua puluh sembilan) Kantor Cabang Perusahaan Efek dan hari ini bertambah satu Galeri Investasi Bursa sehingga menjadi 15 (lima belas) Galeri Investasi Bursa.

“Dengan adanya Galeri Investasi Bursa, diharapkan dapat saling memberikan manfaat bagi semua pihak sehingga penyebaran informasi pasar modal tepat sasaran serta dapat memberikan manfaat yang optimal bagi peserta Didik, mahasiswa, praktisi ekonomi, investor, pengamat pasar modal maupun masyarakat umum,” tambahnya.

Keberadaan Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa menjadi sarana memperkenalkan Pasar Modal kepada masyarakat luas. Galeri Investasi BEI yang merupakan kerjasama antara Penyelenggara Galeri, BEI, dan Perusahaan Sekuritas juga diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan produk dan layanan Pasar Modal.

“Bukan hanya dari sisi informasi saja, akan tetapi juga perdagangan sahamnya,” ujarnya.

Kedepan, terangnya lagi, melalui real time information yang disediakan oleh Galeri Investasi BEI diharapkan dapat digunakan untuk belajar menganalisa aktivitas perdagangan saham serta bagaimana prakteknya di pasar modal.

Maka dari itu, Galeri Investasi Bursa harus menyediakan dan mengupdate secara berkala materi publikasi dan bahan cetakan mengenai pasar modal yang diterbitkan oleh Bursa Efek Indonesia, termasuk peraturan dan Undang-Undang Pasar Modal.

Pasar Modal memberikan masyarakat pilihan dalam berinvestasi yang terjangkau dengan membeli saham sebagai bukti kepemilikan terhadap sebuah Perusahaan. Masyarakat tidak perlu menunggu lama untuk mengumpulkan modal usaha dan mempersiapkan diri menjadi pengusaha namun sudah bisa dimulai dengan nominal 100 ribu Rupiah.

Pilihan investasi ini yang diharapkan bisa menekan jumlah korban investasi ilegal. Tawaran investasi yang menjanjikan tanpa risiko dengan imbal hasil tinggi menjadi andalan pelaku yang menawarkan investasi ilegal.

Padahal, lanjut Antonius Ginting lagi, sebagaimana diketahui bersama tidak ada investasi yang bebas risiko. Sebagai contoh, saham sebagai instrumen investasi memiliki risiko diantaranya capital loss atau kondisi kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli.

“Selain itu, risiko likuidasi atau Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan,” paparnya.

Menurutnya, peran Anggota Bursa penting dalam memperkenalkan instrumen investasi dengan tingkat risikonya. Sebagai contoh, saham mempunyai imbal hasil tinggi namun berisiko tinggi, obligasi/sukuk mempunyai imbal hasil sedang namun tingkat risiko juga sedang.

Anggota bursa juga harus bisa membentuk kepercayaan publik dan tidak menjanjikan imbal hasil yang pasti, mengingat sifat nilai saham yang fluktuatif, dan tergantung kondisi pasar.

“Peran aktif anggota bursa diperlukan agar masyarakat dapat memahami tingkatan risiko masing-masing instrumen investasi serta proyeksi imbal hasil yang dapat mereka terima dari alternatif produk investasi yang dipilih,” pungkasnya. (Ril/Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *