EKBIS  

Harga Cabai di Karo Bikin Pedas Dompet, Sentra Produksi Malah Paling Mahal!

Share

Karo, ArmadaBerita.Com – Ironi terjadi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Meski dikenal sebagai salah satu sentra cabai terbesar di Sumut, harga cabai di daerah ini justru melonjak paling tinggi.

Di Pasar Berastagi, harga cabai merah kini tembus Rp100 ribu per kilogram, sedangkan di Kabanjahe sedikit lebih rendah, sekitar Rp85 ribu/kg.

Kondisi ini membuat warga dan pedagang heran. Pasalnya, Karo selama ini menjadi pemasok utama cabai ke berbagai daerah di Sumut.

“Biasanya kalau panen banyak, harga di Karo paling murah. Sekarang malah paling mahal,” keluh Br Ginting, pedagang di Pasar Berastagi, Selasa (14/10/2025).

Cuaca Ekstrem Jadi Bidang Kerok

Ekonom Sumut sekaligus Ketua Tim Pemantau Harga Pangan, Gunawan Benjamin, menyebut penurunan produksi akibat cuaca ekstrem jadi penyebab utama. “Produksi cabai di Karo turun hingga 41 persen karena kemarau panjang, lalu disusul curah hujan tinggi yang merusak tanaman,” jelasnya, Selasa (14/10/2025).

Gunawan menyebut daerah seperti Kuta Buluh, Naga Lingga, Tiga Panah, Kabanjahe, dan Berastagi masih menanam cabai, tapi hasil panen anjlok tajam dibanding tahun lalu.

Ekonom Sumut sekaligus Ketua Tim Pemantau Harga Pangan, Gunawan Benjamin, menyebut penyebab utama lonjakan harga adalah turunnya produksi cabai hingga 41%.

“Selama empat hingga lima bulan terakhir, wilayah pegunungan Karo dilanda kemarau panjang. Begitu musim hujan datang, curah hujan tinggi justru merusak tanaman cabai,” jelas Gunawan.

Beberapa sentra produksi seperti Kuta Buluh, Naga Lingga, Tiga Panah, Kabanjahe, dan Berastagi masih berproduksi, namun hasil panennya menurun tajam dibanding tahun lalu.

Gunawan menjelaskan, hujan deras tak hanya menunda panen, tapi juga merusak tanaman. “Kalau distribusi terganggu, efeknya sementara. Tapi kalau produksi turun, harga bisa tinggi lebih lama, bahkan sampai musim tanam berikutnya,” ujarnya.

Mitigasi Iklim dan Pola Tanam Terpadu Bisa Jadi Solusi

Untuk mengantisipasi krisis cabai berkepanjangan, Gunawan mendorong pemerintah melakukan mitigasi iklim dan pemetaan pola tanam. “Pemerintah harus memperkirakan produksi dan menambah luas lahan cabai secara terencana. Dengan begitu, harga tidak lagi berfluktuasi tajam yang merugikan petani dan konsumen,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya teknologi pertanian agar petani lebih siap menghadapi cuaca ekstrem — baik saat kemarau panjang maupun curah hujan tinggi. “Dengan mitigasi iklim dan perencanaan produksi yang baik, harga bisa stabil. Petani dan konsumen sama-sama diuntungkan,” tambahnya.

Gunawan juga menilai pentingnya teknologi pertanian adaptif agar petani tak selalu kalah oleh perubahan cuaca ekstrem. (Asn)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *