EKBIS  

Harga Cabai di Jawa Melebihi Daging Sapi, di Sumut Masih Wajar, Meski Erupsi Sinabung dan Faktor Cuaca

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Beberapa wilayah di Pulau Jawa masih mengeluhkan melonjaknya harga cabai di angka Rp 100 ribuan per/kg. Hal itu dipengaruhi karena banyaknya lahan rusak dan kondisi gagal panen. Kenaikan harga itu bahkan melebihi dari harga daging Sapi. Namun begitu, kenaikan harga cabai tak merata secara nasionalisme.

Buktinya, di Sumatera Utara (Sumut), harga Cabai sampai hari ini masih terbilang wajar yakni dikisaran Rp 40 ribuan per/kg. Padahal, saat ini kawasan penghasilan cabai di Sumut masih dilanda erupsi dari gunung Sinabung.

“Sejauh ini, memang dampak dari erupsi sinabung belum banyak mempengaruhi kondisi stok di Sumut. Kenaikan harga di Sumut terbilang masih wajar dan tidak begitu besar,” kata ekonom asal Sumut, Gunawan Benjamin, SE, MM kepada wartawan, Senin (15/3/2021).

Menurut Gunawan yang juga Ketua Tim Pemantau Harga Pangan, justru kenaikan harga cabai itu lebih banyak dipengaruhi oleh banyaknya pasokan cabai yang keluar wilayah Sumut. Meskipun kenaikannya tidak begitu besar, namun tetap saja ada gangguan dikarenakan mahalnya harga cabai di luar Sumut tersebut.

Harga cabai diluar Sumut yang menyentuh Rp 100 ribuan per Kg, memicu kenaikan harga cabai di Sumut. Meskipun harga cabai di SUMUT masih bertahan dikisaran angka 40 ribu per Kg nya untuk cabai merah. Cabai rawit harganya lebih rendah dikisaran 35 ribu rupiah per Kg.

“Bahkan Cabai di Sumut sebelumnya sempat hanya dijual dikisaran Rp 22 ribuan sebelum mengalami kenaikan di angka seperti yang sekarang,” sebut Gunawan.

Untuk komoditas pangan lainnya, sambung Gunawan, dampak gangguan cuaca di luar Sumut khususnya Pulau Jawa membuat harga Bawang Merah juga mengalami kenaikan. Bawang Merah meroket seiring dengan buruknya distribusi bawang merah dari Jawa ke wilayah Sumut.

“Akan tetapi, stok bawang masih mampu dipenuhi oleh produksi di wilayah Sumut khususnya tanah karo. Dan harga bawang memang mengalami kenaikan, meskipun masih terbatas dikisaran angka 33 ribu per Kg yang paling mahal di pasar trasdisional saat ini,” paparnya.

“Jadi kesimpulannya erupsi sinabung tidak berpengaruh besar terhadap perubahan harga. Akan tetapi kondisi cuaca yang tidak bersahabat di wilayah lain menjadi pemicu kenaikan harga komoditas di wilayah SUMUT. Meski demikian semua harga tersebut terbilang masih terkendali,” imbuhan Gunawan. (Red/ABC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *