EKBIS  

Daging Babi Curi Start Naik, Ketimbang Daging Ayam dan Sapi

Share

ArmadaBerita.Com

Sejak wabah flu afrika menyerang hewan ternak babi di Sumatera Utara (Sumut) akhir 2019 lalu, membuat harga daging babi tidak ada harganya. Masyarakat pun kuatir akan adanya virus yang menular, padahal flu afrika itu dipastikan aman di konsumsi manusia.

“Nah sekarang, muncul masalah baru, yakni daging babi sekitar 2 kali lebih mahal dari harga sebelum wabah flu menyerang. Dari pantauan saya di pedagang, banyak pedagang pengecer yang menjual daging babi dalam rentang harga 120 hingga 130 ribu per Kg,” kata Gunawan Benjamin, Ketua Tim Pemantauan Harga Pangan, Jum’at (22/1/2021).

Padahal, ungkap Gunawan yang juga meruoakan ekonom asal Sunatera Utara ini, sebelum flu afrika menyerang, harga daging babi itu dijual dikisaran 50 atau 60 ribu per Kg nya. Sedangkan untuk babi hidup harganya sebelum flu menyerang sekitar 25 hingga 35 ribuan rupiah per Kg.

Flu afrika yang membuat banyak babi mati sebelumnya, saat ini menyisahkan masalah karena stok babi potong mengalami penurunan drastis. Mencari indukan sangat sulit. Sementara itu, para pedagang juga tidak mau berlama-lama untuk menahan stok karena tergiur harga yang mahal.

“Jadi dibutuhkan sekitar 2 tahun lagi (asumsi paling lama) stok babi baru mencukupi dan harganya bisa berbalik turun. Dari pantauan saya di kandang babi, juga menemukan bahwa stok di peternak juga masih bermasalah,” sebut Gunawan.

Menurut perincian Gunawan, jumlah stok babi ada yang hanya 30% hingga 50% dari stok normal sebelum wabah menyerang. Gunawan yangbjuga meruoakan analis keuangan ini memastikan, sudah barang pasti konsumen dirugikan disitu. Hal itu juga menjadi momen peternak yang dalam posisi mencari kuntungan, setelah sempat terpuruk di akhir tahun 2019 berlanjut hingga tahun pertengahan tahun 2020.

“Kenaikan harga daging babi ini sebenarnya sudah berlangsung lebih lama dibandingkan kenaikan harga daging ayam maupun sapi. Namun ketika daging ayam maupun sapi serentak terganggu harganya, harga daging babi juga melanjutkan tren kenaikan disitu,” ungkap Gunawan.

Bahkan, bilang dia, daging babi terbilang mengalami kenaikan yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga daging ayam maupun sapi. Temuan dari beberapa pagelaran pesta adat di Sumut memaksa sejumlah penyelenggara menggunakan daging ayam.

“Sumut membutuhkan indukan baru agar mampu mempercepat proses penambahan jumlah stok yang bisa mengurai akar masalah kenaikan harga itu sendiri,” imbuhnya. (Red/ABC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *