Medan, ArmadaBerita.Com
Peningkatan curah hujan yang melanda wilayah Sumatera Utara (Sumut) sejak awal November 2022 ini dianggap sebagai salah satu pemicu meningkatnya inflasi.
“Inflasi di Sumut pada November 2022 ini sedikit meningkat atau sedikit lebih tinggi dari bulan sebelumnya,” kata Kepala BI Sumut, Doddy Zulverdi kepada sejumlah awak media dalam agenda Bincang Bareng Media (BBM) secara langsung di Gedung BI Sumut maupun yang diikuti melalui aplikasi zoom pada Jum’at (25/11/2022) siang.
Prakiraan peningkatan curah dan sifat hujan, sebut Doddy, berpotensi mengganggu produksi beberapa komoditas pangan dan perikanan. Disamping potensi bencana hidrometeorologi dan cuaca buruk yang menyebabkan ombak besar, berlanjutnya kelangkaan solar juga dapat menghambat nelayan untuk melaut.
“Selain itu, masih tingginya harga gabah dan berakhirnya masa panen beberapa komoditas hortikultura di bulan November 2022 diprakirakan turut menjadi faktor pendorong inflasi Sumatera Utara pada bulan tersebut,” sebut Doddy yang turut didampingi Deputi Kepala BI Sumut, Ibrahim dan wakil Deputi Direktur BI Sumut, Poltak Sitanggang.
Namun demikian, lanjut Doddy, koordinasi TPIP (Tim Pengendalian Inflasi Pusat) maupun TPID Provinsi dan Kab/Kota dalam GNPIP, percepatan realisasi alokasi anggaran pengendalian inflasi, dan normalisasi kebijakan moneter Bank Indonesia diprakirakan menjadi faktor penahan inflasi Sumatera Utara lebih tinggi periode November 2022.
“Sebagai dampak spillover eksternal dan domestik, di tengah percepatan pemulihan ekonomi dan normalisasi permintaan masyarakat, inflasi Sumatera Utara pada tahun 2022 diprakirakan lebih tinggi dari 2021 serta berpotensi berada di atas batas sasaran inflasi nasional 3%±1%,” papar Doddy.
Namun demikian, jelas Doddy, terdapat faktor-faktor pendorong dan penahan inflasi yang dapat dicermati dan diantisipasi sebagai langkah pengendalian inflasi.
Diantara faktor pendorong inflasi di Sumut adalah relatif terkendalinya Covid-19 di Sumut yang diperkirakan akan mendorong tetap tingginya mobilitas masyarakat sehingga berdampak pada tetap tingginya permintaan di berbagai sektor usaha.
Kemudian, faktor kenaikan biaya energi dan bahan baku termasuk harga pakan ternak dan harga pupuk, akibat masih berlanjutnya ketegangan geopolitik di Rusia-Ukraina. Lalu, faktor dari potensi bencana hidrometeorologi akibat curah hujan tinggi yang dapat mengganggu produksi dan distribusi komoditas pangan.
Selanjutnya, faktor normalisasi tarif listrik dan kenaikan tarif angkutan udara sebagai dampak pulihnya permintaan dan kenaikan harga bahan bakar avtur. “Dan faktor Implementasi UU HPP berupa kenaikan tarif PPN dan kenaikan harga bahan bangunan di tengah percepatan berbagai proyek pembangunan infrastruktur strategis, serta faktor dari dampak lanjutan kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi per tanggal 3 September 2022,” papar Kepala BI Sumut.
Sementara itu, lanjut Kepala BI Sumut, Doddy Zulverdi, untuk faktor penahan inflasinya terdiri dari faktor produksi, distribusi, dan Konsumsi. Untuk produksi adalah koordinasi program pengendalian inflasi TPID Sumut untuk menjaga ketersediaan pasokan. Kemudian optimalisasi penggunaan pupuk organik, serta Implementasi Digital dan Integrated Farming.
Selanjutnya, perbaikan pola tanam dan pemetaan siklus tanam terutama di daerah produsen pangan. Lalu, optimalisasi peran BUMDes sebagai offtaker produk dari petani.
Di faktor distribusi yaitu; Optimalisasi penggunaan APBD untuk subsidi transportasi, Penguatan pengawasan bersama Satgas Pangan untuk menjaga kelancaran distribusi, dan Optimalisasi peran BUMD sebagai penyalur komoditas pangan strategis.
Untuk faktor konsumsinya yakni; Optimalisasi anggaran APBD untuk perluasan operasi pasar, pasar murah, dan sidak pasar. Kemudian, peningkatan intensitas komunikasi kepada masyarakat untuk menjaga ekspektasi inflasi, serta perluasan sosialisasi mendorong pola konsumsi produk olahan pangan.
“Meskipun, inflasi Sumatera Utara pada akhir tahun 2022 berisiko lebih tinggi dari rentang sasaran inflasi nasional, laju inflasi di Sumatera Utara tetap terkendali. Sinergi dan koordinasi terus diperkuat melalui TPID Provinsi dan Kabupaten/Kota di Sumatera Utara penting dilakukan dalam mendukung program pengendalian inflasi melalui strategi 4K,” pungkas Doddy Zulverdi menyimpulkan. (ASN)











