EKBIS  

BI Dominan Lakukan Kebijakan Moneter, Gunawan Benjamin: Itu Sudah Tepat 

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Gunawan Benjamin menyatakan, motor penggerak ekonomi Sumatera Utara (Sumut) di akhir tahun ini masih sangat terbatas. Belanja pemerintah masih menjadi motor penggerak utamanya. Dan aktifitas ekonomi masyarakat juga belum sepenuhnya menunjukan adanya pembalikan arah yang signifikan. Semuanya masih menunjukan adanya kemungkinan membaik, tetapi belum akan pulih seperti saat sebelum pandemi berlangsung.

Nah, yang paling menarik kata Gunawan yang merupakan Ekonom sekaligus analis keuangan asal Sumut ini mencermati, dari kebijakan BI tentang kebijakan suku bunga acuannya. Dan diketahui bahwa laju tekanan inflasi di Indonesia termasuk Sumut terbilang rendah. Untuk Sumut secara YTD (Year to Date) belum mencapai 1%. Dan suku bunga acuan BI 7 DRR masih bertahan di level 4%.

“Artinya apa? Harusnya besaran suku bunga acuan BI itu pada dasarnya masih memiliki ruang untuk menguat lebih jauh. Tetapi BI belakangan sangat dominan dalam kebijakan moneternya, tetapi tidak dengan kebijakan suku bunga acuannya. Saya menilai apa yang dilakukan BI itu sudah tepat,” sebut Gunawan kepada wartawan, Minggu (8/11/2020) sore.

Untuk kebijakan suku bunga acuan, Gunawan menilai memang tidak harus selamanya mengacu kepada laju tekanan inflasi saja. Harus juga dipertimbangkan kebijakan lainnya seperti menjaga nilai tukar.

“Ditengah resesi seperti sekarang ini. Nilai tukar Rupiah jangan sampai bergerak liar karena sangat berpeluang untuk memicu terjadinya resesi yang lebih besar,” kata dia.

Sejauh ini, jelasnya lagi, suku bunga acuan Bank Sentral AS memang berada di kisaran 0%. “Tetapi bukan berarti kita harus mengikuti dan menyesuaikannya kearah yang sama. Sekalipun inflasi kita terbilang kecil belakangan ini,” jelasnya.

Ubtuk kebijakan lain yang dilakukan BI, seperti pendanaan APBN, sekalipun ini merupakan kebijakan yang dinilai kurang baik dalam tatanan ekonomi, tetapi, BI ikut terlibat secara langsung dengan membantu pemerintah menyelamatkan daya beli masyarakat. “Melalui skema pembelian SBN di pasar perdana dan secara langsung,” tegasnya.

Pelonggaran kebijkan moneter dengan dengan injeksi ke perbankan oleh BI juga dianggap sangat membantu dalam program penyelamatan ekonomi nasional. Hal itu terbukti ditengah resesi perbankan kita masih mampu bertahan sejauh ini. Dan tentunya hal tersebut sangat mendukung kerangka kebijakan pemerintah dalam meminimalisir dampak buruk pandemi Covid-19 terhadap ekonomi nasional.

Jadi, lanjut Gunawan Benjamin, apa yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) belakangan ini merupakan suatu hal yang tidak biasa dilakukan oleh BI sebelumnya.

“BI terlibat secara langsung dalam menyokong APBN sehingga pemerintah bisa memberikan bantuan sosial, menjaga stabilitas ekonomi makro, pendanaan non public goods-UMKM, terlibat dalam program penyelematan ekonomi nasional (PEN) hingga mampu meminimalisir dampak resesi,” ungkapnya.

Yang paling penting lagi, papar Gunawan, kerangka kebijakan ekonomi yang dilakukan BI dengan membantu program pemerintah tersebut berlandaskan atas aturan baku yang jelas yang justru tidak merugikan Bank Indonesia di kemudian hari. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *