Bogor, ArmadaBerira.Com – Di tengah hiruk-pikuk kota besar, ruang hijau kian menyempit, sementara kebutuhan pangan terus meningkat. Namun, di sela dinding beton dan lalu lintas padat, sekelompok akademisi dari Universitas Pertamina (UPER) memilih menanam harapan yakni solusi berbasis energi surya bagi pertanian, Rabu (29/10/2025).
Mereka percaya bahwa ketahanan pangan tidak hanya tumbuh di ladang luas, tetapi juga bisa hidup di atap rumah, halaman sempit, atau sudut kota yang selama ini terlupakan. Gagasan inilah yang melahirkan proyek urban farming berbasis energi surya, kolaborasi antara Program Studi Teknik Elektro dan Manajemen UPER di komunitas Pagi Farm, Bogor.
Pagi Farm, sebuah komunitas pertanian di Bogor yang selama ini fokus pada produksi sayuran hidroponik, menghadapi satu masalah besar. Di mana biaya listrik. Pompa air, sistem aerasi, hingga pencahayaan harus menyala hampir tanpa henti. Tagihan listrik pun menekan margin keuntungan petani kota ini.
Melihat kondisi itu, tim dosen dan mahasiswa UPER turun tangan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Dipimpin oleh Dr. Soni Prayogi, M.Si., bersama Dr. Eng. Muhammad Abdillah, S.T., M.T., dan Arif Murti R., Ph.D., mereka merancang sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1.000 Wp untuk menopang seluruh instalasi hidroponik.
Empat panel surya, satu inverter hybrid, dan baterai penyimpanan energi menjadi jantung baru Pagifarm. Hasilnya tak hanya menghemat listrik hingga 70 persen, tapi juga memangkas biaya operasional sekitar Rp250.000–Rp300.000 per bulan.
Tak berhenti di sana, sistem PLTS ini dipadukan dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan kondisi tanaman dan energi secara real-time melalui aplikasi Android. Dengan teknologi ini, petani bisa menyesuaikan pencahayaan atau aliran air cukup lewat ponsel, praktis dan efisien.
Menurut Dr. Soni, efisiensi energi bukan sekadar soal penghematan, tapi juga kunci keberlanjutan. “Urban farming bisa memperkuat ketahanan pangan, tapi selama masih boros energi, ia belum benar-benar berkelanjutan. Karena itu, kami ingin menunjukkan bahwa energi bersih bisa menjadi solusi bagi pertanian kota masa depan,” jelasnya.
Bersama tim mahasiswa lintas prodi, UPER juga memberikan pelatihan, modul operasional, dan dashboard digital yang membantu Pagifarm mengelola data produksi serta konsumsi energi. Hasilnya nyata: produktivitas tanaman meningkat 10–15 persen, siklus panen lebih cepat, dan pengelolaan kebun menjadi jauh lebih terstruktur.
Melihat keberhasilan awal ini, tim UPER berencana memperluas kapasitas PLTS hingga 2.000 Wp, lengkap dengan sistem pencahayaan pembibitan dan sensor kelembapan tanah. Harapannya, inovasi ini bisa menjadi model percontohan bagi komunitas urban farming lain di Indonesia.
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU., menyebut proyek ini sebagai bukti nyata semangat kolaborasi kampus. “Kami ingin teknologi dan bisnis energi yang kami ajarkan di kelas dapat menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Inovasi seperti ini membuktikan bahwa keberlanjutan bukan hanya konsep, tapi tindakan konkret,” ujarnya.
Di antara kilau panel surya dan gemericik air hidroponik Pagifarm, tampak jelas bahwa harapan bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tengah beton. (*/Asn)











