TEMANGGUNG, ARMADA BERITA – Sebuah perjalanan mengasyikkan telah membuka mata dan hati para peserta kegiatan kebhinekaan di Temanggung, tempo hari. Bertemu dengan teman-teman dari berbagai latar belakang suku, ras, bahkan agama dari seluruh penjuru Indonesia, telah menjadi pengalaman mendalam yang menumbuhkan rasa bangga kami sebagai warga negara Indonesia.
Hari pertama di GKI Temanggung, Pak Soleh dari FKUB mengungkapkan pemikiran yang mendalam, “Menjaga agama adalah urusan komunitas masing-masing, tapi menjaga kebhinekaan adalah tugas kita bersama.” Pernyataan ini menjadi pendorong semangat kami di awal kegiatan.
Di hari kedua, kami berkunjung ke gereja Katolik dan GKI. Kunjungan tersebut sangat memperkaya pemahaman akan budaya agama. Pastor dengan penuh semangat menerangkan sejarah gereja Katolik, sedangkan Pdt. Adon memberikan pemahaman yang dalam, “Ketika jatuh cinta kepada seseorang, kita selalu mau mengajaknya ke keselamatan, namun tidak dengan memaksa.”
Kupasan soal Pemuda dan Realitas Kebhinnekaan (KBB) di Indonesia oleh Pdt. Jimmy menjadi poin penting dengan membahas pasal 29: 2. Ayat ini menegaskan soal kebebasan beragama. Ice breaking yang segar meramaikan diskusi panjang tentang KBB, diiringi dengan pernyataan bahwa toleransi membutuhkan pengorbanan.
Kunjungan berlanjut ke markas Nahdlatul Ulama (NU). Dalam kunjungan itu Pdt. Zaky menyoroti provokasi damai. Pertanyaan mengemuka, “Apakah pemuda bisa mendeklarasikan perdamaian dan membimbing masyarakat menolak kekerasan?” Kelebihan pemud, seperti menguasai media sosial dan teknologi, menjadi kunci dalam menjaga konsistensi.
Hari ketiga, kegiatan dipenuhi dengan games outdoor yang mendalam maknanya. Permainan ini memberikan pengalaman tentang kebhinekaan dan persatuan.
Tak lupa, kunjungan ke klenteng menambah wawasan kami tentang budaya dan kepercayaan, di mana antusiasme warga klenteng dalam membagikan pengetahuan menciptakan atmosfer yang menyenangkan.
Malamnya, undangan dari NU untuk merayakan peringatan hari kelahiran Gus Dur menjadi momen indah kebhinekaan di Temanggung. Representasi dari setiap agama hadir dalam duduk bersama, santai bareng hingga diskusi menyentuh hati.
Di hari keempat, perpisahan di Balai Kota Temanggung pun diselenggarakan. Pertunjukan tarian, nyanyian, drama, dan permainan mengenai budaya Indonesia menjadi puncak yang meriah, mengakhiri kunjungan yang penuh makna ini.
Keharmonisan dan persatuan melalui kebhinekaan terus menginspirasi, memberikan keyakinan bahwa perbedaan adalah kekayaan bersama yang harus dijaga dengan rasa cinta dan pengertian. (*)
Poibe Renatha Y. Simorangkir
Penulis tinggal di Sumatera Utara











