Jakarta, ArmadaBerita.Com – Universitas Pertamina menjadi tuan rumah International Conference on Interdisciplinary Collaboration for Resilience and Sustainability (ICONIC-RS) 2025, konferensi internasional yang membahas kolaborasi global menghadapi risiko perubahan iklim dan transisi energi.
Acara yang telah berlangsung pada tanggal 8 Oktober 2025 di Jakarta ini mempertemukan lebih dari 100 peserta dari 10 negara, dan menghasilkan 55 publikasi ilmiah yang menyoroti isu strategis seperti environmental, social, and governance (ESG), risiko keuangan, manajemen energi, serta komunikasi risiko.
Letusan Gunung Merapi dan Super Topan Ragasa yang melanda Asia baru-baru ini menjadi pengingat nyata meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 3.850 kejadian bencana di Indonesia sepanjang 2025, didominasi banjir, longsor, dan cuaca ekstrem. Secara global, World Economic Forum (2025) menempatkan cuaca ekstrem sebagai risiko terbesar kedua dunia (14%) setelah konflik bersenjata (23%). Kondisi ini menegaskan bahwa perubahan iklim kini berdampak langsung pada ketahanan energi dan stabilitas ekonomi.
Menanggapi tantangan tersebut, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menegaskan komitmen Pertamina dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui inovasi berkelanjutan. “Pertamina mengembangkan biofuel B35, teknologi rendah karbon, serta berkolaborasi dengan Universitas Pertamina melalui Pertamina Sustainability Center sebagai pusat riset keberlanjutan energi,” ujarnya.
Dari sisi kebijakan, Staf Ahli Bidang Perencanaan Strategis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman P. Hutajulu menilai bahwa transisi energi merupakan langkah strategis untuk menjamin keamanan pasokan energi nasional. “Bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia saat ini mencapai 57,9 GW dan ditargetkan meningkat menjadi 87,67 GW pada 2029,” jelasnya.
Sementara itu, President Director Pertamina Foundation Agus Mashud S. Asngari menekankan bahwa pembahasan risiko global tidak hanya relevan bagi sektor energi, tetapi juga bagi keberlanjutan sosial dan ekonomi. “Perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, dan krisis energi saling berkaitan dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” tuturnya.
Agus juga menyoroti peluncuran Pertamina Net Zero Emission Roadmap 2025 sebagai langkah penting menyelaraskan komitmen nasional dengan aspirasi global. Melalui inisiatif Blue Carbon, pemberdayaan UMKM, dan program beasiswa, Pertamina Foundation berupaya mengubah risiko menjadi peluang. “Kolaborasi adalah kunci untuk mengubah tantangan menjadi solusi nyata,” tambahnya.
Rektor Universitas Pertamina Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU. menutup konferensi dengan menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dan lintas negara dalam menghadapi krisis global. “ICONIC-RS menjadi contoh nyata kolaborasi yang mempertemukan para pakar dari Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat, serta menghubungkan perspektif teknik, ekonomi, komunikasi, dan diplomasi,” ujarnya.
Menurut Prof. Wawan, pendekatan multidisipliner penting agar ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan solusi konkret. “Melalui kolaborasi ini, kita belajar menerjemahkan ilmu menjadi kebijakan, dan gagasan menjadi dampak nyata bagi masyarakat. Inilah semangat Universitas Pertamina dalam memperkuat peran pendidikan tinggi menghadapi risiko global,” pungkasnya. (Asn/*)











