EKBIS  

BI Sumut Gandeng CEO Jouska, Presiden Bukalapak, dan Director at DANA Perkenankan QRIS ke Kaum Milenial

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara terus gencar memperkenalkan sistem pembayaran berbasis digital, yakni sistem pembayaran melalui aplikasi uang elektronik, server based, dompet elektronik atau mobile banking yang disebut QR Code Indonesian Standard (QRIS).

Hal itu dilakukan dalam menghadapi kebijaksanaan keuangan di era digital.

Kali ini, BI Sumut mengajak kaum melinial. Untuk menambah wawasan dan rangsangan kaum milenial, BI Sumut turut menghadirkan, Aakar Abyasa selaku CEO Jouska, Financial Planner, dan Fajrin Rasyid selaku President Bukalapak, serta Dedy sahat director at DANA.

Ratusan kaum milenial yang berbeda profesi seperti dari dokter, pelaku usaha, mahasiswa dan sebagainya terlihat antusias mendengarkan paparan dari Kepala BI Sumut, Wiwiek Sasto Widayat dan para nara sumber yang dilaksanakan di Convention 2, Hotel Santika Dyandra Medan, Sabtu (14/3/2020) siang.

Dalam membuak acara tersebut, Wiwiek yang turut juga dihadiri pejabat BI Sumut lainnya seperti, Andiwiana, Ibrahim dan lainnya menyebut, bahwa sosialisasi tentang QRIS sudah lama dilakukan.

Pekan QRIS nasional dimulai 2 minggu yang lalu. Perkenalan 1 minggu dilakukan BI lewat beberapa media dan 1 minggu terakhir dengan cara sosialisasi, destiminasikan ke pelaku ekomi, kawan-kawan mahasiswa dan sebagainya.

“Kami punya 40 kantor di masing-masing provinsi dan semua memperkenalkan QRIS ini yaitu instrument pembayaran non tunai. (Standarisasi terhadap semua pembayaran aplikasi yaitu melakukan pembayaran dengan dompet elektronik),” kata Wiwiek.

Saat ini, sambungnya, banyak QR (banyak dompet-dompet digital) seperti, Ovo, Dana, Gopey, dan lainnya yang mengeluarkan QR tersebut. Maka dari itu, maksud dikeluarkan QRIS adalah untuk menjadikan satu dari semua itu.

“Jadi di HP kawan-kawan tak perlu punya banyak QR yaitu hanya QRIS aja. Tidak perlu lagi banya Marchen. QRIS tujuannya cuma satu, untuk menyetandarkan, menjadikan satu. Oleh karena itu kami punya taqline yaitu sifatnya Unggul artinya bisa digunakan semua yang dilakukan masyarakat,” jelasnya.

Meski pertumbuhan uang digital pertumbuhannya sangat pesat, Direktur BI perwakilan Sumatera Utara Andiwiana menegaskan bahwa uang kertas tidak akan tergantikan.

Sementara, Dedi Sahat mengakui, percepatan pengguna HP sangat pesat dan jauh sekali. Seperti yang dikembangkan oleh DANA yang juga menggubakan dompet elektronik. Dana bak seperti emoney. Namun perbedaanya di DANA diperkuat berbasis server HP, namun tapi juga bisa menempelkan dengan kartu bank.

“DANA bisa transaksi penjualan dan pembelian. Seperti mitra online Buka Lapak, juga offline seperti belanja di grai-grai perbelanjaan. Hampir semua pembayaran menggunakan digital, baik parkir, pembayaran mall dan sebagainya,” papar, Dedi Sahat.

Fajrin Rasyid, Presiden Buka Lapak mengungkapkan, tahun 2010 atau di tahun sebelum itu, basis dunia digital dianggap belum menjadi trend yang sangat diwajibkan. Namun sekarang dimulainya banyak ecomers dan fintech hampir seluruhnya menggunakan mobile phone.

“Nah itu lah yang membedakan dan mendukung hingga berkembang yang diprediksi 2 ribuan triliun di tahun 2025 mendatang,” jelasnya.

Sedangkan Aakar Abyasa, CEO Jouska Indonesia tak kalah dengan nara sumber lainnya. Ia banyak mengupas mengenai pengelolaan keuangan dan tantangan yang dihadapi. Dihadapan kaula muda yang hadir, ia memberikan trik agar melakjkan pengelolaan keuangan yang bijak dan cerdas dengan pengelolaan keuangan di era digital.

“Ekonomi berbeda terus. Untuk mengatur litarasi keuangan harus hati-hati dan jangan serahkan. Karena banyak sudah contohnya seperti penipuan investasi bodong,” pungkasnya.

Kegiatan yang diisi dengan sesi tanya jawab itu pun berakhir dengan kepuasan dan pengetahuan bagi para tamu termaksud mayoritas kaum milebial yang usianya 25 sampai 30-an. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *