NEWS  

Semangat Kakek Subari, Pedagang Balon Disabilitas Menghidupi Keluarga

Subari, kakek 69 tahun pedagang balolon keliling yang berjualan untuk kebutuhan hidup dan keluarga.
Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Subari (69 tahun), warga Jalan Starban, Medan, mengisahkan semangat tiada henti setiap harinya menjajakan balon di sepanjang Jalan Dr. Masyur, Jum’at (12/1/2024) sore.

Sebagai keturunan Chinese, Subari, dengan nama asli Tan Hengsu, adalah sumber inspirasi yang tak terbantahkan.

Perjuangan Subari dalam menjalani hidupnya dipenuhi kisah mengharukan setelah kecelakaan pada tahun 1977. Kecelakaan dengan bus kota di Medan menyebabkan kakinya patah dan harus diamputasi. Walaupun harus hidup dengan satu kaki, keterbatasan fisik tidak melunturkan semangatnya.

Subari menjelajahi Medan dengan becak motor, bantuan dari rumah zakat, untuk bertahan hidup. Meski hanya menjajakan balon, ia dengan semangat tinggi memberikan nafkah bagi anak dan istrinya yang bekerja sebagai ibu domestik.

“Istri di rumah hanya menjaga cucu. Anak saya ada 3, tapi baru satu yang berumahtangga dan ikut tinggal dengan saya. Anak saya yang sudah menikah kerja sebagai kuli bangunan dan itulah yang ikut membantu ekonomi kami,” kata kakek 3 cucu ini saat diwawancarai wartawan Jum’at sore.

Kakek Subari, penyandang disabilitas yang menjajakan balon sebagai barang dagangannya. (Dok. ABC)

Sosok tangguh, Subari, berjualan balon untuk mencukupi kebutuhan dasar, dan hasilnya hanya cukup untuk makan. Sore itu, di Jalan Doktor Mansyur, Subari menawarkan balonnya ke para pelanggan kuliner kolak durian. Meskipun belum banyak pembeli, semangatnya menjadi inspirasi di tengah keramaian pelaku UMKM di trotoar.

Dengan dua tongkat sebagai penopangnya, Subari, yang hampir mencapai usia 70 tahun, tetap berjalan dengan semangat tinggi. Keterbatasannya tak menghalangi kontribusinya dan melihat masa depan dengan harapan.

Namun, di tengah keriuhan kampanye politik, Subari hanya berharap mendapatkan recehan. Sementara elit politik sibuk menjual isu-isu kemiskinan dan disabilitas, Subari hanya menjadi pion di dalam permainan politik tanpa ada yang benar-benar hadir untuk membela. Di mata elit politik, Subari terabaikan sebagai bagian dari suara rakyat yang perlu dibela.

Sebab, Subari mengaku meski sekarang memasuki tahun Politik, namun belum ada Calon Legislatif yang membantunya secara langsung. Pun begitu, Subari tak mau banyak berharap. Sebagai seorang muallaf yang telah memeluk islam sepenuhnya, ia mengaku hanya mengharapkan kuasa Ilahi Robbi.

Menjelang sore menjajakan balon dagangannya, Kakek Subari pun beranjak pulang. Untuk menuju sepeda motor yang sudah didesain jadi Betor, Kakek Subari harus menyebrang jalan dengan kedua tongkatnya. “Becak saya ada di seberang jalan,” ucapnya sembari menunjuk ke arah Betor miliknya yang terparkir di pinggiran jalan. (ASN/Dewa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *