Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat, di Sumut Ekspor Sawit Anjlok

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Eks Kepala Bank Indonesia Perwakilan Sumatera Utara (BI Sumut), Doddy Zulverdi didampingi Kepala BI Sumut yang baru dijabat IGP Wira Kusuma menyebut, situasi ekonomi global (dunia) di tahun 2023 pada intinya masih dalam trend perlambatan dari perkiraan 2,6 persen dibanding tahun lalu 3,1 persen.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi global tersebut dikarenakan implikasi dari geopolitik dan respon kebijakan negara utama khususnya dari kenaikan suku bunga yang berdampak kepada perlambatan permintaan domestik.

“Hal itu juga menjadikan inflasi cukup tinggi dari 6,5 sampai 6,8,” kata Doddy Zulverdi yang kini menjabat Kepala BI Perwakilan Jawa Timur ini pada pertemuan Pisah Sambut sekaligus Halal Bi Halal dan Bincang Bareng Media (BBM) yang diselenggarakan di Gedung BI Sumut Lt 9 Medan, Senin (8/5/2023) siang.

Meski begitu, bilang Doddy, perlambatan ekonomi khususnya bagi negara-negara maju dunia terbilang masih berjalan maju, meskipun melambat. Apalagi adanya dukungan dari Tiongkok yang telah membuka ekonominya pasca Covid-19.

Namun situasi global itu berdampak kepada domestik di Indonesia. Dampaknya saat ini yang dirasakan adalah menurunnya harga komoditas ekspor. Komoditas ekspor seperti Tembaga, Batu Bara, CPO, karet dan lainnya menurun dibanding tahun lalu.

“Harga komoditas Ekspor relatif menurun yang berdampak sisi ekspor kita. Ekonomi nasional Triwulan I masih 5,1 dan ini perlu disyukuri. Ekonomi kita masih bertahan itu karena komponen-komponen domestik. Dukungan dari konsumsi rumah tangga masih tumbuh di 4,54 dan ini masih lebih baik dari Triwulan IV tahun lalu. Meski ini belum terlalu baik,” aku Doddy.

Dari kanan, Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut, Ibrahim, Kepala BI Sumut IGP Wira Kesuma, Kepala BI Jawa Timur, Doddy Zulverdi dan Kepala Divisi Pengembangan dan Ekonomi BI Provinsi Sumut, Poltak Sitanggang. (ASN)

Pun begitu, jelas Doddy, ekonomi Sumut juga masih stabil. Disisi lain mengalami perlambatan, namun masih cukup kuat. Di Sumut, yang paling berpengaruh adalah anjloknya harga komoditas CPO (Sawit). Apalagi diketahui kalau Sawit menjadi unggulan ekspor bagi Sumatera Utara. Dan sektor perkebunan di Sumatera Utara menjadi faktor yang berkontribusi ekspor.

“Menurunnya ekspor CPO/sawit karena menurunnya harga sawit,” bilang Doddy.

Dalam menindaklanjuti upaya menurunnya ekspor, Doddy Zulverdi mengaku kalau Bank Indonesia bersama pemerintah telah melakukan berbagai upaya. Salah satunya, mempromosikan olahan sawit.

“Sawit bisa menjadi produk kosmetik dan bisa kita dorong untuk dikonsumsi tanpa harus diekspor. Kalau bisa kita healing produk sawit, karet dan lain-lain untuk di Indonesia sendiri pasti bisa mengurangi pelemahan nilai ekspor yang memitigasi perlambatan ekspore,” jelasnya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *