EKBIS  

OJK Selamatkan UMKM

Share

Oleh: Arvin Syahputra Nasution

Tak pernah terbayangkan olehnya akan datang masa pagebluk yang merevolusi kehidupan manusia sebegitu dahsyat. Pagebluk meremukkan seluruh sendi kehidupan, termasuk sendi ekonomi. Karena tak ada persiapan apa-apa, Irfani seperti menghadapi “mimpi buruk” dalam menjalankan usaha songketnya.

Betapa tidak, sejak pandemi berlangsung, pemerintah harus bekerja keras menangkal penyebar-luasan virus corona dengan mengetatkan penerapan protokol kesehatan, salah satunya dengan membatasi aktivitas masyarakat di luar rumah dan wajib menghindari keramaian orang.

Pengetatan protokol kesehatan itu berdampak pada penjualan usaha kain songket yang dikembangkan Irfani. Akibatnya, lebih dari separuh omzet penjualan songketnya anjlok. Pasalnya, pangsa pasar kain songket tak lain adalah acara-acara hajatan, pesta pernikahan dan pentas seni budaya.

Semasa pagebluk ini, demi menerapkan protokol kesehatan, acara-acara hajatan batal, pesta nikah ditunda, kegiatan seni budaya ditiadakan. Segala hal yang berkaitan dengan “keramaian” musti dihindari. Irfani pun gigit jari.

“Saat awal pandemi, teras sekali dampaknya. Omzet berkurang lebih dari 50 persen. Sampai-sampai, saya nyaris tidak bisa memberikan THR kepada karyawan. Tetapi, itu sudah kewajiban saya. THR tetap saya berikan, dengan cara dua kali cicil,” kata Irfani.

Dalam situasi ekonomi terpuruk, Irfani sempat berpikir untuk merampingkan karyawannya. Pilihan itulah yang paling memungkinkan.

Namun, ia sadar betul, ketika usahanya berjaya, itu tak lepas dari kontribusi, dedikasi dan loyalitas seluruh karyawannya. Karena itu, ia membuang jauh ide soal perampingan karyawan itu dari benaknya. Ia bertekad untuk mempertahankan seluruh karyawannya, betapa pun sulitnya.

Namun untuk bisa mempertahankan 35 orang karyawannya, dengan tidak mengurangi hak-hak mereka secuilpun, Irfani harus bisa memastikan usahanya berkembang dan membuahkan hasil yang baik. Mulailah ia putar otak. Usaha songketnya harus tetap berproduksi.

Ia memutuskan untuk berinovasi. Kain songketnya dijahit untuk membuat tas, masker dan beragam jenis assesoris yang biasa dipakai pada acara pesta.

“Nah, kami bikin masker dari kain songket. Sejak kita bikin masker, terbantulah. Alhamdulilah, kita masih bisa bertahan sampai sekarang ini,” ucapnya, saat ditemui di rumah produksinya di Jalan Kutilang No.8, Dusun VI, Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Oktober 2020 lalu.

Irfani memanfaatkan sisa kain tenun songket untuk membuat masker. Apalagi masker lagi bumming awal pandemi. Dengan produk baru ini, ia berhasil merebut pangsa pasar yang baru, sekaligus turut bersumbangsih mendukung upaya pemerintah melawan Covid-19.

“Alhamdulillah, masker songket kita diminati banyak orang,” imbuh perempuan lulusan S-1 Jurusan Komunikasi Visual, Universitas Bina Nusantara, Jakarta itu.

Selain berinovasi dalam menciptakan produk baru berbahan songket, Irfani juga berinovasi dalam strategi penjualan. Jika selama ini penjualannya cenderung offline, kali ini Irfani mengandalkan sistem online. Ia memasarkan produk-produknya lewat market place seperti Moselo dan aplikasi lainnya.

Ia juga gencar menghubungi pelanggan-pelanggannya hingga perusahaan-perusahan yang potensial. Alhasil, atas kerja keras, inovasi dan kolaborasi, usaha Songket Melayu Deli yang dijajakankan Irfani tidak jadi gulung tikar. “Jadi kita harus punya inovasi dan harus lebih peka melihat pasar kebutuhannya apa. Tetap berusaha dan jangan patah semangat, insyaallah berhasil,” katanya.

Irfani menyadari, ketika ia berani mempertahankan seluruh karyawannya dan tetap memenuhi hak mereka, karena ia mendapatkan simbiosis mutualisme. Kini ia mendapatkan loyalitas karyawannya jauh lebih loyal.

Belum lagi karena usaha songket yang dikelola Irfani turut bergabung dengan Dewan Kesenian Nasional Daerah (Dekranasda) Sumut. Bergabung di Dekranasda memberinya kesempatan lebih besar untuk memperlengkapi keterampilan karyawannya.

Dekranasda Sumut kerap menggelar berbagai pelatihan yang melibatkan pemangku kewajiban (stakeholder) dan para praktisi keuangan. OJK Kantor Regonal 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) sendiri giat memberi pelatihan ke para pelaku UMKM binaan Dekranasda di 33 Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara. Setiap pelatihan yang diinisiasi, OJK turut mengikutsertakan stakeholder semisal dari perbankan maupun marketplace seperti shopee Indonesia, dan lainnya.

Rajin ikut pelatihan, menjadikan Irfani lebih siap menghadapi berbagai resiko bisnis. Ia semakin terampil, terlatih dan memiliki wawasan yang luas. Meski ia terbilang baru dalam dunia wirausaha ini. Irfani memutuskan untuk terjun penuh mengembangkan usaha songket sejak 2016, saat masih berfokus di satu tempat produksi yang pertama di Jalan Putri Hijau No.10, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan. Ketika itu, ibunya Dr. Hj. Tengku Syarfina, M.Hum memilih untuk pensiun.

Sebelum purnabakti, Syarfina mewariskan usahanya dengan lima jenis kain songket yakni motif daun tembakau deli, melati, daun ulam raja, anggrek dan katuk tampuk glugur. Semuanya itu memang diperuntukan khas Melayu Deli.

Syarfina memang sengaja menarik pelanggan dari orang Melayu dan generasi kesultanan di tanah Deli Serdang, Kota Medan, hingga mencakup Sumatera Utara. Meski pensiun, Syarfina juga tidak melepaskan Irfani begitu saja. Tahap demi-tahap, ia terus mendampingi putrinya itu dalam mengembangkang bisnis, sebelum akhirnya Syarfina harus hijrah ke Jakarta untuk menikmati masa tuanya.

Namun, Irfani sosok pembelajar tangguh. Ia gigih dan tekun belajar. Atas kerja kerasnya, usahanya pun berkembang. Ia pun berhasil membuka tempat pelatihan dan pengerajin Songket di dua tempat. Suatu pencapaian yang hebat.

Tak hanya itu, kain songket khas Melayu Deli yang dikelolanya diminati banyak warga, termasuk dari berbagai instansi pemerintah. Sampai-sampai pasar produknya merambah ke kancah internasional. Kain songketnya menjangkau hingga ke Singapura dan Amerika Serikat.

Irfani mensyukuri, semua perkembangan usahanya tak lepas dari dukungan Dekranas yang sering dilatih OJK. Utamanya di masa pandemi Covid-19. Semasa pandemi ini, OJK kerap menggelar pelatihan, meski secara virtual. Pelatihan virtual itu sangat membantu. Dan Irfani tidak sendiri. Setiap kali pelatihan virtual digelar OJK, ada puluhan peserta dari berbagai jenis UMKM ikut serta.

Pengerajin Terbantu

Dengan bangkitnya usaha songket Irfani, membuat banyak pengerajin terbantu. Para karyawannya yang sebagian besar bekerja secara upahan itu batal menganggur karena usaha Irfani tak jadi kolaps dan malah mulai berjaya kembali.

Asni (43), salah satu contohnya. Ibu empat anak yang merupakan warga Desa Sei Rotan, Deli Serdang itu menuturkan, perekonomian keluarganya stabil selama masa pandemi, karena majikannya tetap membayar upah dan THR tanpa ada pengurangan. Melihat sikap majikannya yang sangat peduli padanya, Asni memilih tetap bertahan menjadi penenun songket bagi usaha Irfani.

“Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bekerja sekaligus ikut pelatihan di sini. Bekerja di sini sangat membantu, karena sebelumnya, saya tidak berpenghasilan sebagai ibu rumah tangga. Tetapi sebagai penenun saya digaji,” urai Asni.

Asni bercerita, awalnya ia sama sekali buta soal menenun. Timbul niat untuk bertenun karena diajak oleh Irfani. Ia diyakinkan bahwa keterampilan bertenun bisa dilatih, dan kelak ia bisa membantu perekonomian keluarganya. Hanya butuh 6 bulan bagi Asni belajar menenun. Sekarang ia mulai mahir. Setidaknya ia telah mampu menenun kain berupa sarung bantal, taplak meja, dan lainnya. “Dari pada di rumah nggak ada kegiatan, dengan bertenun, saya bisa bantu ekonomi keluarga saya. Apalagi masa sekarang ini ekonomi sangat sulit,” imbuhnya.

Asni tidak sendiri. Ada 30-an penenun lainnya, termasuk Nasya Azahra, gadis remaja usia belasan tahun. Namun tampaknya, ia sangat senang bertenun. Setiap hari ia belajar bertenun di rumah produksinya Irfani. Dia bergabung dengan sekelompok ibu-ibu yang juga tak kalah antusias belajar bertenun.

Sebagai pelajar kelas 2 SMP, pelajaran dari sekolah tak pernah ia lewatkan. Ia selalu menuntaskan pelajarannya dari guru secara online baru kemudian ia belajar bertenun. “Sekolah dan belajar masih tetap, kan lewat online. Dari hasil bertenun, sekarang saya bisa bantu ibu,” ujarnya.

Penggerak Ekonomi di Massa Pandemi

Kepala OJK Kantor Regonal 5 Sumatera Bagian Utara (Sumbagut), Yusup Ansori menyadari, pentingnya pemberdayaan UMKM untuk terus dilakukan secara intensif dan kolaboratif antar berbagai pihak, khususnya dalam masa pandemi Covid-19. Sebab, UMKM diyakini dapat menjadi penggerak perekonomian bangsa di masa pandemi Covid-19.

Hal itu didasari pada fakta, sekitar 60 juta warga kita adalah pelaku UMKM, yang pada 2019 menyerap hampir 95 persen dari total seluruh tenaga kerja. UMKM juga berkontribusi sebesar 61 persen terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto.

“Pemberdayaan dapat berupa peningkatan literasi keuangan, asistensi penguatan kompetensi kewirausahaan, fasilitasi akses permodalan, pendataan UMKM potensial secara berkelanjutan ke dalam Sistem Informasi Kredit Program,” kata Yusup.

Pemberdayaan itu, kata Yusuf, harus berlanjut pada perluasan akses pasar melalui fasilitasi pelaku UMKM untuk Go Platform Digital melalui Marketplace, yang akan membantu menjembatani pelaku UMKM untuk tetap dapat berproduksi dan memasarkan produk/jasa yang dihasilkan meskipun di masa pandemi Covid-19.

Terobosan yang dilakukan OJK mengingatkan kita pada krisis ekonomi ’98 dan 2008. Ketika itu, sektor UMKM terbukti menjadi tulang punggung ekonomi. Dan saat ini, sektor UMKM justru paling rentan terimbas pandemi Covid-19. OJK pun turut terlibat aktif menyelamatkannya. OJK mendorong para pelaku UMKM untuk menciptakan peluang usaha baru dengan menyesuaikan perilaku belanja masyarakat yang mengarah pada layanan daring, seperti dicetus Irfani.

Yusup Ansori juga menyebut, salah satu sektor UMKM yang dapat dijadikan sasaran yaitu sektor kerajinan (kriya) dan industri kreatif bernuansa kedaerahan, sebagai bentuk keberpihakan dan kolaborasi bersama dalam melestarikan dan memperkenalkan kekayaan budaya dan tradisi di Sumatera Utara.

Nawal, Ketua Dekranasda Sumut memuji terobosan OJK Kantor Regional 5 Sumbagut menyelamatkan para pelaku UMKM. Pasalnya, kegiatan pelatihan yang diinisiasi OJK sejalan dengan visi dan misi serta sasaran strategis Dekranasda Sumut yakni meningkatkan daya saing, perluasan akses pasar dan akses jasa keuangan, peningkatan fungsi kemitraan dengan berbagai pihak.

“Termasuk pemanfaatan teknologi informasi dalam memperluas jaringan pemasaran produk para pelaku UMKM pengrajin dan pelaku industri kreatif di Sumatera Utara,” ujar istri Gubsu Edy Rahmayadi itu.

Terlebih di masa pandemi Covid-19, banyak pelaku UMKM sektor kerajinan dan industri kreatif yang terkena imbas dari sisi ekonomi, dikarenakan tidak dapat berinteraksi di pasar akibat pembatasan ruang dan gerak. Melalui pelatihan-pelatihan virtual ini, kata Nawal, seluruh peserta belajar bisa berinovasi dan berkreativitas guna memajukan usahanya masing-masing.

“Pelaksanaan kegiatan ini juga merupakan gerbang awal pembuka untuk bentuk-bentuk kolaborasi bersama di masa mendatang,” tegasnya.

Latih UMKM Berjualan

Dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi, TPAKD yang terdiri dari OJK bersama Pemerintah, perbankan dan Shopee memberi pelatihan berjualan di marketplace ke pelaku UMKM. Seperti yang diterapkan OJK Regional 5 Sumbagut di Kota Tanjung Balai, September lalu. Pelatihan dilakukan dalam hal Business Matching Akses Kredit UMKM dan Pelatihan UMKM Go Online secara virtual dan diikuti oleh 90 pelaku UMKM Kota Tanjung Balai.

Deputi Direktur OJK Regional 5 Sumbagut, Andi M Yusuf menyampaikan pentingnya mendorong kembali aktivitas UMKM dalam masa pandemi Covid-19 sehingga dapat menjadi motor pemulihan ekonomi daerah. Diantaranya melalui akses kredit untuk permodalan UMKM.

Selain itu, dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, pemanfaatan pemasaran secara online dapat menjadi solusi bagi pelaku UMKM agar dapat terus menjalankan operasional usahanya melalui pemanfaatan marketplace.

Guna meningkatkan fungsi pendataan para pelaku UMKM di Sumut ke dalam Sistem Informasi Kredit Program (SIKP), OJK Regional 5 Sumbagut bersama Pemprovsu juga gencar membimbing dan memberikan literasi, maupun seminar.

Agustus 2020 lalu, OJK dan Kanwil Dirjen Perbendaharaan (DJPb) Provsu menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis SIKP berbasis virtual. Peningkatan fungsi pendataan tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk pemberdayaan UMKM dan upaya pemulihan ekonomi daerah di masa Pandemi Covid-19.

Bimtek atau Bimbingan Teknis SIKP tersebut diikuti 340 Operator SIKP yang berasal dari dinas terkait pemprovsu dan 33 Pemkab. Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi program kerja generik TPAKD se-Sumut 2020 tentang Business Matching Akses Kredit UMKM.

Ekonom Yakin Cara OJK Efektif Tingkatkan UMKM

Pelatihan para pelaku UMKM dari Dekranasda yang biasa dipelopori OJK dianggap sebagi trik jitu oleh berbagai pihak. “Jika pelaku UMKM diberikan pembinaan dengan melibatkannya di berbagai event. Saya sangat yakin cara seperti ini akan efektif dalam meningkatkan kapasitas UMKM,” kata Ekonom asal Sumut, Gunawan Benjamin.

Selain sebagai cara efektif untuk menjaga perekonomian masyarakat di masa pandemi, pelaku UMKM juga berkesempatan mendapatkan banyak pengetahuan. “Bahkan tidak sedikit yang bisa mengembangkan usahanya di level global karena sering mendapatkan pembinaan,” jelas Gunawa yang juga analis keuangan dan merupakan Ketua Tim Pemantau Harga Pangan ini.

Berbagai program OJK dinilai Gunawan dapat membantu mengurangi tekanan ekonomi yang belakangan sangat besar akibat pandemi Covid-19. Akan tetapi, sambungnya, OJK mesti memberikan bekal bagi UMKM untuk mengembangkan usaha atau bertahan di saat kondisi ekonomi tidak bersahabat. Kebijakan OJK akan produktif dalam menjaga ketahanan ekonomi jika memberikan skala prioritas yang besar terhadap pengembangan UMKM.

Apalagi, pelaku UMKM kita saat ini memang perlu didorong dengan lebih banyak menggunakan IT guna mengembangkan bisnisnya. Dan yang tak kalah penting akses pembiayaan pelaku UMKM ke dunia perbankan. “Saya mengapresiasi apa yang dilakukan OJK dengan sejumlah kebijakan untuk mengembangkan UMKM,” sebutnya.

Jadi, sambung Gunawan, program yang dilakukan OJK ini harus bisa diperluas lagi sehingga banyak pelaku UMKM yang bisa mendapatkan manfaatnya. Masyarakat perlu didorong baik dalam tatanan pengembangan ketrampilan maupun pengetahuan.

“Sejumlah program OJK ini sudah benar. Dan tentunya memberikan banyak manfaat bagi masyarakat. Edukasi, pembinaan, pendampingan hingga pembiayaan harus terus dilakukan. Mengingat literasi keuangan maupun akses masyarakat ke perbankan yang dinilai masih jauh dari harapan kita semua,” pungkasnya.

Bangun Basis Data UMKM

Menurut Direktur Pengawasan OJK Regional 5 Sumbagut, Antonius Ginting, membangun basis data yang kuat terkait UMKM sangat urgen. Basis data tidak sekadar mendeskripsikan tentang jumlah dan sebaran UMKM, tetapi juga menginterpretasikan tentang karakteristik, kondisi terkini, perkembangan dari waktu ke waktu, dan potensi serta kebutuhan pengembangan. “Basis data yang kuat juga merupakan modal penting yang dibutuhkan agar kolaborasi dan sinergi antar pihak dalam mengembangkan UMKM semakin terbangun,” sebutnya.

Senada, Kepala Kanwil Dirjen Perbendaharaan (DJPb) ProvsuTiarta Sebayang menyampaikan, sesuai dengan data yang ada menunjukkan tingkat partisipasi dinas terkait di masing-masing pemerintah daerah di Sumut dalam menggunggah UMKM di satuan kerja masing-masing ke dalam SIKP masih perlu ditingkatkan.

Asisten Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahteraan Pemprovsu Arief S. Trinugroho mengakui, basis data UMKM di Sumut yang ada saat ini belum cukup berkualitas dalam menggambarkan secara faktual kondisi, permasalahan, perkembangan dan kebutuhan pengembangan UMKM di masing-masing sektor usaha. Karena itu, Pemprovsu, sesuai rekomendasi OJK, bertekad merealisasikan penyelenggaraan kegiatan bimbingan teknis SIKP.

Trik Jitu OJK Dalam Pemulihan Ekonomi

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso pernah menegaskan, OJK dituntut untuk senantiasa hadir dan siap berada di garda depan dalam membawa Indonesia bertahan melewati masa sulit Pandemi Covid-19 dan berperan besar mempercepat pemulihan ekonomi nasional.

Untuk pemulihan itu, Wimboh mengaku punya tiga trik jitu yang difokuskan. Pertama, peningkatan kapabilitas dan fleksibilitas untuk mampu bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan. Kedua, mengarahkan kebijakan untuk menjaga aspek prudensial sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, mempercepat transformasi digital di sektor jasa keuangan sesuai kebutuhan masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan berbasis teknologi informasi khususnya di era pandemi ini. “Kita juga harus segera menyiapkan ekosistem keuangan berbasis teknologi informasi ini dengan cepat, komprehensif dan tepat sasaran,” terangnya.

Program Mendorong Pemulihan Ekonomi Nasional

Dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional (PEN) untuk meningkatkan inklusi keuangan, OJK juga menjalankan program KUR klaster, Lakupandai, Jaring, Bank Wakaf Mikro dan Kredit Pembiayaan Melawan Rentenir (KPMR).

Anggota Dewan Komisioner OJK bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Tirta Segara menerangkan, Program PEN ini dikoordinasikan dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) yang saat ini telah berjumlah 195 di berbagai daerah di Tanah Air.

Selain itu, OJK bersama kementerian, regulator keuangan, dan industri jasa keuangan menyiapkan berbagai program sesuai Strategi Nasional keuangan Inklusif (SNKI) seperti meningkatkan jumlah penabung di masyarakat dengan meluncurkan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).

Pasalnya, inklusi keuangan dianggap memiliki peranan penting dan strategis sehingga diharapkan dapat menjadi solusi untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.

Diyakini dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat yang lebih baik mengenai produk dan layanan keuangan diiringi kemampuan pengelolaan keuangan yang memadai akan dapat mendorong masyarakat menggunakan produk dan layanan keuangan.

Tirta Segara menjelaskan, inklusi keuangan memiliki tiga hal penting bagi perekonomian yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mendorong proses pemulihan ekonomi nasional, dan mendukung daya tahan ekonomi masyarakat dalam kondisi apapun. OJK juga terus mendorong pengembangan ekosistem digital akses produk dan layanan jasa keuangan sehingga memudahkan dan meningkatkan daya jangkaunya ke pelosok daerah. Beberapa proyek percontohan telah dibangun seperti digitalisasi aktivitas BWM, kurbali.com dan juga UMKMMU yang berkerjasama dengan Kementerian dan Lembaga terkait.

Penerapan relaksasi kredit juga sangat membantu masyarakat, terutama pelaku UMKM yang pendapatannya terdampak pandemi Covid-19. Ia memandang peran OJK dalam upaya pemulihan ekonomi nasional perlu diperkuat sesuai fungsi dan kewenangannya. “Kebijakan OJK ini meringankan tekanan ekonomi yang sedang menghimpit pelaku usaha kecil, pekerja harian di sektor informal dan masyarakat bawah pada umumnya,” ungkap Anggota Komisi XI DPR RI Hidayatullah.

Tingkatkan Restrukturisasi Kredit

Salah satu upaya OJK dalam pemulihan ekonomi dan mengantisipasi tekanan perekonomian akibat pandemi Covid-19 adalah meningkatkan permodalan bank. OJK lantas mengeluarkan program restrukturisasi. Hal ini dianggap punya peran sangat besar dalam menekan tingkat NPL dan meningkatkan permodalan Bank sehingga stabilitas sektor jasa keuangan dapat terjaga dengan baik.

Sejak diluncurkan 16 Maret 2020 hingga 10 Agustus, program restrukturisasi kredit perbankan telah mencapai nilai Rp 837,64 triliun dari 7,18 juta debitur. Jumlah tersebut, berasal dari restrukturisasi kredit untuk sektor UMKM mencapai Rp 353,17 triliun yang berasal dari 5,73 juta debitur. Sedangkan untuk non UMKM, realisasi restrukturisasi kredit mencapai Rp 484,47 triliun dengan jumlah debitur 1,44 juta.

Restrukturisasi itu ternyata masih ampuh membantu para pelaku UMKM atau debitur dikarenakan Pandemi Covid-19 belum usai. Sehingga, OJK memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit selama setahun. “Perpanjangan restrukturisasi ini sebagai langkah antisipasi untuk menyangga terjadinya penurunan kualitas debitur restrukturisasi,” kata Wimboh Santoso.

Sinergi Dengan Pemerintah

Pemulihan ekonomi dan percepatan akses keuangan terus diimplementasikan melalui sinergi antara pemerintah dan OJK. Sinergi yang dilakukan merupakan usaha bersama dan motor penggerak pemulihan ekonomi. “Tolong ini riil untuk UMKM, agar bisa dapat akses keuangan dengan mudah,” pesan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi.

Direktur Utama PT Bank Sumut, Muhammad Budi Utomo menyebut rencana ekspansi kredit pada acara PEN tersebut telah disalurkan pada sektor usaha produktif yang akan menyasar pelaku UMKM. Para pelaku UMKM berada di wilayah pedagang pasar bekerja sama dengan pemerintah daerah dan PD Pasar melalui program Sapa Pedagang Pasar dengan pilot projek di Kota Medan.

“Program ini diluncurkan melalui penyaluran skim KUR Super Mikro dalam rangka program kredit melawan rentenir disertai rencana digitalisasi pedagang pasar dengan Sumut Mobile dan potensi sebagai agen Laku Pandai ke depan,” jelas Budi.

OJK Regional 5 Sumbagut bersama Pemprovsu, Pemkab/Pemko, Bank Indonesia, DJPB Kemenkeu, serta Industri Jasa Keuangan secara bersama terus mendorong percepatan program pemulihan ekonomi. Upaya pemulihan ini dilakukan melalui koordinasi, sosialisasi, edukasi, business matching, pendampingan, dan bimbingan teknis, baik kepada pelaku UMKM, pelaku industri jasa keuangan, maupun pemerintah daerah. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *