Di sebuah kamar kosan yang kecil dan sempit, di Jalan Sempurna, Medan Selayang, seorang remaja perempuan bernama Karisa tergeletak tanpa daya dengan wajah tertelungkup di kasur. Tubuhnya yang rapuh dan terhambat perkembangannya membuatnya seperti seorang anak berusia lima tahun, padahal usianya sudah 14 tahun.
Kehidupan Karisa penuh dengan keterbatasan dan kesulitan. Setelah kehilangan ibunya dua tahun lalu, (meninggal karena terjangkit komplikasi penyakit), ayahnya, Erianto Gultom, 39 tahun, seorang tukang bangunan, harus berjuang sendirian merawat Karisa. Ia terpaksa meninggalkan Karisa di kosan ketika pergi bekerja, mencari pekerjaan setengah hari, dan pulang dengan cepat agar dapat memberi makan siang anaknya. Karisa seringkali terkurung sendirian di dalam kamar kosan, karena tidak ada yang menjaga. Erianto terpaksa mengunci pintu-pintu, berharap Karisa tetap aman di dalam kamar.
Keadaan ini membuat Erianto hidup dalam kegelisahan dan kepanikan yang konstan. Ketika Karisa batuk-batuk atau mengalami kejang akibat dahak yang tidak dapat dikeluarkan dengan baik, Erianto langsung membawanya ke klinik. Keterbatasan finansial menjadi penghalang bagi Erianto untuk mencari perawatan medis yang lebih lengkap dan modern. Ia takut biaya perawatan di rumah sakit akan sangat mahal dan sulit untuk dipenuhi.
Karisa mengalami kemunduran fisik dan kehilangan kemampuan dasar seiring berjalannya waktu. Sejak kecelakaan (ia berulang kali jatuh terpeleset, dengan kepala belakang membentur lantai), Karisa kehilangan kemampuan bicara, menangis, dan bergerak dengan normal. Ia tidak bisa duduk, berdiri, atau menegakkan tubuhnya. Hidupnya terbatas hanya dalam keadaan tergeletak di kasur.
“Nengok anakku ini, aku berserah saja pada Tuhan. Aku gak tahu lagi harus apa. Kalaupun dia gak bisa sembuh lagi, paling enggak, aku berusaha sekuat tenaga untuk mencukupkan kebutuhan dia sehari-hari,” ujar Erianto.

Namun, di tengah kondisi yang penuh keterbatasan dan penderitaan, ada secercah harapan yang dihadirkan oleh Nek Wati, seorang nenek tetangga yang dengan penuh kesabaran merawat Karisa. Nek Wati, si pemilik kos-kosan memberikan perawatan dan kasih sayang kepada Karisa. Ia menyuapinya makan, membersihkan mulut, mengganti popok dan pakaiannya, serta berusaha membawa Karisa ke luar kamar agar dapat merasakan udara segar.
Nek Wati juga mengetahui kecintaan Karisa pada musik, dan setiap kali dia memainkan musik di ponsel, Karisa tersenyum dan tangannya bergerak-gerak seolah menari. “Saya usahakan membawa dia keluar kamar, untuk menghirup udara segar. Saya menaikkannya ke kursi roda dan membawanya berkeling di luar,” ungkap Nek Wati.
Bahkan, Nek Wati yang menganjurkan, jika Erianto tidak punya uang, ia tidak perlu membayar sewa kosan sebesar 500.000 perbulan. “Saya katakan, kalau gak sanggup, gak usah dipikirkan ya. Gak apa-apa. Yang penting kalian bisa makan,” begitu petuahnya.

Kisah Karisa mendobrak pintu empati dan kepedulian kita terhadap sesama, khususnya bagaimana kita memperlakukan orang yang membutuhkan. Karisa adalah seorang remaja yang terjebak dalam kondisi yang sulit dan penuh keterbatasan. Kehidupannya dipenuhi dengan rasa sakit, kesepian, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi sepenuhnya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kehadiran Nek Wati sebagai sosok yang merawat dan memperhatikan Karisa memberikan penghiburan dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Kita semua dapat belajar dari kepedulian Nek Wati dan memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita. Kita dapat membantu mereka dengan memberikan dukungan emosional, memberikan bantuan fisik, atau bahkan hanya dengan mendengarkan cerita mereka. Setiap tindakan kecil dari kebaikan dapat memberikan dampak besar pada hidup seseorang yang membutuhkan.
Selain itu, kisah ini juga mengingatkan kita akan pentingnya akses terhadap perawatan kesehatan yang layak dan terjangkau. Erianto, ayah Karisa, terhalang oleh keterbatasan finansial untuk mencari perawatan medis yang tepat untuk putrinya. Hal ini menyoroti perlunya sistem perawatan kesehatan yang adil dan menyediakan layanan kesehatan yang terjangkau bagi semua orang.
Dalam dunia yang seringkali keras dan penuh dengan penderitaan, kebaikan, empati, dan perhatian adalah cahaya yang dapat membawa harapan kepada mereka yang membutuhkan. Melalui tindakan kecil dan perhatian yang tulus, kita dapat membuat perbedaan dalam hidup orang lain. Kisah Karisa dan Nek Wati mengajarkan kita untuk melihat sekitar dan bertindak dengan kebaikan, karena dengan begitu, kita dapat memberikan harapan dan mengubah kehidupan seseorang. (Dedy Hutajulu)











