NEWS  

Lima Bulan Kondisi Usus Terburai, Elifa Shahia Putri Butuh Oprasi Kesembuhan

Share

Percut, ArmadaBerita.Com

Sudah lima bulanan lamanya, Elifa Shahia Putri, bocah perempuan berusia dua tahun sepuluh bulan merasakan perih dan sakit.

Kondisi tubuh mungilnya pun kian turun drastis, tak sesuai dengan anak seusianya. Bahkan dengan adiknya, berat badan Elifa kalah bobot. Sebab, setiap makanan yang masuk ke mulutnya, sering dimuntahkan. Apabila masuk, bisa langsung keluar dari ususnya yang terburai dari perut.

Miris memang!!! Namun upaya dari Yusni Pujian Hasanah, (36) dan suaminya, Abdul Rahman, (35) sebagai orangtua Elifa, belum membuahkan hasil. Meski sudah bolak-balik ke rumah sakit, namun oprasi usus anaknya yang terburai keluar dari perut itu tak kunjung tiba.

Sampai-sampai, Rahman terpaksa berhenti bekerja. Demi menemani anaknya berobat, ia dan istrinya terpaksa meninggalkan pekerjaan dan tempat tinggalnya di Kota Cane, Aceh.

“Saya dan istri terpaksa berhenti bekerja, dikarena saya harus mengganti Kalostomin Bag dan menemani anak kami berobat kemarin,” kata, Abdul Rahman, kepada wartawan, Rabu (1/4/2020) malam.

Kini mereka menumpang di rumah Ibu Siti Khadijah, pedagang ikan di Jalan Musyawarah C, Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara, yang tak lain orangtua Abdul Rahman.

Hal itu menyebabkan ekonomi keluarga mereka semakin terpuruk. Apalagi ditengah kondisi sekarang ini. Kini mereka menaruh harapan kebanyak orang, sukarelawan, para dermawan dan pejabat pemerintahan agar mau menolong putri mereka.

Rahman bercerita, ketika baru lahir anaknya memang mengalami rasa sakit di perut. Tak tega melihat anaknya sering-sering meringis, Rahman kemudian membawa anak ini ke Rumah Sakit Mitra Sejati di Medan, pada 2019 silam.

Oleh dokter yang menanganinya di RS Mitra Sejati di Medan, kata Rahman, ada benjolan di dalam perut putrinya. Lalu dokter menanganinya. Namun dua bulan kemudian pasca ditangani dokter, usus Elifa justru semakin panjang terburai keluar.

“Sekarang dengan kondisi usus yang keluar ini sudah berjalan 5 bulanan sejak oprasi pertama sekali di Mitra Sejati. Awalnya oprasi karena ada penyumpatan diususnya, seperti usus terikat gitu, tapi belum terburai seperti sekarang” ungkapnya.

Rahman kemudian membawa Elifa kembali ke RS Mitra Sejati agar anaknya ditangani. Namun si dokter malah merujuknya ke RSUP H Adam Malik, Medan. Rahman pun lekas membawa Elifa ke RS Adam Malik.

Sesampainya di RS Adam Malik, Elifa tidak segera dioperasi. Dokter di sana mengatakan tidak bisa dioperasi dengan alasan Elifa kekurangan cairan dan harus balik lagi satu bulan kemudian ditambah dengan tidak menemui dokter disana.

Sebulan kemudian datang lagi, dokter RS Adam Malik kembali dilakukan cek darah, foto ulang terhadap Elifa dan lainnya. Namun masih terkendala dengan berat badan Elifa haris 12-15 Kg. Saat ini berat badan anak ini diperkirakan 9 kg.

“Sudah dicek, difoto dan semuanya, kami dusurh balik dua minggu kemudian. Setelah kembali ke rumah sakit itu lagi, katanya cairannya kurang dan berat badannya harus ditambah sampai 12-15 kg. Gimana mau nambah, sementara anak saya makan keluar terus dari ususnya. Kami juga sudah usaha, tapi berat badan anak saya tetap segitu,” ungkap, Rahman sedih.

Rahman mengaku, kondisi anaknya saat ini memang terlihat riang. Diwaktu serasa sehat, Elifa bermain seperti layaknya anak seusianya. Namun dengan tubuh yang terbalut karena ususnya terburai keluar dari perut, tak jarang ia merengek kesakitan. Apalagi diwaktu mengganti kantong penampung ususnya dan diwaktu mandi.

“Sampai-sampai, kulit perut anak saya itu memerah seperti terbakar. Perih kali dirasanya. Tapi hari kalau dia main harus kami bungkus,” tutur Rahman dengan suara tertegun yang terus mendampingi Elifa.

Rahman menggunakan plastik bening untuk membungkus usus Elifa. Sebab, ia tak mampu lagi membeli kantong Kalostomin (penampung kotoran) seperti yang dianjurkan dokter.

Untuk mengakalinya, bapak dua anak ini menggunakan plastik ukuran 1 Kg tersebut sebagai penampung usus anaknya yang terburai. Lalu mengikatnya tergantung menggunakan pengikat yang memang ditempahnya.

“Segala macam obat sudah kami berikan, sampai-sampai saya sekarang harus terutang sebanyak Rp 8 juta, karena ekonomi kami sudah tak mampu lagi. Untuk beli kantong Kalostomin pun kami gak bisa beli, 1 bungkus isinya ada 10 harganya Rp 125 ribu, itu untuk dipakai 10 hari. Kami setiap bulan untuk itu aja membelinya Rp 1,2 juta,” katanya lirih.

Ia mengaku, sejak tak lagi bekerja sebagai imam syariat islam di Kuta Cane, dan istrinya juga tak menjadi tenaga pengajar honor, karena mengobati anaknya di Medan, ia kesulitan ekonomi sehingga harus menumpang di rumah orang tuanya di Jalan Musyawarah C, Desa Saentis, Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang, Sumatera Utara.

“Untuk kebutuhan ekonomi kami sekarang terkadang dibantu mamak (orangtua saya) dan juga mertua. Rumah mereka disini berdekatan. Kami sekarang tinggal sama mereka ini,” pungkas, Rahman sembari berharap adanya bantuan kesemua pihak agar putri sulungnya lekas dioprasi.

Bagi para dermawan yang ingin meringankan beban Abdul Rahman dan Istrinya, Yusni Pujian Hasanah, beserta membantu agar Alifa bisa lekas dioprasi,  bisa langsung mengkontak nomor: 0813-6062-4605 an. Abdul Rahman. (Nst)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *