Gegara Main HP, Bocah 6 Tahun Nyaris Buta Terkena Radiasi, Pandy Butuh Uluran Tangan

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Semenjak adanya masa pandemik covid 19, semua kegiatan masyarakat dibatasin, termasuk dalam hal ngajar mengajar disekolahan. Semua pembelajaran melalui media Handphone dilalukan secara Online. Tak hanya para remaja yang duduk dibangku kuliah, Sekolah Menengah Atas (SMA), para siswa dan siswi yang duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) pun terlibat dalam pembelajaran secara online. HP juga sekarang bisa dengan mudah dimainkan anak-anak bahkan gemar setiap hari.

Tak hayal, dunia elektronik seperti Handphone pun sudah menjadi kebutuhan sehari-hari dan disukai semua kalangan termasuk anak-anak. Namun dari semua itu, dampak negatif pun muncul Satu persatu. Salah satunya dialami Pandy, bocah berusia 6 tahun.

Boca yang tinggal bersama kedua orangtuanya di Dusun VII, Desa Bandar Setia, Kecamatan Percut Sei Tuan ini harus merasakan sakit dan pandangan kabur serta mata perih berair akibat diduga dari radiasi yang ditimbulkan dari Handphone.

“Selalu main handphone anak saya itu bang, dari belajar tiap hari beberapa jam, hingga dilanjutkan dengan permainan game yang disukainya,” ucap Linda (39) selaku orang tua Pandy, Rabu (17/2/2021).

Linda juga mengatakan, selepas anaknya bermain keluar rumah dengan temannya, selalu handphone yang dicarinya.

“Abis belajar dan maen game, anak saya itu main sama temannya diluaran, tapi sebentar saja waktunya, abis itu pulang main HP lagi, gitu-gitu aja tiap hari, hingga baru ketahuan belakangan ini kelopak bawah dan samping matanya bertambah Hitam, dan selalu berkata selalu perih serta berair kepada saya dan susah melihat. Dari situ langsung saya hentikan bermain hp,” ungkap ibu Dua oranag anak ini.

Tak sampai disitu saja, Linda juga mendengar kabar dari Saudara iparnya bahwa keponakan iparnya tersebut mengalami hal yang sama percis dengan keadaan anaknya, hingga sampai dioperasi dengan menelan biaya yang lumayan banyak. Namun, selang beberapa minggu bocah yang sebayah dengan anaknya meninggal dunia.

Mendengar itu, Linda merasa takut dan enggan membawa anaknya kedokter. “Saya takut bang dengan keadaan anak saya yang seperti ini, mau dibawa berobat pun saya keterbatasan biaya, semenjak masa Covid ini susah sekali mencari uang, hanya lepas-lepas makan saja sudah syukur bang,” ungkapnya lirih.

Selain linda, Rafli, sang suami juga harus putar otak. Ia mengaku bingung dan khawatir. Kekhawatirannya itu bertambah dengan keterbatasan uang. Linda menyadari gaji suaminya yang merupakan wartawan di salah satu media di Medan, belumlah mencukupi.

Maka dari itu, Linda memberanikan diri bahwa ia mengaku ada harapan dari para dermawan maupun uluran tangan sesama manusia untuk menolong dan membantu biaya pengobatan anaknya.

Hal itu diubgkpkannya dikarenakan biaya sekolah anaknya yang dan keperluan rumah tangganya semakin berat dimassa Pandemi. Meskipun ia juga harus ikut mencari nafkah dengan bekerja sampingan guna membantu ekonomi keluarga.

“Saya dan suami sudah bingung. Mau gak mau kami pun berharap ada dermawan yang dapat menyisikan sedikit rezekinya untuk membantu anak saya. Saat ini Pandu kami bawa untuk berobat alternatif dulu,” harap Linda. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *