Tinggal Gubuk Reok, Nek Mirhamah dan Dua Anaknya Butuh Uluran Tangan

Share

Deli Serdang, ArmadaBerita.Com

Keseharian Nek Mirhamah Tanjung, sungguh memilukan. Di usianya yang memasuki 84 tahun tentunya sangat menyulitkan kehidupan ekonominya karena tak berpenghasilan. Apalagi sejak beberapa tahun ini ia sudah ditingal mati sang suami.

Ia hanya bertopang kepada anak dan sebahagian orang yang empati mengetahui kondisi kemiskinannya. Atas kondisinya, wanita renta itu harus kesusahan memikirkan sesuap nasi untuk kesehariannya dalam bertahan hidup di gubuk reok miliknya di kawasan lahan garapan Jalan Musyawarah, Desa Sampai, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumut.

Di gubuk berdinding tepas dan papan bekas dengan atap seng yang tak sedikit bocor, Nek Mirhamah tinggal bersama dua anak laki-lakinya, Asmal (50) dan Amril (48). Namun sayangnya, kedua anaknya itu tidak bisa jadi tumpuan Nek Mirhamah untuk mencari nafkah. Sebab keduanya sejak kecil memiliki kelainan, sehingga keduanya meski berusia sudah lanjut, masih berstatus lajang.

Beruntungnya masih ada, Aida Tanjung. Ia merupakan anak tertua dari 9 bersaudara keturunan Nek Mirhamah. Namun kemampuan Aida sudah tak sekuat dulu lagi dalam mencari nafkah. Diusianya yang sudah berumur 64 tahun, ia juga hanya bisa mengharapkan cucunya. Suaminya sudah meninggal 8 tahun silam. Statusnya pun kian sama seperti ibunya, Nek Mirhamah. Sementara beberapa adiknya yang lain tinggal di kota berbeda yang menurutnya kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan.

“Saya pun nggak bekerja lagi, paling hanya menjahit dan menempel-nempel pakaian orang saja di rumah. Kalau dua adik saya itu memang sedang sakit. Sedangka untuk makan saya dibantu cucu juga Fauzan Alhazmi (21) yang bekerja sebagai kuli bangunan dan penjahit sepatu,” kata Aida yang tinggal mengontrak beberapa meter tepat di rumah ibunya di lahan garapan.

Saat ditemui wartawan, Jum’at (12/11/2021), Aida mengaku bahwa dulu kehidupan mereka sedikit lumayan. Mereka tinggal di kawasan Jalan Rakyat, Medan. Namun ayahnya telah meninggal sekitar 15 tahun silam. Sejak kedua adik lelakinya (Asmal dan Amril) duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) petaka pun muncul.

“Sekitar masih SMP kedua adik saya itu sakit. Mereka seperti keterbelakangan mental. Jadi habis semua uang, rumah dan harta keluarga buat mengobati mereka tapi sampai sekarang tidak sembuh. Sudah kami bawa berobat kemana-mana mulai medis sampai berobat kampung. Kalau katanya saraf mereka terganggu,” ungkap pilu Aida.

Sekarang ini mereka sudah hampir 5 tahun tinggal di kawasan lahan garapan. Kesehariannya Aida terus mengurusi ibu dan kedua adiknya. Dulunya Aida tinggal serumah di gubuk reok berukuran sekitar 5X6 meter itu. Namun belakangan ada yang membangun rumah di lahan kosong depan gubuknya. Aida diizinkan menempati dengan harga sewa lumayan.

“Di rumah itu juga sempit. Saya juga tinggal bersama cucu saya (Fauzan), sejak kecil Fauzan tinggal bersama saya karena ayah dan ibunya bercerai,” aku Aida.

“Cucu saya yang bekerja, dia menjahit sepatu di pinggiran jalan, sekarang lapaknya sudah dirusak orang jadi sekarang dia kerja menjadi kernet bangunan. Walau dia terbilang bodoh, tapi dia rajin bekerja,” sambungnya Aida.

Mirisnya ekonomi keluarga Nek Mirhamah memang diakui, M. Daud, tetangganya. Meski begitu ia tak mampu berbuat banyak, sebab ekonomi keluarganya juga terbilang kekurangan meski sedikit beruntung dari Nek Mirhamah.

“Kami juga kasihan, tapi ekonomi saya juga belum memungkinkan. Jadi membantunya yah ala kadarnya. Yang penting kita disini terus saling lihat dan saling bantu dalam hal lainnya,” sebut ayah 5 anak yang kesehariannya bekerja sebagai petani ini.

Untuk orang yang butuh perhatian di kampung itu, M. Daud mengaku Nek Mirhamah dan keluarganya sangat pantas, meski dirinya juga tergolong warga ekonomi ke bawah dan dianggap berhak menerima bantuan.

“Kalau ada bantuan, biarlah mereka yang lebih dahulu ketimbang saya. Karena mereka memang betul-betul butuh perhatian, ekonomi saya memang kurang, tapi saya masih sehat dan muda, masih bisa berusaha keras,” bilangnya.

Selama ini, Aida dan Nek Mirhamah mengaku tak mendapatkan bantuan dari Pemerintah. Apalagi program PKH dan sebagainya. Sebahagian besar makan mereka pun dibantu warga yang kasihan kehidupan mereka. “Gak ada dapat bantuan dari pemerintah kami. Paling dari orang-orang saja sesekali. Kalau saya ada duit dapat dari menjahit, saya belanjakan untuk ibu dan adik-adik saya. Mereka masih bisa memasaknya,” turut Aida.

Masa-masa lumayan dalam menjahit menurut Aida hanya ada diwaktu hari kemerdekaan RI 17 Agustus. Sebab, jasa Aida kerap dipakai oleh orang untuk merajut bendera merah putih. “Saya dari dulu punya keterampilan menjahit. Pas waktu 17 Agustus aja ada pesanan menjahit bendera, kalau hari-hari biasa hanya menunggu orang yang mau dijahitkan bajunya yang rusak dan ditempel,” urainya.

Beratnya himpitan ekonomi yang dirasa Aida dan keluarganya membuat mereka menaruh harapan besar ke pemerintah. Mereka berharap sedikit perhatian di akhir-akhir masa tuanya ini. Di usia senja mereka uluran tangan para dermawan juga sangat diharapkan. “Semoga pemerintah dan perhatian sama kami,” harap Aida yang berupaya tegar meratapi kondisi keluarganya. (ASN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *