Ketegangan Iran dan AS Dorong Harga Minyak Naik, Rupiah dan IHSG Tertekan

Kapal Induk. (Foto:ss kc)
Share

ArmadaBerita.Com – Memanasnya hubungan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (As) kembali mengguncang pasar keuangan global. Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, sekaligus memberi tekanan pada nilai tukar Rupiah dan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Harga minyak mentah jenis Brent pada perdagangan terbaru tercatat menguat ke level US$68,95 per barel, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat memperketat sanksi terhadap Iran dan meningkatkan kehadiran militernya di kawasan Teluk, sementara Iran kembali melontarkan ancaman balasan jika tekanan ekonomi dan politik terus berlanjut.

Pengamat ekonomi Gunawan Benjamin menilai konflik geopolitik Iran–AS menjadi sentimen utama yang memicu volatilitas pasar saat ini.

“Ketegangan Iran dan Amerika Serikat secara historis selalu berdampak pada lonjakan harga minyak. Bagi negara importir minyak seperti Indonesia, kondisi ini menjadi sentimen negatif karena berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar Rupiah,” ujar Gunawan kepada media, Kamis (5/2/2026).

Tekanan terhadap aset berisiko juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat. Laporan ADP Nonfarm Employment Change menunjukkan serapan tenaga kerja di luar sektor pertanian hanya bertambah 24 ribu orang pada Januari, melambat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, indeks dolar AS justru terpantau menguat, dengan USD Index bertahan di level 97,65, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,279%.

Menurut Gunawan, kombinasi antara ketegangan geopolitik dan pergerakan imbal hasil obligasi AS membuat investor global cenderung mengambil sikap wait and see.

“Kuatnya dolar AS di tengah data tenaga kerja yang melambat menunjukkan pasar masih fokus pada ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Ini menjadi tekanan ganda bagi mata uang negara berkembang,” jelasnya.

Di pasar domestik, mayoritas bursa saham Asia terpantau melemah pada perdagangan hari ini. IHSG sempat menguat tipis di awal sesi ke level 8.154,6, namun pergerakannya cenderung fluktuatif dan beberapa kali masuk zona merah. Minimnya agenda ekonomi regional membuat pergerakan IHSG lebih dipengaruhi sentimen dalam negeri, termasuk respons pemerintah terhadap kebijakan terbaru MSCI (Morgan Stanley Capital International).

Sejalan dengan pelemahan IHSG, nilai tukar Rupiah dibuka melemah ke level Rp16.765 per dolar AS. Gunawan memperkirakan tekanan terhadap Rupiah masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika harga minyak terus naik dan dolar AS tetap kuat.

Sementara itu, harga emas dunia justru mengalami koreksi dan diperdagangkan di kisaran US$4.983 per ons troy, atau sekitar Rp2,7 juta per gram. Potensi penguatan emas dinilai terbatas karena pelaku pasar masih menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat sebagai penentu arah kebijakan moneter ke depan.

“Selama ketidakpastian masih tinggi, pasar akan sangat sensitif terhadap setiap rilis data dan perkembangan geopolitik. Volatilitas masih akan mewarnai perdagangan dalam beberapa waktu ke depan,” tutup Gunawan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *