EKBIS  

Tiga Skenario dan Asumsi Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi Sumut

Share

Medan, ArmadaBerita.Com

Perlambatan ekonomi pada triwulan II 2020 dari berbagai bidang lantaran mengalami penurunan seperti konstruksi, perdagangan, industri pengolahan, pertanian dan sebagainya yang mengalami penurunan, juga terindikasi oleh beberapa indikator, diantaranya indeks Survei penjualan eceran dan perkembangan penyaluran kredit yang tumbuh menurun.

Dari sektor pariwisata, tingkat hunian kamar dan kunjungan wisman mengalami penurunan yang sangat drastis.

“BI memprediksi bahwa perekonomian Sumatera Utara tahun 2020 tumbuh melambat dengan tiga skenario,” sebut, Kepala BI Sumut, Wiwiek Sisto Widayat kepada wartawan di Gedung BI Sumut Lantai 7 Medan, Jum’at (5/6/) sore.

Skenario pertama, jelas Wiwiek, adalah skenario mild. Dimana, meluasnya dampak Covid-19 diprakirakan mendorong perlambatan perekonomian Sumut menjadi berada di kisaran 4,3% – 4,7% (yoy) melambat 0,8% dari baseline dalam skenario sedang.

Dengan perkembangan terkini, pertumbuhan dunia diperkirakan tumbuh 0,9% (yoy) (BI) serta Tiongkok tumbuh hanya 2.3% (World Bank), perekonomian Sumut berpotensi melambat lebih dalam pada kisaran 2,2 – 2,6% (yoy) dalam skenario berat.

“Dalam kondisi sangat berat, ekonomi Sumut dapat turun hingga 1,2 – 1,6% (yoy),” rinci Wiwiek.

Untuk Asumsi Sedang, teramg Wiwiek yaitu penurunan perdagangan internasional akibat pertumbuhan ekonomi Tiongkok turun 1% dari baseline. Kemudian penurunan devisa wisman akibat penutupan pintu masuk bagi wisman selama 6 bulan, serta dampak pass through kepada lapangan usaha akibat penurunan perdaganan internasional (I-O 2015), dan penurunan PDB Dunia 0,5% dari baseline.

Sedangkan Asumsi Berat adalah penurunan perdagangan internasional akibat pertumbuhan ekonomi Tiongkok turun 3,8% dari baseline. Lalu penurunan devisa wisman akibat penutupan pintu masuk bagi wisman selama 6 bulan.

Dampak pass through kepada lapangan usaha akibat penurunan perdaganan internasional (I-O 2015). Dan Penurunan PDB Dunia 2,1 % dari baseline serta penyesuaian harga komoditas ekspor utama di pasar internasional.

Sementara Asumsi Sangat Berat yaitu dampak langsung perdagangan internasional akibat pertumbuhan ekonomi Tiongkok turun 3,8% dari baseline. Dampak langsung penurunan devisa wisman akibat penutupan pintu masuk bagi wisman selama 6 bulan.

Dampak langsung pass through kepada lapangan usaha akibat penurunan perdaganan internasional (I-O 2015). Dan dampak tidak langsung dari penurunan pertumbuhan PDB Dunia turun 4,1% dari baseline.

“Kesimpulan kita, untuk triwulan II menurun dari triwulan I, karena semua menurun,” pungkasnya. (Rina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *