Oleh Arvin Syahputra Nasution
Masa darurat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan memukul telak para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Sebagai salah satu motor penggerak perekonomian bangsa, pemerintah menyadari, harus sesegera mungkin memulihkan perekonomian nasional, agar masyarakat termasuk para pelaku UMKM bisa bangkit kembali.
Upaya pemerintah juga terbilang gesit dalam meningkatkan ekonomi inklusi. Saat ini Indonesia sebagai tuan rumah di ajang Presidensi G20 dan W20. Perkumpulan yang merupakan gabungan 19 negera dan eropa ini sepakat untuk saling kerjasama, salah satunya di bidang ekonomi.
Jadi tuan rumah Presidensi G20 yang berlangsung di Bali, Indonesia punya kesempatan emas untuk mengenalkan, menunjukan daya tariknya, baik wisata, kuliner, hingga UMKM-nya. Pemerintah menggandeng pelaku-pelakunya dalam acara itu. Di acara pertemuan G20 di bawah Presidensi Indonesia telah dimulai pada 1 Desember 2021 dan akan berpuncak pada KTT Bali pada 15-16 November 2022. Kehadiran para Menlu (Menteri Luar negeri) ke Bali pun di suguhkan dengan destinasi yang ada.
Bahkan untuk perempuan (W20) dari perwakilan negara, mereka diajak mengunjungi Danau Toba di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut). Kegiatan W20 Summit Indonesia 2022 berlangsung mulai tanggal 18-22 Juli 2022.
Kehadiran tokoh perempuan dari berbagai negara itu membahas tentang kesamaan gender, dan pemberdayaan perempuan sebagai pusat diskusi global dalam jalur pemulihan ekonomi pasca Covid-19 hingga membahas ekonomi inklusi bagi perempuan, pemuda, serta penyandang disabilitas. Mereka juga bertujuan mempromosikan pembangunan berkelanjutan, dan investasi untuk pertumbuhan inklusif.
Pada moment akbar itulah Indonesia menyiapkan dengan suguhan yang dipunya. Pada acara itu, pelaku UMKM yang ikut membantu sebagai penggerak perekonomian ditampilkan.
Salah satunya adalah pelaku UMKM bernama, Widya Wati. Widy, begitu disapa, menjadi satu dari seratusan pelaku UMKM di Sumut yang bisa ikut menampilkan kuliner miliknya dengan brand Pempem Nabil.
Dia bersama lebih dari seratusan pelaku UMKM dari berbagai instansi seperti Dinas Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun, BPODT, Dekranasda, dan lainnya ikut disediakan Booth (tempat berjualan) untuk menampilkan hasil UMKM. Widy sendiri bisa ikut atas undangan dari Bank Indonesia di Sumut. Sebab Widy selama ini sebagai UMKM binaan BI Sumut.
Jauh sebelum pandemi Covid-19, usaha Pempek Nabil sudah meraup untung hingga 200 persen. Ia bisa menjual 8.000 – 10.000 pack produk olahan pempek per bulan dengan omzet Rp 200 jutaan. Di tahun ini, omzet Pempek Nabil kembali meningkat sampai 10 persen. Hal itu karena Widy melakukan banyak kolaborasi manajemen penjualan berbasis online. Dengan memanfaatkan lokapasar (marketplace) Pempek Nabil miliknya menjangkau pasar ke seluruh Indonesia.
“Sekarang kita sudah mengisi sampai ke Malaysia di Johor dan Penang. Dan di Sumut kita juga mengisi Pempek di salah satu pesantren yang terbesar di Sumut yakni Roudatul Hasana yang katanya juga terbesar di Asia Tenggara,” ungkapnya sewaktu diwawancarai wartawan saat mengikuti pameran di Acara W20 di Toba Samosir, Sumut, Jum’at (24/7/2022) siang.

Berdayakan Pekerja Perempuan
Berbicara memberdayakan perempuan yang butuh bantuan ekonomi, Widy juga melakukannya. Melalui penjualan online, bisnisnya malah banyak dilirik para reseller yang ingin bergabung menjualkan produknya dengan sistem penjualan harga distributor yang bisa dijual lagi. Nah, kebanyakan itu permintaan dari kaum hawa.
Menurutnya para reseller banyak berminat dikarenakan senang dengan sistem yang ditawarkan Widy. Ia mampu memberi diskon dari 20-40 persen yang tergantung dari pesanan.
Padahal Widy tak menawarkan barang dulu laku baru bayar. Sistem yang diterapkannya adalah beli putus. Ibu-ibu yang ingin jadi reseller minimal harus beli 20 pack. “Mereka order 20 pack langsung kita kasih diskon dengan harga reseller. Sekarang jumlah reseller kita sekitar 200-an dan 90 persen resellernya itu adalah perempuan,” bebernya.
Bukan itu saja, reseller Widy itu makin terus bertambah, mereka senang dan dapat untung memasarkan produk Widy. Para reseller juga diberikan edukasi mengenai penjualan dan berjualan di sosmed dengan bijak. Reseller yang 90 persen kaum ibu-ibu itu dibimbing dan diberikan pelatihan oleh Widy. Widy tak pelit membayar pendidik untuk memberikan pelatihan itu kepada resellernya.
Hingga kini, pencapaian penjualan Pempek Nabil miliknya tak putus orderan dan meningkat. Sekarang ia juga tak lagi mengontrak. Widy telah memiliki rumah tinggal sekaligus rumah produksi sendiri di Perumahan Menteng Indah Blok C2, No.40, Kecamatan Medan Denai, Kota Medan. Dalam memproduksi Pempek Nabil, Widy telah memperkerjakan 12 orang pekerja dan kesemuanya juga perempuan. Dan itu lain dari orang yang mempromosikan (artis iklan) mengenai rasa kulinernya melalui video di medsos.
Para pekerja itu punya tugas tersendiri. Mulai dari memasak, menggoreng, mengepak, mencetak, bagian pemasaran, hingga bagian melayani orderan yang masuk di instagramnya Pempek Nabil. “Setiap hari sekitar 200-an pesan melalui chat dari konsumen yang saya layani. Kami kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Saya tugasnya terus memantau agar pemesan tidak lama menunggu, saya langsung meresponsnya dengan cepat,” kata Putri, salah satu karyawati Widy.
Putri sudah tiga tahun bekerja di rumah produksi Pempek Nabil milik Widy. Selama itu ia mengaku belum pernah menerima komplain dari konsumen ataupun reseller. “Belum ada komplain untuk kita. Paling pernah ada masalah pengirimannya yang telat dan itu di jasa pengirimannya,” tuturnya yang terlihat sibuk berkutat di layar komputer rumah produksi.
Beberapa pekerja lain juga sibuk dengan tugasnya masing-masing, seperti Bu Lia, Bu Fitri, Bu Lina, bahkan Indah yang masih berstatus kuliah dan lainnya. Kesemua wanita pekerja Widy ikut membantu dikarenakan memang membutuhkan uang untuk menambah ekonomi keluarga, begitu juga bagi yang masih berstatus pelajar, namun mereka tak mengenyampingkan pendidikannya. “Iya bang, rata-rata yang saya rekrut memang orang-orang butuh kerjaan, ibu-ibu yang kondisi suami mereka nggak kerja sehingga mereka sanga terbantu. Ada beberapa yang masih kuliah, jadi bisa membiayai kuliah dari hasil mereka kerja,” bilang Widy.
Di bagian pengolahan bahan hingga memasak, para pekerja Widy juga mengedepankan kebersihan. Tempat yang bersih dan pengadon juga dipersiapkan sarung tangan khusus agar kulinernya lebih higienis.
Di rumah produksi yang berdampingan dengan rumah utama itu, sudah lengkap alat masak pembuatan jenis kuliner brand Pempek Nabil. Bahkan beberapa mesin mengemas pun sudah dibeli. Dua mesin pendingin berukuran besar terlihat dipenuhi kuliner siap edar. Selain itu, Widy juga sudah memiliki gudang di Jakarta yang bisa mengkover penjualan ke seluruh Jabodetabek. “Pengiriman kita sudah menjangkau ke seluruh Indonesia,” kata Widy.
Untuk brand Pempek Nabil sendiri sudah ada 20 item yang telah dipasarkan melalui media sosial dan lokapasar. Ada Pempek Lenjer, Pempek Adaan, Pempek Kapal Selam Kecil, Kapal Selam Besar, Pempek Keriting, Pempek Kulit Hitam, Pempek Lenggang, Bakso Tenggiri, Siomay Tenggiri, dan berbagai macam Dimsum. Kemudian ada menu pelengkap seperti Risol, Siomay, Nugget ada Bitterballen, dan banyak lagi.
Ia menyimpulkan, selain adanya pandemi Covid-19 perkembangan zaman di era internetlah yang membuatnya mendulang. “Jadi justru kita disuruh di rumah pas pandemi ini menjadi berkah sama saya, terus reseller kita yang di PHK di masa pandemi mereka bisa berpenghasilan,” ungkapnya.
Pun begitu, Widy cerita kalau kunci usahanya itu juga dimodali dengan niat yang kuat. Sebab nyalinya teruji begitu masuk pangsa pasar di gudangnya Medan. Hal itu mengharuskan dirinya untuk terus mengikuti kelas dan pembelajaran di jejaring agar sistem marketing yang dilakukannya berjalan.
“Jadi belajar itu penting. Skill up. Belajar bisnis itu tidak gampang. Apalagi di masa pandemi ini jualan lewat online makin banyak. Sehingga kita perlu belajar marketing. Sehingga mengharuskan saya ikut kelas berbayar,” ucapnya.
Selain unggul di jangkauan, penjualan online menurutnya lebih praktis dan bisa diterima orang menengah ke atas. Di awal pandemi yang membuat dagangannya laris di pasar online sempat membuatnya berpikir membuka restoran. “Saya berencana akan buka restoran, namun saat pandemi banyak restoran tutup jadi niat itu diundur, tapi ke depan tetap,” tegasnya dengan yakin.
Dengan 200-an reseller, Widy juga sudah merambah ke ritel agar bisa meng-cover setiap penjuru di daerah. Di Sumut, ritel Widy sudah ada di beberapa Kota. Kesemuanya itu sudah diurusi karyawannya. Sehingga orderan yang masuk dengan cepat dilayani. “Respon cepat itu sangat penting, kita nggak mau konsumen sampai menunggu lama. Setiap mereka yang nge-chat langsung dibalas cepat. Jadi HP selalu dipegang karyawan,” jelas Widy lagi.
Dengan hasil penjualan hingga yang gemilang serta kemasan yang cantik, Widy menjadi pelaku UMKM yang berhasil. Jeripayahnya pun jadi berkah bagi banyak orang. Tak pelakor, Widy banyak juga undangan sebagai motivator dalam menerapkan ilmunya. Padahal, dia merupakan ibu rumah tangga yang saban harinya mengurusi satu anaknya yang disapa dengan panggilan Nabil. Namun dengan kegigihannya belajar, perempuan kelahiran 1984 di Kota Palembang ini mampu mengenalkan masakan khas Palembang hingga ke pelosok negeri bahkan negara lain.
Apalagi beberapa bulan kedepan di tahun 2022 ini Widy mengaku akan membuat terobosan kuliner baru dengan sasaran pasar menengah kebawah. “Dan kita punya terobosan baru yaitu brand baru dan beda konsepnya dengan Pempek Nabil. Ini menyasar ke menengah ke bawah. Kita masih rahasiakan karena launchingnya di bulan Agustus ini, tapi masih Pempek juga,” bilang Widy.
Dianggap salah satu UMKM yang mampu mendongkrak perekonomian, Widy akhirnya terpilih ikut memamerkan produknya di acara W20 di Niagara Hotel, Kabupaten Simalungun.
“Kita mewakili UMKM binaan Bank Indonesia ikut di acara W20. Kami dari sebelum acara sudah disini dari tanggal 15 Juli sampai tanggal 24 Juli nanti. Pada pameran produk, saya hanya suply Pempek aja di acara W20. Mereka yang ngelolah di sana seperti tempat jualannya,” sebut Widy.
Berbicara ekonomi inklusi bagi perempuan, Widy mengaku bahwa saat ini sudah sangat banyak para pelaku ekonomi kreatif yang pelakunya perempuan. “Artinya kesenjangan antara genter sudah hampir nggak ada, semua bisa di lakukan oleh perempuan, bahkan saat ini peluang bagi perempuan untuk berkreasi itu sangat besar dan terbuka lebar, tapi kita sebagai perempuan tetap tau batas-batas kita dimana,” ungkapnya.
Mengikuti acara itu, Widy amat senang. Sebab, banyak bertemu tokoh-tokoh wanita dan pejabat wanita dari berbagai negara. Untuk di dalam negeri sendiri, Sandiaga Salahuddin Uno yang merupakan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia yang dikagumi wanita berhijab ini turut hadir.
Dari awal pameran, Widy mengaku produk Pempek Nabil miliknya selalu ludes terjual setiap hari. Para pembeli kebanyakan tamu lokal hingga warga asing.
“Alhamdulillah sold semua bang. Kesulitannya saya enggak setok banyak dan 2 hari sekali di kirim dari Medan. Para pengunjung kebanyakan yang beli. Tapi semua bang, dari warga sekitar, pendatang, dan bule-bule,” terang Widy gembira.
Widy pun mengaku puas dengan penjualan perharinya di acara W20 sekitar 50-an pack. “Sengaja kita nggak bawa banyak-banyak karena kita nggak bawa freezer. Kalau stoknya banyak bisa jauh dari segitu terjual. Sebab, terkadang masih sore sudah sold out. Kan pameran disana dimulai dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam,” ujar Widy dengan senyum ramah.
Untuk melayani pembeli para bule, Widy pun tak canggung, wanita lulusan sarjana teknik ini mampu melayani pembeli dengan baik. “Kita jual ada yang langsung makan dan ada yang frozen bang. Kita kasih tester gitu untuk dicicipi mereka. Biasanya kalau para bule dari luar negeri mereka datangnya rame-rame, jadi sikit-sikit kita bisalah bahasa mereka,” tutur Sarjana Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya ini.
Dalam pameran itu, seluruh produk UMKM yang disajikan banyak diminati pembeli, baik kuliner, kerajinan, pakaian, dan sebagainya. Apalagi dodol. Makanan kenyal itu ramai digandrungi khusunya para bule. Merk Dodol Sejahtera itu setiap hari tak pernah sepi pembeli.
Sehingga di momen akbar itu, pelaku UMKM yang dihadirkan jadi semakin terbantu. Mereka dengan brand masing-masing pun kian terkenal. Sehingga dapat disimpulkan kehadiran W20 sangat membantu tumbuh kembangnya pelaku UMKM.
“Perasaan saya sebagai pelaku UMKM sangat senang karena disini ajang kita mempromosikan produkkita dan yang mrngikuti di ajang W20 ini bukan hanya tamu lokal saja dari berbagai negara. Otomatis penjualan kita juga bagus disana dan tentunya kita sangat senang sekali karena tidak semua UMKM yang bisa ikut dia cara itu,” pungkasnya.

G20 Ajang Memperjuangkan Aspirasi Perempuan
Ekonom asal Sumut, Gunawan Benjamin, MM menyebut ajang W20 atau Women 20 Indonesia sudah semestinya diketahui oleh para perempuan khususnya para ibu. Ajang ini sebenarnya menjadi ajang yang memperjuangkan aspirasi perempuan dalam banyak hal, termasuk ekonomi salah satunya. Dan dalam ajang ini sebaiknya para perempuan Indonesia khususnya Sumut benar-benar mampu menyalurkan aspirasinya, dan kita harapkan ajang W20 itu mampu menumbuhkan semangat bagi para perempuan untuk turut andil dalam banyak bidang.
“Perempuan itu memiliki peranan penting dan vital di tengah masyarakat kita. Akan tetapi mayoritas perempuan masih berkutat pada urusan rumah tangga, meskipun belakangan andil perempuan terus meningkat dalam mendukung aktifitas ekonomi di tengah kita. Bahkan perempuan sejauh ini telah menghempaskan banyak oligarki usaha merek ternama,” urai Gunawan.
Yang paling terlihat belakangan ini, sebut Gunawan yang juga Dosen Ekonomi dan Bisnis ini, kehadiran perempuan dalam membangun usaha mikro kecil menengah (UMKM) membuat dominasi perusahaan atau usaha ternama memudar. Salah satu yang mengalami kesulitan dalam bersaing dengan para perempuan belakangan ini adalah, banyak usaha kuliner ternama yang ternyata produknya mampu dibuat oleh para perempuan.
Saat ini, bisa dengan mudah kita temukan, mulai makanan cepat saji seperti ayam goreng/burger dan sejenisnya, kue tar dan sejenisnya, dimsum dan sejenisnya, kebab, pizza, bakso, sayur masak, minuman boba dan sejenisnya, roti/donut, desert, pakaian, dan masih banyak lagi produk produk buatan para perempuan (emak-emak) lainnya. Produk tersebut yang sebelumnya dikuasai oleh merek ternama dan bermodal besar.
Saat ini mampu diimbangi dengan produk buatan sendiri para perempuan bahkan dengan kelas home industry. Ada diversifikasi pendapatan disitu yang semula dikuasai oleh segelintir pemodal, saat ini menyebar hampir merata di semua lapisan masyarakat. Bahkan dengan tawaran harga yang lebih miring namun dengan kualitas yang bersaing.
“Jika ditarik sebuah kesimpulan, perempuan pada dasarnya memiliki kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi di suatu wilayah. Nah, ajang W20 ini yang memperjuangkan kesetaraan gender saya harapkan mampu menelurkan ide yang benar-benar bisa dieksekusi di tingkat bawah atau akar rumput,” imbuh Gunawan.
Apalagi, kata Ketua Tim Pemantauan Harga Pangan ini melanjutkan, perempuan di Sumut khususnya punya potensi, butuh pendampingan dalam bentuk pembinaan, hingga pembiayaan. Sehingga keterlibatan perempuan dalam segala aspek ekonomi bisa memperbaiki pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Dan yang tak kalah penting, peran perempuan akan menumbuhkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Yang berarti pertumbuhan ekonomi merata, dinikmati semua lapisan masyarakat, dan tidak hanya dikuasai segelintir pengusaha tertentu yang bermodal besar,” pungkasnya. (*)











