ArmadaBerita.Com
Komite stabilitas sistem keuangan (KSSK) mengupkapkan skenario terburuk Rupiah dalam rentang 17.500 hingga 20.000 di tahun 2020 ini.
“Skenario tersebut dibuat seiring dengan penyebaran corona yang berpeluang besar memperburuk ekonomi Indonesia di tahun ini,” sebut pakar ekonom Indonesia atau analis keuangan, Gunawan Benjamin kepada wartawan, Rabu (1/4/2020) siang.
Menurut Gunawan, intervensi yang dilakukan Bank Indonesia memang selalu efektif dalam meredam gejolak Rupiah, namun sayangnya tidak bisa bertahan lama. Hanya bersifat sementara.
Selanjutnya penyebaran Covid-19 justru memicu terjadinya pelemahan mata uang di banyak negara. Tidak hanya Indonesia. Akan tetapi jika hanya dilakukan dengan intervensi, yang menguras cadangan devisa, maka kebijakan ini akan mengganggu kemampuan pemerintah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Khususnya kebutuhan hidup masyarakat seperti, BBM hingga kebutuhan pokok lain yang harus didatangkan dengan cara impor,” ujarnya.
Gunawan memaparkan, dalam mengintervensi pasar juga tidak lantas membuat kepercayaan pelaku pasar akan pulih. Corona tetap akan menjadi tolak ukur investor dalam melihat sejauh mana suatu negara dapat menaklukkannya.
“Nah, dalam konteks ini kebijakan yang diambil menjadi sangat penting. Baik kebijakan memerangi corona, maupun kebijakan dalam mengatasi dampak buruk corona itu sendiri seperti masalah ekonomi,” tuturnya.
Jadi, sambung Gunawan, intervensi agar Rupiah menguat bukanlah jalan satu-satunya dan punya resiko besar. Resiko yang dimaksud disini menurutnya, yaitu, saat intervensi dilakukan jor-joran, dan menghabiskan amunisi (cadangan devisa), namun corona masih belum teratasi sepenuhnya. Yang timbul adalah kepanikan, dan kepercayaan investor terhadap kita akan memudar.
Jika sudah sedemikian, rupa bentuk kekuatirannya. Maka yang terjadi selanjutnya adalah capital outflow yang bisa memicu kepanikan bahkan berdampak pada masalah sosial.
“Jadi acuan Rupiah bisa menembus level 20.000 ini sudah mempertimbangkan resiko terburuk. Dana saya menilai, jika seandainya rupiah ke 20.000, pada dasarnya tidak akan membuat ekonomi kita terguncang,” bilangnya.
Tetapi, lanjutnya, kita saat ini berhadapan dengan penyakit yang jelas bisa memicu krisis yang lebih luas. Sejak ada corona ini, potensi krisis yang tercipta ini bentuknya seperti krisis moneter 98, krisis global 2008 dan ancaman kematian karena covid-19.
Ia menilai terlalu beresiko dan ancaman krisis juga akan dialami semua negara di dunia tanpa terkecuali.
“Kalau seandainya Rupiah melemah, ini lebih banyak dipengaruhi oleh penyebaran corona. Sementara itu, untuk hari ini, mata uang Rupiah ditutup dilevel 16.450 per US Dolar. Rupiah mengalami pelemahan. Sedangkan, IHSG ditutup melemah 1.6% di level 4.466,04,” pungkasnya. (Nst)











