Selama empat bulan petualangan di Desa Jara-jara, saya, seorang guru, merasakan kisah yang luar biasa di Halmahera Timur. Awalnya, keingintahuan anak-anak desa terhadap saya begitu besar, dengan wajah malu-malu tapi penuh rasa ingin tahu. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka berubah menjadi sahabat yang antusias membantu membawa berbagai barang, dari tas hingga tripod.
Sebagai pendatang baru dari tempat yang jauh, ketertarikan mereka pada saya tidak terelakkan. Namun, seperti yang dikatakan, yang awalnya baru lama-lama menjadi biasa. Meski begitu, saya terkesan dengan semangat belajar anak-anak desa ini pada awalnya. Setelah sekolah, mereka dengan tekun mengikuti les sore dan malam. Ada yang bahkan setelah les sore di sekolah, masih datang ke tempat tinggal saya untuk belajar.
Seiring berjalannya waktu, Senin-Senin tidak lagi berlalu tanpa upacara. Suatu hari, saya bertanya kepada guru lama di lapangan, “Kenapa kita tidak memiliki upacara, Bu?” Dia menjawab, “Di sini, upacara hanya ada saat tujuh belas Agustus.” Saya memberikan saran, “Bagaimana jika kita mengadakan upacara setiap Senin, agar semangat nasionalisme anak-anak tumbuh?” Akhirnya, setelah diskusi dengan guru-guru lain, upacara Senin diadakan. Sungguh keren, bukan?
Namun, cerita saya tidak selalu berjalan mulus. Ada saat-saat saya merasa bingung, bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah saya bermanfaat bagi anak-anak desa ini?” Di tempat sepi ini, perasaan saya sering bercampur aduk, antara senang dan bingung. Saya paham, menjadi guru di pedalaman bukan perkara mudah. Ada kondisi sulit yang membuat saya sering berpikir, “Apakah saya benar-benar memberikan manfaat?”
Namun, saya sadar, menjadi guru di pedalaman adalah pilihan, bukan sekadar perasaan atau kepentingan. Bahkan terkadang terasa tidak masuk akal. Jika saya memilih-milih, mungkin saya akan berada dalam keadaan marah, sedih, atau down, tetapi saya tetap memilih untuk bertanggung jawab.
Intinya, saya harus memiliki sikap peduli dan bersedia membantu. Berbagi, bertanggung jawab, begitu sederhana. Tanpa bantuan dari Yang Maha Kuasa, saya tidak akan memiliki semangat untuk membantu orang lain. Saya memilih ini, dan saya harus tetap berkomitmen hingga akhir. Saya harus tetap semangat, maju tanpa takut, untuk mendukung anak-anak pedalaman demi masa depan kita semua.
Saya sangat bahagia ketika berbagi makanan dengan anak-anak pedalaman, melihat mereka bisa membaca, menulis, dan menghitung. Ada begitu banyak pelajaran berharga yang saya peroleh dari pedalaman. Hidup saya terasa sangat berarti ketika dapat membantu anak-anak desa ini. Semoga usaha saya dapat dirasakan oleh mereka, dan semakin memotivasi mereka untuk mengejar mimpi-mimpi mereka. (*)











