Medan, ArmadaBerita.Com
Secara bulanan, laju inflasi Sumatera Utara (Sumut) pada Agustus 2021 mengalami deflasi. IHK gabungan 5 kota di Sumatera Utara pada bulan Agustus tercatat -0,08% (mtm), setelah mengalami inflasi pada bulan sebelumnya 0,29% (mtm).
“Agustus 2021, inflasi Sumatera Utara berada di bawah level nasional,” kata Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumatera Utara (Sumut), Soekowardojo dalam agenda Bincang Bareng Media (BBM) yang digelar secara virtual zoom, Selasa (28/9/2021) sore.
Realisasi inflasi tersebut, jelas Soekowardojo, juga berbeda dengan nilai rata-rata inflasi sebesar 0,08% (mtm) yang tercatat pada periode yang sama dalam 3 (tiga) tahun terakhir. Selain itu, realisasi ini berbeda arah dari nasional yang menunjukkan inflasi 0,03% (mtm).
“Sumber deflasi terutama terjadi karena penurunan harga pada kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau, dengan komoditas aneka Cabai, Daging ayam ras, dan aneka sayur,” jelasnya.
Untuk perkembangan inflasi Sumut, papar Soeko lagi, dimana inflasi bulanan Agustus 2021 0,08 %(mtm) dari Juli 0,29% (mtm). Inflasi Kumulatif, Agustus 2021 0,54% (ytd) dari Juli 0,63% (ytd). Sedangkan inflasi tahunan Agustus 2021 2,10% (yoy), Juli 2021 2,24% (yoyo).
“Triwulan III dan IV semoga inflasi Sumut meningkat,” harap Soekowardojo yang akrap disapa Soeko.
Dikatakannya, tingkat harga pangan masih dalam batas wajar. Dinamika harga pangan strategis terjadi pada 27 September 2021.
Komoditas aneka Cabai mengalami kenaikan harga dampak berkurangnya pasokan dari luar daerah seperti Aceh maupun Jawa, sehingga mendorong penguatan harga. Sebaliknya, tren penurunan harga terjadi pada komoditas daging ayam dan telur ayam didorong oleh meningkatnya aliran pasokan seiring masih memasuki masa panen di beberapa sentra produksi lokal.
“Meski demikian fluktuasi harga terpantau masih dalam batas yang wajar. Sedangkan keenam harga pangan strategis lainnya masih relatif stabil,” sebutnya.
Menurutnya, stabilitas harga tersebut juga diperkuat dengan hasil survey aliran pasokan Bank Indonesia yang menunjukan aliran pasokan pada pedagang besar di Kota Medan masih relatif stabil serta kecukupan stock di gudang bulog.
Adapun untuk tingginya harga minyak goreng dipicu oleh naiknya harga CPO global. “Melihat perkembangan ini, TPID Sumut melalui Biro Perekonomian dalam proses penjajakan kerjasama antara BUMD PT. Perkebunan Sumatera Utara dengan PT. KIM untuk produksi minyak goreng Sumut Bermartabat,” ungkapnya.
Secara umum, tegas Soeko, inflasi Sumatera Utara tahun 2021 diperkirakan akan meningkat dibandingkan tahun 2020. Kenaikan tekanan inflasi seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian didukung percepatan program vaksinasi oleh Pemerintah serta pelonggaran PPKM.
Selanjutnya aktivitas perekonomian pada beberapa industri seperti otomotif, mamin, dan horeka juga telah mulai beroperasi meski masih terbatas. “Dengan perkembangan tersebut, realisasi inflasi Sumut tahun 2021 diproyeksikan masih berada pada rentang sasaran nasional 3%±1%, dengan potensi bias bawah,” imbuhnya.
Kepala BI Sumut juga memaparkan, beberapa faktor pendorong inflasi, diantara; Kenaikan harga CPO mendorong peningkatan harga produk turunannya seperti minyak goreng. Kemudian, Pelonggaran PPKM dan akselerasi vaksinasi mendorong peningkatan mobilitas masyarakat.
Selanjutnya, Pemberlakuan kebijakan pelonggaran LTV & DP Kendaraan bermotor dan kebijakan pemerintah terkait insentif PPnBM diperkirakan mendorong konsumsi kendaraan bermotor. Lalu, Kenaikan harga rokok kretek filter seiring dengan meningkatnya tarif cukai rokok yang berlaku mulai 1 Februari 2021, dan terakhir Pengurangan subsidi BBM jenis solar dari Rp1.000 menjadi Rp500. (UU No.9 Tahun 2020 tentang APBN TA 2021).
Sedangkan faktor penahan inflasi yakni; Masih terbatasnya aktivitas usaha industri hotel, restoran, dan kafe (Horeka). Lalu, Tren penurunan harga emas global. Termaksud juga, Penurunan biaya kesehatan yaitu tes PCR Covid-19 menjadi sekitar Rp500.000.
Kemudian, kembali pulihnya rantai pasokan dari Jawa dan Bali sebagai dampak pelonggaran PPKM. Selanjutnya, Mobilitas dan preferensi masyarakat yang masih rendah untuk melakukan perjalanan sebagai bentuk kewaspadaan dalam kondisi pandemi. (ASN)











