Perkuat Konservasi Alam Kabupaten Langkat, Tuanpuan Movement dan CRU Tangkahan Teken MoU

Penandatanganan MoU konservasi alam di Langkat. (Ist)
Share

Langkat, ArmadaBerita.Com – Upaya penguatan konservasi alam di Kabupaten Langkat terus diperluas. Tuanpuan Movement bersama Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) sebagai komitmen kerja sama jangka panjang dalam perlindungan lingkungan, konservasi gajah, serta pemberdayaan masyarakat di kawasan Ekosistem Leuser.

Penandatanganan MoU berlangsung di Markas CRU Tangkahan baru-baru ini. Lokasi ini salah satu kawasan konservasi penting di Langkat yang dikenal sebagai model pengelolaan ekowisata berbasis masyarakat dan konservasi satwa liar, khususnya gajah Sumatra.

Kolaborasi ini menitikberatkan pada penguatan konservasi alam Kabupaten Langkat melalui program edukasi lingkungan, kampanye konservasi berbasis seni dan budaya, serta pengembangan ekonomi kreatif masyarakat sekitar kawasan hutan. Kerja sama ini juga diarahkan untuk menjaga keberlanjutan hutan Leuser sekaligus memperkuat peran masyarakat lokal sebagai garda terdepan pelestarian alam.

Kegiatan tersebut turut dihadiri anggota DPRD Kabupaten Langkat yang juga Dewan Daerah Tuanpuan Movement, Muhammad Rizki Rifai dan Hermansyah, sebagai bentuk dukungan unsur legislatif terhadap upaya konservasi daerah.

Hadir pula jajaran pengurus Tuanpuan Movement, di antaranya Tomm M S, Nano Matondang, Danny Razky, Suhendra, Sulaiman, Bob Indra, Handoko, Sofian, Yayo, dan Lutfi.
Dari pihak CRU Tangkahan, penandatanganan dipimpin langsung oleh Manager CRU Tangkahan, Rutkita Sembiring, serta dihadiri mahout gajah, Teja, yang selama ini terlibat aktif dalam patroli dan perawatan gajah konservasi di kawasan Tangkahan.

Founder Tuanpuan Movement, Boy Iskandar Warongan, menegaskan bahwa keterlibatan komunitas kreatif diharapkan mampu memperkuat pesan konservasi alam di Langkat, terutama kepada generasi muda.

“Konservasi tidak hanya soal menjaga hutan dan satwa, tetapi juga membangun kesadaran. Melalui pendekatan kreatif, isu pelestarian alam Kabupaten Langkat dapat disampaikan dengan cara yang lebih dekat dan berkelanjutan,” terangnya.

Sementara itu, Rutkita Sembiring menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan konservasi di kawasan Ekosistem Leuser, termasuk di Langkat.

“Dukungan komunitas, pemerintah daerah, dan para mahout sangat penting untuk memastikan perlindungan hutan dan gajah berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Kerja sama ini direncanakan berlangsung selama lima tahun ke depan, dengan harapan mampu memberikan dampak nyata bagi perlindungan hutan, konservasi gajah Sumatra, serta penguatan ekonomi masyarakat lokal di Kabupaten Langkat melalui program-program yang inklusif dan berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *