MEDAN, ARMADABERITA — Banjir yang berulang setiap kali hujan, saluran drainase yang belum memadai, hingga lampu jalan yang mati menjadi persoalan sehari-hari yang dikeluhkan warga Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan. Masalah tersebut mencuat saat anggota DPRD Kota Medan, Eko Afrianta Sitepu, menggelar sosialisasi Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan, Minggu, 11 Oktober 2026.
Pertemuan itu memperlihatkan bahwa kebutuhan warga tidak hanya berkaitan dengan bantuan ekonomi. Infrastruktur lingkungan, pengelolaan sampah, kondisi jalan, dan keamanan juga menjadi perhatian karena bersentuhan langsung dengan aktivitas serta kenyamanan masyarakat.
Subsi Tarigan, salah seorang warga, mengatakan kawasan di belakang SMP Negeri 31 kerap dilanda banjir saat hujan turun. Ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan saluran drainase yang belum memadai. Warga berharap pemerintah meninjau lokasi dan mengambil langkah untuk mengatasi genangan yang terus berulang.
Keluhan serupa disampaikan Indra Tarigan, warga Flamboyan 4A. Selain banjir, ia menyoroti keamanan di kawasan Seroja yang disebut masih rawan pencurian. Menurut dia, perbaikan lingkungan perlu disertai upaya meningkatkan keamanan agar warga dapat beraktivitas dengan lebih nyaman.
Persoalan drainase juga disampaikan Trekelin br Surbakti. Ia meminta penanganan saluran air dan pengelolaan sampah mendapat perhatian lebih serius. Salah satu usulan yang disampaikannya ialah pembentukan bank sampah untuk mengurangi penumpukan sampah sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Di sejumlah titik, persoalan penerangan jalan umum turut menjadi sorotan. Rudi Barus melaporkan lampu jalan di kawasan Simpang Tuntungan hingga Taman Bambu kerap tidak berfungsi. Akibatnya, sebagian ruas Jalan Jamin Ginting menjadi gelap dan dikhawatirkan mengganggu kenyamanan serta keselamatan pengguna jalan.
Deni, warga Flamboyan 7, juga meminta lampu penerangan yang mati segera diperbaiki. Sementara itu, seorang warga bermarga Br Bangun dari Flamboyan 1, Lingkungan 6, mengeluhkan ketiadaan drainase yang memadai dan kondisi jalan rusak yang menyulitkan aktivitas warga.
Rangkaian keluhan tersebut menunjukkan persoalan lingkungan yang beragam, tetapi saling berkaitan. Drainase yang buruk berpotensi memperparah genangan, sedangkan jalan rusak dan penerangan yang tidak berfungsi dapat menambah kesulitan warga dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Penanganan masalah itu membutuhkan tindak lanjut berdasarkan kondisi dan kebutuhan di setiap lokasi.
Selain infrastruktur, warga juga menyampaikan aspirasi mengenai penguatan ekonomi. Eva berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah melalui pembinaan, pendampingan, serta kemudahan akses untuk mengembangkan usaha. Ia juga menilai koperasi dapat berperan dalam memperluas peluang ekonomi masyarakat.
Sosialisasi Perda Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penanggulangan Kemiskinan menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan kebutuhan mereka secara langsung kepada wakil rakyat. Namun, berbagai persoalan yang muncul dalam pertemuan itu juga menempatkan tindak lanjut sebagai hal penting, mulai dari pemeriksaan saluran drainase dan jalan, perbaikan lampu penerangan, hingga penguatan pengelolaan sampah dan dukungan bagi usaha kecil.
Peraturan mengenai penanggulangan kemiskinan tidak hanya relevan dalam pembahasan bantuan sosial, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memahami kebutuhan masyarakat secara lebih luas. Aspirasi warga Medan Tuntungan memperlihatkan pentingnya kebijakan yang disertai pelayanan publik dan perbaikan lingkungan yang dapat dirasakan langsung.











