EKBIS  

Melatih Pak Rimat Menjadi Petani Go Digital

Share

Jakarta, ArmadaBeritaCom – Pernahkah kalian mengelola kebun yang luas? Mengelola kebun bukanlah mudah. Kebun yang luas namun kurang Sumber Daya Manusia (SDM) membuat kami tergerak untuk membantu dan belajar mengelola kebun Pak Rimat di daerah Jl. Hj. Cari.

Kami memilih kegiatan ini karena di era pandemi diperlukan keahlian bercocok tanam khususnya tanaman pangan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Contohnya, sayur-sayuran dan umbi-umbian seperti kangkung, bayam, kacang panjang, talas, dan masih banyak lagi.

Pak Rimat mengubah lahan yang sebelumnya tidak terurus menjadi lahan yang sangat berguna. Ia menanam tanaman pangan awalnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Namun, karena lahannya cukup luas, Pak Rimat pun berniat menjual hasil panennya.

Pengelolaan kebun ini juga bermanfaat bagi warga sekitar karena kehadiran Pak Rimat sangat membantu karena membuat lahan kosong menjadi terurus dan tidak menjadi rumah hewan berbisa. Selain itu, hasil panen pun bisa dinikmati oleh warga sekitar.

Pak Rimat (memeluk kayu), saat kami temui di kebun sayurnya.

Kami berkunjung ke kebun setiap Sabtu. Dimulai dari berkunjung ke rumah keluarga Pak Rimat dan melihat kebun, kemudian menganalisis dan bertanya apa saja yang dibutuhkan untuk merawat kebun tersebut. Kemudian, kami belajar dasar-dasar bercocok tanam. Kami belajar memanen kangkung, bayam, timun suri, dan kami melihat sekilas cara bercocok tanam kacang panjang.

Setelah berkunjung, kami membantu memperluas pemasaran penjualan hasil panen dari Pak Rimat secara online. Pentingnya petani merambah dunia digital atau melek digital literasi.

Sejak pandemi Covid-19 ini telah mengubah pola perilaku masyarakat dalam aktivitas jual-beli. Masyarakat yang biasa melakukan transaksi perdagangan secara langsung atau tatap muka (face to face) kini beralih secara melalui e-commerce. Termasuk bagi para petani karena transaksi melalui e-commerce dinilai lebih mudah dan juga efektif untuk dikelola.

Kedua, kami membuka platform online shop  melalui e-commerce dan memanfaatkan media sosial via grup komplek WhatsApp.

Ketiga, kami mengajarkan Pak Rimat langkah-langkah dalam memasarkan produk hasil panen melalui platform online.

Saat kami wawancara dengan istri Pak Rimat di kediamannya.

Jika ada yang bertanya, apa suka duka menjalani program ini? Kami sangat senang setelah proses pendamping Pak Rimat sekeluarga bisa go digital. Ini memberikan sukacita karena bisa melihat pak Rimat merambah pemasaran produk pertanian yang lebih luas.

Selain itu, kami juga mendapatkan pelajaran berharga baik itu ilmu pengetahuan maupun moral. Meskipun  kami merasa belum bisa mencurahkan yang terbaik dalam menjalani program ini serta kami belum bisa menemukan solusi terhadap berbagai tantangan Pak Rimat dalam menghadapi jika kebun terkena banjir.

Dengan dilaksanakannya program ini, kami berharap dapat meningkatkan pendapatan keluarga Pak Rimat agar dapat mengembangkan usahanya serta dapat memudahkan untuk berjualan agar tidak lagi berkeliling, melainkan dapat secara mudah mengelola pesanan dari mana saja. (*)

Naskah artikel ini ditulis oleh Tim Mahasiswa UKRIDA yang beranggotakan: Nicolas Vieri, Adventia Aiwa Putriutami, dan Ribka Georgina Angelitha.    

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *