Peneliti UPER Olah Limbah Pelepah Sawit Jadi Material Pendeteksi Mikroplastik

Dr. Nonni Soraya Sambudi dalam Workshop Kedaireka bersama Pertamina RTI (2025). Foto: Istimewa
Share

Jakarta, ArmadaBerita.Com – Limbah pelepah sawit berpotensi memiliki nilai tambah sebagai bahan untuk mengembangkan teknologi pendeteksi mikroplastik. Peneliti Universitas Pertamina (UPER) bersama sejumlah mitra riset memanfaatkan limbah tersebut untuk menghasilkan carbon quantum dots (CQDs), nanomaterial yang dapat memancarkan cahaya dan berpotensi membantu mendeteksi pencemaran mikroplastik di lingkungan perairan.

Penelitian yang dipimpin Dosen Program Studi Teknik Kimia UPER, Dr. Nonni Soraya Sambudi, melibatkan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Indonesia, Universiti Teknologi Malaysia, dan Universiti Teknologi PETRONAS. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam International Journal of Technology pada Januari 2025.

“Pelepah sawit dapat diolah menjadi partikel karbon sangat kecil yang disebut Carbon Quantum Dots atau CQDs. Partikel ini dapat memancarkan cahaya ketika disinari. Setelah mikroplastik ditambahkan ke dalam larutannya, cahaya tersebut bisa menjadi lebih terang atau lebih redup,” ungkap Nonni, Minggu (11/10/2026).

Dalam penelitian tersebut, tim memanfaatkan lignin, salah satu komponen penyusun pelepah sawit, sebagai sumber karbon. Pelepah dikeringkan, digiling, dan diolah menjadi arang sebelum diproses menjadi CQDs pada suhu 180°C, 190°C, dan 200°C.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengolahan pada suhu 200°C menghasilkan pancaran cahaya paling kuat, dengan ukuran partikel rata-rata sekitar 4,05 nanometer.

Tim juga menguji respons material terhadap mikroplastik jenis polietilena (PE) dan polietilena tereftalat (PET), yang umum digunakan dalam produk plastik, termasuk kantong plastik dan botol minuman. Mikroplastik ditambahkan ke larutan CQDs untuk mengamati perubahan intensitas cahaya setelah disinari.

“Kami mempelajari perubahan ini untuk mengetahui apakah CQDs dapat membantu mendeteksi mikroplastik, sekaligus memberi nilai tambah pada limbah pelepah sawit,” jelas Nonni.

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang dapat mencemari sungai, danau, dan laut. Partikel ini dapat tertelan organisme perairan dan masuk ke rantai makanan. Karena itu, pengembangan material untuk membantu mendeteksi keberadaannya menjadi salah satu upaya mendukung pemantauan pencemaran lingkungan.

Meski membuka peluang baru dalam pemanfaatan limbah pertanian, teknologi CQDs tersebut masih memerlukan pengembangan lebih lanjut agar dapat menghasilkan deteksi yang konsisten sebelum diterapkan di lingkungan.

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Ichsan Setya Putra, mengatakan penelitian tersebut sejalan dengan komitmen kampus dalam mengembangkan teknologi yang menjawab persoalan lingkungan sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

“UPER terus mendorong riset yang tidak berhenti pada pengembangan pengetahuan, tetapi juga memiliki potensi untuk memberikan solusi nyata bagi lingkungan dan kebutuhan teknologi di masa depan,” ujar Ichsan. (*/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *