Armadaberita.com | MEDAN – Pasar jamu dan herbal Indonesia kini diperkirakan bernilai lebih dari Rp20 triliun per tahun, dengan tren pertumbuhan 6–7 persen, terutama didorong meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat. Namun, banyak pelaku UMKM herbal masih kesulitan menembus pasar yang lebih luas karena keterbatasan umur simpan produk.
Melihat peluang sekaligus tantangan ini, tim dosen Universitas Negeri Medan (Unimed) melakukan pendampingan terhadap UMKM Ngejamu di Medan melalui inovasi diversifikasi produk dari jamu cair menjadi jamu serbuk instan.
Kegiatan yang digelar 27 Juli 2025 ini menjadi bagian dari program pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal, dipimpin oleh Tim Dosen yang dipimpin Dinda Kartika, M.Si dan Ketua Tim PKM Sisti Nadia Amalia, M.Stat, dengan dukungan penuh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unimed.
“Inovasi menjadi kunci bagi UMKM untuk bertahan dan berkembang di pasar yang semakin kompetitif. Dengan jamu serbuk, umur simpan bisa mencapai 6–12 bulan, sehingga distribusinya lebih luas, bahkan berpotensi ekspor,” kata Sisti.
Pelatihan ini membekali peserta dengan teknik pengolahan bahan herbal seperti jahe, kunyit, dan temulawak menjadi jamu serbuk, penggunaan food dryer, hingga pengemasan higienis dalam sachet. Narasumber utama Latifah Rahman Nurfazriah, M.Kes, mengatakan bentuk serbuk tidak mengurangi khasiat, tetapi justru menjaga kualitas dan memudahkan penyimpanan.
Selain ilmu, tim Unimed juga menyerahkan bantuan berupa satu unit food dryer, buku panduan produksi, dan desain label siap pakai. “Selama ini kami terbatas memproduksi jamu cair yang hanya tahan beberapa hari. Dengan bentuk serbuk, kami bisa kirim ke luar daerah tanpa khawatir basi,” ungkap Putra, pengelola UMKM Ngejamu.
Menurut data Kementerian Perdagangan, lebih dari 48 persen masyarakat Indonesia rutin mengonsumsi jamu atau herbal, sementara permintaan produk herbal kemasan praktis terus meningkat di pasar modern. Hal ini membuka peluang besar bagi pelaku UMKM untuk naik kelas.
Ke depan, tim Unimed akan melakukan uji laboratorium, analisis mutu, dan uji rasa untuk memastikan standar produk siap masuk pasar ritel. “Kami ingin UMKM lokal bisa bersaing dengan merek besar, tapi tetap mengedepankan identitas lokal,” pungkas Sisti.
Melalui inovasi ini, Unimed berharap inovasi jamu serbuk menjadi pintu masuk bagi UMKM herbal tradisional untuk berkembang, memperluas pasar, dan berkontribusi pada ekonomi lokal di tengah tren global gaya hidup sehat. (*)











