Medan, ArmadaBerita.Com – Muhammad Fadhil Thoib Hutagalung alias Fadel, mantan calon Wali Kota Sibolga, kembali menuntut kepastian hukum atas rangkaian dugaan teror yang menyasar dirinya. Setelah mobilnya diduga dibakar pada 2023 dan kembali menjadi sasaran pelemparan batu pada 2026, Fadel mengaku belum memperoleh kejelasan penyelesaian perkara dari Polrestabes Medan.
Keluhan tersebut mencuat setelah belasan pemuda menggelar demonstrasi di depan Mapolrestabes Medan, Jalan HM Said, Kecamatan Medan Timur, Senin (12/10/2026). Massa mendesak Kapolrestabes Medan Kombes Pol Calvijn Simanjuntak dan Kasat Reskrim dicopot serta meminta kasus yang menimpa Fadel segera dituntaskan.
Saat dihubungi melalui WhatsApp pada Senin petang, Fadel mengatakan laporan terbaru masih dalam tahap pemeriksaan saksi. Sementara itu, ia mengaku belum mendapat kabar mengenai perkembangan laporan dugaan pembakaran mobil pada 2023.
“Laporan sampai saat ini masih berjalan di tahap pemeriksaan saksi. Laporan sudah satu bulan untuk yang terbaru. Kalau laporan yang tahun 2023 sampai sekarang enggak ada kabar,” keluh Fadel.
Bagi Fadel, persoalan ini bukan sekadar kerusakan kendaraan. Ia mengaku khawatir kejadian serupa kembali berulang dan mengancam keselamatan keluarganya. Karena itu, ia meminta polisi tidak berhenti pada pemeriksaan saksi, tetapi juga mengungkap siapa pelaku dan apa motif di balik kejadian tersebut.
“Tolong, Pak Polisi, saya masih percaya sama Bapak. Mohon, ini sudah kejadian yang kedua kalinya, jangan sampai ada korban di keluarga saya maupun orang lain. Saya yakin Polri bisa bekerja,” ujarnya.
Dugaan teror terbaru terjadi pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 03.25 WIB. Kaca depan mobil Fadel yang terparkir di rumahnya di Jalan Merpati, Medan Sunggal, pecah setelah diduga dilempari batu.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV), sejumlah orang yang diduga terlibat datang menggunakan dua sepeda motor. Mereka disebut mengenakan helm, jaket, dan penutup wajah. Saat kejadian, Fadel sedang berada di luar kota, sedangkan istri, anak, dan anggota keluarganya berada di rumah.
Sebelumnya, pada 30 Juli 2026, rumah Fadel juga dilaporkan menjadi sasaran pelemparan batu. Jauh sebelum itu, pada Oktober 2023, mobil yang sama diduga dibakar orang tak dikenal di rumahnya di kawasan Medan Helvetia.
Rentetan kejadian tersebut membuat Fadel mempertanyakan motif di balik serangan yang dialaminya. Namun, ia mengaku belum mengetahui siapa pelaku maupun alasan dirinya kembali menjadi sasaran.
“Saya enggak tahu motifnya ini masih politik atau gimana, saya juga kurang tahu. Padahal, saya juga kan sudah kalah,” katanya dalam keterangannya sebelumnya.
Kasus pelemparan terbaru telah dilaporkan ke Polrestabes Medan dengan nomor STTLP/B/3922/IX/2026/SPKT/Polrestabes Medan. Hingga Senin (12/10/2026), menurut Fadel, penanganan laporan tersebut masih berada pada tahap pemeriksaan saksi.
Tuntutan penyelesaian perkara itu turut dibawa para pendemo ke Mapolrestabes Medan. Namun, mereka mengaku tidak sempat menyampaikan aspirasi secara terbuka karena diminta mundur oleh personel kepolisian. Situasi kemudian memanas dan diwarnai aksi saling dorong sebelum massa meninggalkan lokasi.
Dalam aksi tersebut, pimpinan massa mempertanyakan sikap aparat yang dinilai menghalangi penyampaian aspirasi. Mereka menyatakan akan meneruskan persoalan itu kepada Kapolda Sumatera Utara dan Kapolri.
Sementara itu, Kapolrestabes Medan Kombes Pol Calvijn Simanjuntak belum memberikan tanggapan ketika dikonfirmasi mengenai tuntutan pencopotan dirinya maupun penanganan kasus yang menjadi dasar demonstrasi tersebut.
Belum ada keterangan resmi yang menjelaskan identitas pelaku, motif penyerangan, maupun perkembangan lebih lanjut penyelidikan atas rangkaian kejadian yang dilaporkan Fadel. Dugaan keterkaitan dengan persoalan politik juga belum terbukti.
Fadel berharap kepolisian segera memberikan kepastian penanganan perkara. Ia mengaku masih percaya kepada Polri dan berharap rangkaian kejadian yang menimpa dirinya dapat diungkap secara tuntas sebelum menimbulkan korban.











