MEDAN, ARMADABERITA – Anggota MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, mengajak mahasiswa di Kota Medan tidak berhenti pada pemahaman Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pengetahuan kebangsaan.
Ia mendorong mahasiswa menghidupkan nilai-nilai tersebut melalui sikap dan tindakan sehari-hari, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Pesan itu disampaikan Sofyan Tan saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di Aula Bung Karno, Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), Kecamatan Medan Sunggal, Medan, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Medan.
Menurut Sofyan Tan, nilai-nilai Pancasila sebenarnya dekat dengan kehidupan mahasiswa. Menghargai perbedaan, membantu teman yang mengalami kesulitan, menyelesaikan persoalan melalui musyawarah, hingga bergotong royong merupakan bentuk sederhana pengamalan Pancasila.
“Pancasila jangan hanya dihafalkan sila-silanya. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai itu hadir dalam perilaku kita sehari-hari,” kata Sofyan Tan, legislator dari Daerah Pemilihan Sumatera Utara I.
Ia juga mengingatkan bahwa UUD NRI Tahun 1945 tidak semata berkaitan dengan ketatanegaraan. Konstitusi juga bersinggungan dengan kehidupan masyarakat, termasuk hak memperoleh pendidikan, pekerjaan, perlindungan, serta kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, mahasiswa sebagai kelompok terdidik dinilai perlu memahami hak sekaligus menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara.
Jadikan Perbedaan sebagai Kekuatan
Sofyan Tan meminta mahasiswa tidak menjadikan perbedaan suku, agama, daerah maupun perguruan tinggi sebagai alasan untuk saling menjauh. Keberagaman, menurut dia, dapat menjadi ruang untuk membangun solidaritas dan belajar bersama.
Ia juga mendorong mahasiswa yang tergabung dalam Pamas dr. Sofyan Tan menjadikan organisasi sebagai ruang pengembangan diri, bukan sekadar tempat berkumpul.
“Kalau ada teman yang kesulitan, jangan ditinggalkan. Kalau ada yang punya kemampuan lebih, bantu yang membutuhkan. Inilah bentuk sederhana gotong royong yang menjadi kekuatan bangsa kita,” ujarnya.
Selain nilai kebangsaan, Sofyan Tan menyoroti kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja. Ia mengingatkan bahwa setelah menyelesaikan pendidikan, mahasiswa akan menghadapi tantangan yang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik.
Menurutnya, mahasiswa perlu mulai membangun kemampuan komunikasi, kerja sama, kepemimpinan, integritas, dan kemampuan beradaptasi.
“Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang pintar secara akademik. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu bekerja sama, punya integritas, mau belajar dan mampu menghadapi perubahan,” katanya.
Ia juga meminta mahasiswa tidak takut memulai perjalanan dari bawah. Pengalaman, proses dan ketekunan, kata Sofyan Tan, menjadi bagian dari perjalanan untuk mencapai keberhasilan.
Pamas dr. Sofyan Tan diharapkan dapat menjadi wadah yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk berbagi pengalaman, memperluas jejaring, sekaligus membangun kepedulian sosial.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga berdialog dengan Sofyan Tan mengenai pendidikan, kehidupan sosial, tantangan generasi muda, serta persiapan menghadapi dunia kerja.
Sofyan Tan menegaskan, pemahaman terhadap Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika perlu diwujudkan melalui praktik nyata dalam kehidupan.
“Mahasiswa adalah bagian penting dari masa depan Indonesia. Karena itu, jangan hanya menjadi generasi yang pintar, tetapi jadilah generasi yang peduli, mampu bekerja bersama, menghargai perbedaan, dan mau memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.











