ArmadaBerita.Com – Tema kali ini adalah “Mengembangkan pemahaman wellbeing’s student bagi kepala sekolah dan guru binaan”. Webinar menggunakan aplikasi Zoom Meeting dan Live Streaming Youtube P3GTK Kemdikbud, pada Selasa (21/7).
Adapun pembicara pada Webinar tersebut adalah Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd. (Guru Besar Unimed), Dina Martha Tiraswati, M.Pd. (Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Prov. Jabar), Welling Han, M.Sc. (Konsultan Pendidikan Bidang Pembelajaran Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan) dan dimoderatori oleh Jatnika Hermawan, S.Si., M.Si. (Direktorat Pendidikan Profesi dan Pembinaan Guru dan Tenaga Kependidikan).
Acara ini diikuti oleh ribuan peserta dari seluruh Indonesia, yang terdiri dari guru, pengawas, kepala sekolah, tenaga kependidikan, kalangan praktisi pendidikan dan akademisi.
Pada paparannya, Prof. Syawal Gultom, menyampaikan mengembangkan pemahaman Wellbeing’s Student bagi kepala sekolah dan guru binaan dengan memperhatikan kesiapan dan kebutuhan peserta didik serta kelayakan materi, proses, dan penilaian pembelajaran. Seperti aspek psikologi meliputi kesiapan fisik, emosional, intelektual dan spiritual.
Kemudian aspek paedagogi meliputi kelayakan materi, proses dan penilaian, dan yang terakhir adalah aspek Sosio-eko-kultural yang meliputi kebutuhan individu, masyarakat, bangsa, negara dunia dan juga peradaban. Sehingga menciptakan pribadi beriman, bertakwa dan berakhlak mulia dengan kualitas pembelajaran tingkat tinggi dan pendidikan karaktek yang kuat diantaranya menjadi pembelajar yang sukses, individu yang percaya diri, warga negara yang bertanggung jawab dan menjadi kontributor peradaban yang efektif.
Karena itu, menurut Syawal, dibutuhkan instructional leadership yang dimulai dengan pemahaman yang utuh tentang konteks kekinian pendidikan Indonesia dan negara lain, konteks dan perspektif pengembangan profesi guru, konteks kekinian suasana pembelajaran di sekolah dan yang terakhir adalah memahami konteks kekinian kompetensi lulusan.
Lebih jaub Syawal mengatakan, pendidikan dalam jangka panjang adalah faktor tunggal paling menentukan melebarnya jurang kesenjangan. Karena itu invetasi dalam bidang pendidikan adalah cara logis untuk menghilangkan kesejangan dan kemiskinan di masyarakat.
Pergeseran paradigma pembangunan dekade 2020 dan seterusnya meliputi kekakayaan peradaban diantaranya pembangunan kesejahteraan berbasis peradaban, peradaban sebagai modal pembangunan, SDM beradab sebagai modal pembangunan, pendidikan sebagai creator/disiminator. Adapun modal pembangunan kesejahteraan berbasis peradaban diantaranya modal individu, modal sosial-budaya, modal sistem pemerintahan, modal pengentahuan/keterampilan, maka akan terwujud melalui keutuhan dalam pembangunan kesejahteraan.
“Sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alam dan potensi yang begitu besar, Indonesia seharusnya sudah menjadi negara yang maju dan makmur. Nyatanya masih tinggi angka kemiskinan di Indonesia, yaitu diangka 24,74 juta. Ada yang salah dengan kondisi ini, bagaimana kita bicara pendidikan Indonesia, kita bicara kualitas manusia, atau bicara target generasi emas di 2045. Bukankah ini paradoks dengan potensi alam Indonesia, tetapi tidak bisa manfaatkan dan mensejahterakan?”
Untuk itu guru, menurut Syawal Gultom, guru harus kreatif dan inovatif minimal menguasai empat hal konteks kekinian pendidikan Indonesia diantaranya konteks dan perspektif pengembangan profesi guru, konteks kekinian suasana belajar di sekolah, konteks kekinian kompetensi lulusan untuk semua jenis dan jenjang dan jalur pendidikan Indonesia.
“Di masa pandemi saat ini, tidak semua pembelajaran dapat diajarkan melalui daring. Harus ada peran guru dan orang tua dalam membimbing dan mengajarkan secara langsung. Kompetensi guru yang professional,” jelasnya. (Nst)











